Sore itu, langit kota terlihat mendung dan kelabu. Suasana di dalam mobil Jaka terasa berat dan tegang. Tenggat waktu satu bulan dari para ibu terus berjalan, mereka menunggu hasil nyata dari laporan penyelidikan. Gadis dan Jaka harus kembali duduk bersama di mobil untuk melakukan pengintaian malam itu, supaya misi mereka selesai dan keluarga besar tidak curiga.
Hari itu, mereka sedang mengintai Bimo, mengikuti info yang Jaka dapat dari Rasti. Menurut laporan itu, Bimo sering mengantar Maya, asistennya, pulang ke rumah Maya di sebuah gang perumahan sederhana. Gadis makin yakin Bimo berselingkuh. Ia merasa saat itu harus membuktikannya.
Jaka memarkir mobilnya di ujung gang, dekat rumah Maya. Mereka mengawasi dari jauh dan bergantian melihat siapa saja yang keluar masuk gang kecil itu. Kadang-kadang, Jaka mengatur posisi kaca spion supaya bisa mengintip tanpa menarik perhatian warga.
Jaka melirik ponselnya sejenak, lalu berkata pelan, “Tadi Rasti kabarin gue. Katanya Bimo hampir pasti ke sini malam ini, kayak kemarin-kemarin.”
Gadis tetap menatap ke luar jendela, tidak menoleh. “Oh.”
Jaka mencoba membuka percakapan lagi, “Dia bilang kadang Bimo bahkan nungguin Maya sampai masuk rumah.
Gadis hanya mengangguk kecil.
Jaka menghela napas, lalu menatap ke depan. “Ya udah, kita tunggu aja.”
Suasana kembali hening. Gadis tetap diam, fokus pada ponsel di tangannya, siap mengabadikan momen jika Bimo dan Maya muncul.
Suasana diam beberapa saat. Jaka mencoba lagi, kali ini suaranya lebih pelan. "Gue masih nggak percaya sama yang gue lihat kemarin."
Gadis itu hanya mengangguk pelan. Dia tidak berkata apa-apa lagi.