IPAR TO IPAR

Matryoshka86
Chapter #20

Bab 20

Jaka tertegun. Seketika wajahnya kaget. Walau selama ini ia sudah pernah mengintai gadis itu secara langsung, gestur Bimo dan wanita bernama Maya itu tetap saja membuat jantungnya berdegup lebih kencang saat mendengar pengakuan langsung dari saksi.


Dengan perlahan, Jaka bertanya, “Jadi… Mbak benar-benar yakin, Pak Bimo dan Maya…?”


Rasti mengangguk, matanya menunduk penuh beban. "Iya, Mas. Saya berani bilang... Pak Bimo sama Maya memang ada hubungan. Saya lihat sendiri tanda-tandanya. Saya benar-benar nggak tahan lagi... semuanya makin parah sejak Maya dinaikkan jadi asisten."


Jaka mengernyit. "Maksudnya, makin parah gimana, Mbak?"


Rasti menghela napas berat. "Awalnya saya pikir Pak Bimo cuma kasihan, soalnya Maya itu kan janda, anaknya masih kecil. Tapi lama-lama, saya jadi curiga. Hampir tiap hari mereka pulang bareng. Maya sering lembur, tapi nggak pernah ngerjain apa-apa di depan kami. Selalu ada alasan buat ketemu Pak Bimo di ruangannya, kadang sampai malam."


Jaka menatap Rasti lekat-lekat. "Mbak, kamu yakin? Pernah lihat sendiri?"


Rasti mengangguk, suara makin lirih. "Saya sempat iseng cek log absen, Mas. Nama Maya sama Pak Bimo sering banget tercatat pulang paling akhir. Bahkan kadang-kadang, mereka keluar bareng."


Jaka mengernyit, penasaran. "Kamu pernah lihat mereka keluar bareng?"


"Pernah, Mas. Waktu itu saya mau ambil motor. Mereka ketawa-tawa di parkiran, padahal toko udah gelap." Rasti menggigit bibirnya, menahan rasa tidak nyaman.


Jaka menarik napas dalam. "Mbak, ini serius. Ada lagi yang kamu tahu?"


Jaka mendengarkan dengan seksama, tak memotong sedikit pun. Ia tahu, saat-saat seperti inilah kebenaran paling pahit biasanya mengalir.


Rasti menunduk, ragu-ragu, lalu berbisik pelan, "Mas... saya pernah lihat sendiri, waktu saya pulang agak malam, Pak Bimo nyuri-nyuri nyium pipi Maya di gudang. Maya malah balas nyubit lengan Pak Bimo sambil cekikikan. Mereka kira nggak ada yang lihat, tapi saya benar-benar lihat sendiri waktu itu. Sejak hari itu, saya yakin hubungan mereka bukan cuma atasan dan bawahan."


Jaka terdiam menerima fakta ini. Kakak Bimo yang sudah menikah ternyata tidak jauh berbeda dengan iparnya, Tantri.


"Terus, Mas… saya juga beberapa kali lihat Maya dikasih fasilitas lebih. Dapat tunjangan transportasi, uang lembur nggak wajar. Barang-barang kayak tas atau sepatu sering dikirim ke toko atas nama Maya, tapi yang bayarin kayaknya bukan dia sendiri. Saya pernah lihat kuitansi, tulisan tangan Pak Bimo. Saya nggak berani nanya."


Lihat selengkapnya