Pecahan vas bunga tersebar di lantai. Kilau pecahan itu memantulkan cahaya lampu ruangan yang menyala. Suasana tegang bercampur kemarahan memenuhi udara ruang tamu rumah Bimo dan Tantri.
Di sudut sofa yang lain, Bude, ibu Tantri, duduk bersandar. Wajahnya pucat, tubuhnya lemah. Air mata perlahan turun di pipinya yang keriput, tanpa suara. Di sampingnya, Bapak Tantri berdiri. Kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Napasnya berat. Ia berusaha menahan marah yang hampir tak tertahan saat menyaksikan rumah tangga putri satu-satunya hancur di depan matanya.
Di tengah ruangan yang berantakan, Bimo dan Tantri berdiri terengah-engah. Mereka saling memandang dengan marah, seperti dua musuh lama yang terjebak di tempat yang sama.
Jaka dan Gadis berdiri berdampingan beberapa langkah di belakang orang tua mereka. Keduanya memandang tajam ke Bimo dan Tantri, menahan rasa muak pada kepura-puraan dan sandiwara yang masih dijalani pasangan itu.
Di tengah suasana kacau itu, Gadis sebenarnya masih kesal pada Jaka. Ia belum bisa benar-benar memaafkan sikap Jaka sebelumnya. Namun, menyadari situasi keluarganya semakin panas dan genting, Gadis memilih menahan dulu rasa kesalnya. Ia fokus pada masalah besar di depan mata, meski hatinya kesal setiap kali melihat Jaka.
"Duduk kalian berdua!" Bapak Tantri tiba-tiba bersuara keras. Suaranya tegas dan membuat semua orang terkejut. "Duduk, jelaskan apa maksud kekacauan ini!"
Bimo dan Tantri akhirnya patuh pada perintah itu. Bimo duduk di salah satu sofa tunggal, ia membuang muka dan tidak mau menatap orang tua Tantri. Tantri duduk di ujung sofa panjang. Ia menghapus sisa air mata di pipinya dengan tangan, lalu hanya menatap lantai.
"Sekarang, mulai bicara," kata Bapak Tantri. Suaranya gemetar karena marah. "Siapa yang mau mulai duluan? Kenapa rumah tangga kalian jadi seperti medan perang, seperti orang kesurupan?!Kamu, Bimo, kamu adalah kepala keluarga di sini. Ada apa dengan kamu?!"
Bimo belum sempat bicara. Ibunya sudah lebih dulu bicara,
“Bapak Tantri, jangan memarahi Bimo di depan keluarga. Anak saya sudah berusaha keras mencari nafkah untuk rumah tangga ini. Kalau ada masalah, jangan saling menyalahkan. Rumah tangga itu tanggung jawab bersama, bukan hanya satu orang.” Ibu membela anaknya dengan suara bergetar karena menahan marah.
Bapak Tantri menatap Ibu Bimo dengan tajam.
"Jangan salahkan Tantri di depan saya, Bimo. Sejak kecil, dia selalu jujur dan saya tahu ia selalu berusaha menjaga rumah tangga kalian. Kalau ada masalah di rumah tangga, bukan cuma satu orang yang salah. Jangan asal menuduh sebelum kamu bisa melihat dirimu sendiri sebagai suami," kata Bapak Tantri sambil menatap Bimo tajam. Suaranya berat dan tegas saat ia membela putri satu-satunya.
Bimo menengadah dan menunjuk istrinya dengan jari telunjuk yang gemetar.
"Ini semua karena kamu, Tan! Kalau kamu tidak sibuk urus media sosial dan pamer kehidupan, rumah tangga kita tidak akan begini. Aku kerja keras, tapi kamu malah sibuk dengan teman-teman sosialitamu!" kata Bimo dengan marah.