“Nggak bisa, Jaka. Kalau kita cuma ngandelin GPS dari HP Bimo doang, info yang kita dapat nggak bisa fair,” bisik Gadis lewat telepon , waktu menunjukkan pukul 12 lewat. Suaranya dibuat sekecil mungkin agar tidak membangunkan orang-orang di rumahnya. “Kita baru tahu kalau Bimo sering mampir ke toko atau pulang bareng wanita itu, tapi kita juga butuh lebih banyak bukti dari Tantri. Kita harus tahu persis sepupu gue itu pergi ke mana sama Baskara.”
Di seberang, suara Jaka terdengar menguap sebelum akhirnya ia menjawab dengan nada malas-malasan, “Iya sih, Ratu Ngomel. Logika detektif lo juga bener. Tapi masalahnya, bagaimana cara kita menembus benteng pertahanan Nyonya Tantri itu? Mau ngetuk pintu rumahnya sambil bawa spanduk tulisan, ‘Tolong jujur sama suami lo,’ gitu?”
“Yee, dibilangin malah ngelawak!” protes Gadis sebal. “Tenang aja, otak encer gue udah nyiapin rencana. Besok siang, gue bakal datang langsung ke rumah mereka.”
“Hah? Sendirian?”
“Enggaklah! Gue bakal bawa senjata rahasia paling ampuh di keluarga besar: adik gue sendiri, si Dara,” lanjut Gadis penuh percaya diri. “Dengan alasan ngajak Dara main ke rumah Tantri, bilang aja kangen dan mau belajar bisnis, nggak bakal dia curiga sedikit pun.”
“Ah, yakin lo? Gue takut rencana lo gagal nih, tahu sendiri lo orangnya ngomel melulu,” ujar Jaka ngakak, seketika kantuknya hilang.
“Ehhh, enak aja! Liat aja besok ya!” ujar Gadis yakin.
---
Dan benar saja. Keesokan harinya, matahari siang bersinar terik ketika Gadis dan Dara benar-benar sudah berdiri di depan pintu rumah Bimo dan Tantri.
Begitu pintu terbuka, Tantri menyambut mereka dengan senyuman ramah khas selebgram yang selalu siap di depan kamera, meski garis halus di bawah matanya menyiratkan kelelahan yang disembunyikan rapi di balik pulasan makeup tipis. Bimo tidak terlihat di rumah itu. Tampaknya dia pergi ke kantor bahkan di akhir pekan seperti sekarang.
“Eh, Gadis! Dara! Kangen banget sama sepupu-sepupu tersayang gue ini... Tumben banget nih mampir. Masuk-masuk, yuk!” sapa Tantri hangat, membukakan pintu lebar-lebar.
Di dalam rumah, suasana tampak rapi, tetapi terasa agak sepi. Dara langsung sibuk mengikuti Tantri ke meja makan yang dipenuhi jajanan kesukaannya, sementara Gadis segera memasang mode undercover. Sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan rumah Tantri, Gadis tahu ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan emas ini.