Udara malam yang dingin masuk lewat pintu yang terbuka dan menusuk tulang orang yang duduk di situ.
Bude, ibunya Tantri, menunduk. Wajahnya yang keriput tampak makin tua. Ia kehilangan semangat hidup setelah melihat sendiri keburukan anaknya, yang jelas terbukti dari apa yang disampaikan Gadis dan Jaka. Di sebelahnya, Bapak Tantri menatap kosong ke depan. Napasnya berat. Harga dirinya sebagai kepala keluarga hancur.
Tak jauh dari situ, Ibu Jaka duduk lemas di kursi. Matanya bengkak karena ia terus menangis sejak tadi. Ia menatap Bimo, anak sulungnya, dengan kecewa yang tidak bisa ia ungkapkan.
Bimo dan Tantri duduk di dua sudut ruangan, saling berjauhan. Selama ini mereka selalu bersikap sombong, marah, dan merasa benar sendiri, tapi sekarang sikap itu hilang. Bukti-bukti yang ada membuat mereka tidak bisa membela diri, tidak bisa berbohong, dan sudah kehabisan tenaga untuk saling menyerang.
Waktu terasa begitu lambat. Suara detik jam di dinding dan isak tangis pelan kadang-kadang saja memecah sunyi.
Akhirnya, Tantri perlahan mengangkat kepalanya. Suaranya serak dan parau, hampir seperti bisikan angin yang lewat di padang pasir.
"Aku... mengaku," kata Tantri pelan. Suaranya memotong keheningan yang tegang.
Semua orang di ruangan itu langsung melihat ke arahnya. Tantri tidak berani menatap ibunya atau siapa saja. Ia hanya menatap lantai yang kotor dengan pandangan kosong.
“Semua bukti yang Jaka dan Gadis bawa memang benar,” kata Tantri. Air matanya jatuh lagi di pipinya yang pucat. “Memang aku berselingkuh. Aku tergoda kemewahan palsu dari Baskara. Aku terlena dengan dunia luar. Aku sudah mengkhianati pernikahan ini. Aku memang salah.”
Setelah mendengar pengakuan putrinya, Bude menutupi wajahnya dengan tangan. Ia menangis lagi dan suaranya terdengar pilu. “Ya Allah, Tantri, ke mana akal sehatmu, Nak? Ke mana harga dirimu,” bisik Bude.
Di seberang ruangan, Bimo perlahan mengangkat kepalanya. Rahangnya yang tadi tegang kini mengendur, membuat wajahnya tampak benar-benar kalah. Ia sempat melirik istrinya, lalu menatap lantai sambil tersenyum pahit.
"Kalau Tantri salah, aku juga tidak lebih baik," suara Bimo terdengar berat dan penuh penyesalan. Ia menatap ibunya lalu Jaka. "Apa yang Jaka katakan memang benar. Aku juga selingkuh. Aku mencari pelarian di luar, mencari kenyamanan dari orang lain saat rumah tangga kami mulai retak. Aku suami yang gagal."
Pengakuan jujur dari kedua pihak itu membuat pertahanan terakhir keluarga besar mereka runtuh. Tidak ada teriakan histeris. Yang tersisa hanya kenyataan pahit. Pernikahan yang dulu mereka bangun dengan janji suci sudah lama rapuh dari dalam, dimakan oleh kebohongan dan ego masing-masing.
Bapak Tantri menarik napas panjang. Suaranya gemetar saat ia akhirnya berbicara. “Kalian berdua tahu apa yang sudah kalian lakukan? Kalian tidak hanya merusak diri sendiri, tapi juga membuat keluarga besar malu.”
Bimo dan Tantri menunduk. Mereka tidak bisa membela diri.