“Woi, woi! Santai, Bro! Tangan gua mau copot nih!” protes Rian kencang, terhuyung-huyung terseret langkah lebar Jaka menjauhi restoran. Jaka melepaskan cengkeramannya sambil terengah-engah, merapikan bajunya dengan tangan gemetar.
Rian mengerjap-ngerjapkan mata, menatap Jaka dengan dahi berkerut bingung. “Sebentar, sebentar… ada apa sih, Jak? Kenapa gua ditarik keluar? Bukannya tadi gua cuma nyapa lu aja?”
Jaka menarik napas dalam-dalam, lalu memasang wajah paling melankolis dan paling menderita di dunia. Ia menatap Rian perlahan. “Rian… lu orang baik, makanya gua bakal jujur. Pertemuan di dalam tadi bukan pertemuan biasa… itu adalah sidang perpisahan terakhir gua sama Gadis.”
Mata Rian membelalak lebar. “Hah?! Perpisahan?!”
“Iya, an!” bisik Jaka. “Hubungan kami ditentang habis-habisan sama keluarga besar karena beda suku! Gua Jawa garis keras, Gadis Sunda tulen. Keluarga kita menganut prinsip jadul, pantang hukumnya nikah beda suku! Hari ini nyokap gua sengaja ngajak ketemu Ibu Gadis buat memaksa kita putus!”
Di luar dugaan, Rian langsung tertegun, Wajahnya terlihat sangat iba. Pria itu merangkul pundak Jaka. “Ya ampun, Jak… kisah cinta kalian tragis banget, kayak Romeo and Juliet versi kearifan lokal… Tenang, Bro! Gua bakal tutup rapat rahasia ini!”
Melihat Rian begitu mudah dikelabui, Jaka langsung menyambung siasat berikutnya agar Rian tidak keceplosan lagi di depan umum. “Nah, makanya itu, Yan… Kalau lu nanti masuk lagi atau ketemu nyokap gua, tolong maklum ya kalau suasananya agak nggak enak?”
Rian manggut-manggut prihatin. “Oh… iya ya, Jak. Aman itu gue bakal jaga sikap…”
Kembali ke dalam restoran, suasana terasa sangat sunyi. Bude dan Ibu Jaka menatap Gadis dengan tatapan menyelidik.
“Gadis. Jelaskan ke Bude sekarang juga,” suara Bude dingin. “Siapa anak muda yang baru saja masuk dan berteriak soal pacaran tadi? Dan kenapa Jaka sampai harus menyeretnya keluar seperti buronan?”
Gadis menelan ludahnya susah payah. Otaknya berputar seribu kali merangkai alasan paling masuk akal untuk menyelamatkan nyawa mereka dari interogasi maut ini.
Gadis menghela napas, lalu memasang ekspresi wajah paling iba, prihatin, dan sedih yang ia miliki. Ia mencondongkan tubuhnya ke meja, menatap Bude dan Ibu Jaka secara bergantian dengan suara yang bergetar pelan.
“Duh… Bude… Bu… sebenarnya Gadis ga enak harus bongkar rahasia orang lain…” kata Gadis dengan nada lirih yang sangat meyakinkan. “Karena kita nggak enak bocorin aib orang.”