Blurb
Sukses dan bahagia tidak pernah terdefinisi. Manusia punya cara sendiri untuk menggambarkan sukses sekaligus bahagia mereka. Hanya Sabit yang belum. Ia tidak tahu lagi, apa yang diri inginkan, bahagia seperti apa yang dimau, sukses bagaimana yang mesti diraih. Seringnya Sabit sampai rumah dengan keraguan atas apa yang sudah dikerjakan, minim kepuasan. Terlebih tuntutan keadaan, pulang terasa tidak menyenangkan.
Sabit seperti terjeblos dalam kubangan luluk lalu buta arah. Lantas, di sana Wirama berperan sebagai navigasi, rela menuntun Sabit keluar dari kubang yang telah menimbulkan resah. Sambil mengobati luka-lukanya, menghibur lelahnya ... entah sejak kapan, Wirama menjadi irama hangat untuk hidup Sabit yang dingin.