Sudah dua minggu sejak mereka menjadi tim pengintai bagi Bimo dan Tantri. Hubungan Gadis dan Jaka kini bukan lagi sekadar “terpaksa” memenuhi tuntutan bude dan ibu Jaka. Kini, kebiasaan kecil yang tumbuh perlahan membuat hubungan mereka semakin dekat.
Kebiasaan itu adalah melakukan hal yang sama setiap malam untuk melaporkan perkembangan atau menyusun rencana baru.
Awalnya, panggilan video itu benar-benar hanya soal Bimo dan Tantri. Mereka akan memeriksa data GPS pergerakan Bimo dari aplikasi atau membahas foto-foto baru Tantri di media sosial. Lama-lama, obrolan serius itu sering melebar. Topik yang tadinya soal urusan rumah tangga orang lain bisa jadi debat soal film horor, kopi favorit, sampai curhat soal kantor.
Sampai akhirnya, panggilan itu tidak membutuhkan banyak kata lagi.
Sering, setelah mereka selesai berdebat lama, layar ponsel masih menyala . Jaka sibuk merapikan apartemen atau menonton ulasan kuliner di tv. Gadis melanjutkan mengetik pekerjaan kantornya di rumah. Tidak ada yang menutup panggilan. Mereka membiarkan telepon tetap menyala; suara napas yang tenang, gesekan kertas, atau ketukan keyboard menjadi latar belakang malam yang sepi.
Bagi Gadis, suasana ini terasa sangat aneh, tetapi juga menenangkan. Ia masih keras kepala dan enggan mengakui bahwa ia mulai menikmati kehadiran pria tengil itu. Namun, telinganya sudah terbiasa mendengar suara serak Jaka setiap kali pria itu menguap. Ritme monoton itu, tanpa ia sadari, menjadi pengantar tidur yang paling manjur.
"Ini gila," pikir Gadis. Ia sering menyalahkan dirinya sendiri saat melihat layar ponsel yang menampilkan wajah Jaka yang mengantuk. "Sekarang gue malah ketagihan dengar suara orang tengil yang dulu gue mau tendang ke sungai."
Sampai malam itu datang. Gadis benar-benar lelah karena pekerjaan kantor dan lembur yang sudah ia jalani selama beberapa hari.
Pukul dua belas malam, kamar tidur Gadis sudah gelap. Ia berbaring tengkurap di kasurnya, memegang ponsel dengan tangan yang terasa berat. Video call dengan Jaka masih tersambung, walaupun layar mereka sudah digelapkan karena mereka bersiap tidur. Di seberang telepon, napas Jaka mulai teratur, menandakan pria itu sudah tertidur lebih dulu.
Gadis ingin menutup panggilan, tapi kepalanya terasa lelah sehingga ia enggan bergerak. Jari-jarinya yang setengah sadar malah membuka aplikasi pesan. Ia ingin mengirim pesan panjang berisi keluh kesah kepada sahabat karibnya, Naya, yang sedang menempuh studi S-2 di Melbourne, Australia, dengan zona waktu yang beberapa jam lebih cepat daripada di tempat Gadis.
Karena terlalu mengantuk untuk mengetik paragraf panjang dengan jari-jarinya yang lemas, Gadis memilih cara yang lebih praktis. Ia menekan tombol mikrofon dan merekam voice note.
Suara Gadis serak karena lelah dan matanya sudah lengket. Ia mulai menuangkan perasaannya dengan pelan
“Nay…” bisik Gadis ke mikrofon ponselnya. “Hari ini gue capek banget. Bos di kantor nyebelin banget. Kerjaan numpuk . Tapi itu bukan yang bikin gue stres…”