IPAR TO IPAR

Matryoshka86
Chapter #19

Bab 19

Matahari pagi belum sepenuhnya meninggi ketika ponsel Gadis di atas meja kerjanya bergetar. Sebuah pesan singkat bertuliskan;




GUE DI TOKO BIMO. DARAH GUE NAEK.




Gadis yang sedang mengetik seketika menghentikan ketikannya. Jantungnya berdegup kencang. Ia buru-buru mengetik balasan kilat, "Maksudnya apa? Bimo ketahuan ngapain lagi? Jangan bikin penasaran, cepet telepon!"Tak sampai tiga puluh detik, ponsel Gadis berdering.




“Halo, Jaka?! Ada apa? Jangan bilang kalau lo—”




"Gue lagi di toko Bimo sekarang." Suara Jaka memotong cepat dari seberang. Nada bicaranya terdengar dingin tapi menyiratkan amarah. "Dan teori kita soal Bimo yang ada hubungan sama karyawannya, itu bukan cuma asumsi kita lagi, Gadis. Itu fakta.




"Gadis mengerutkan dahi. “Maksud lo? Jelasin pelan-pelan, jangan bikin gue takut.”




Dua hari sebelumnya, Jaka sudah menyusun strateginya sendiri. Ia sadar bahwa memantau lewat GPS atau mengintip dari luar toko seperti sebelumnya tidak akan menghasilkan bukti. Ia memanfaatkan posisinya sebagai adik pemilik toko, keuntungan sosiologis yang tak bisa dibeli siapa pun. Karyawan lain pasti menganggap kehadirannya wajar.




Namun, Jaka tidak datang sebagai adik yang ingin menyapa kakaknya. Ia justru memilih mengajak ngobrol para karyawan yang paling tahu semua gosip tersembunyi.




Siang itu, dengan alasan tidak sengaja mampir dan karena shift kerja libur, Jaka membawakan pizza dan minuman, lalu masuk ke area gudang toko. Toko masih sepi, Bimo belum tampak batang hidungnya.




"Eh, Mas Jaka datang!" seru Adit, salah satu karyawan, sambil melirik jam dinding. "Wah, pagi-pagi udah bawa sarapan, Mas?"




Jaka nyengir, "Iya dong, kalian kan pasukan lapangan. Biar semangat dikit, gue bawain pizza sama kopi!" Jaka meletakkan bungkusan di atas meja.




"Wah, mantap, Mas! Biasanya juga jarang ke sini sepagi ini," timpal Rina, staf kasir. "Ada angin apa, Mas? Lagi bosan di apartemen ya, apa kangen sama Pak Bimo?"




Jaka tergelak. "Yaelah, lebay lu, Mbak. Biasa, cari suasana baru. Lagian, cuma mampir doang, siapa tahu dapat gosip underground?"




Pak Darto, kepala toko, menimpali sambil mengambil satu minuman yang dibawa Jaka, "Drama mah pasti ada, Mas. Tapi nggak penting kok dibanding melemahnya rupiah yang kalah sama dolar."




"Ya ampun, Pak Darto. Jangan serius-serius amat dong, entar cepet tua, eh salah, udah tua ya?" canda Jaka, membuat yang lain tertawa.Mereka menikmati makanan sambil bercanda. Jaka sengaja mengajak mereka membicarakan hal-hal ringan mulai dari serial TV, meme viral, sampai berita bola.




Kadang ia menyelipkan humor, "Eh, jangan-jangan di toko ini ada mafia ya, kayak di film-film itu. Siapa tahu, yang paling suka ngumpet-ngumpet, justru yang paling banyak rahasia!"


Lihat selengkapnya