Azan Asar baru selesai berkumandang, Sabit masih di kontrakan Wirama. Tadinya ia mau langsung balik habis cuci piring, tapi Wirama ingin kembali ke Vellichor dan Sabit inisiatif antar sekalian dirinya menuju rumah.
Sementara Wirama sudah menggunakan sarung lengkap peci sebagai atribut ibadah, menarik mukena serta sajadah tipis dari laci lemari kamar dan menyodorkannya kepada Sabit.
"Kok lo ada mukena?" Tidak buru-buru ambil, Sabit malah fokus sama pertanyaan itu. Maksudnya, Wirama tinggal seorang diri, tidak ada saudara perempuan atau sosok ibu yang tinggal bersamanya.
"Penting banget apa ya? Ini udah ambil, awas kena, udah wudu."
"Gue gak solat." Namun, Sabit tetap mengambil uluran mukena itu atas penghargaan Wirama yang sudah mengambilkannya.
"Lagi enggak?"
"Enggak mau."
"Kok?"
"Ngapain? Gue bukan orang baik. Malu gak sih, solat tapi masih buat dosa? Apalagi gue sering ngeluh sama keadaan. Munafik rasanya."
Cepat-cepat Wirama istigfar dalam hati. "Mbit, emang orang solat syaratnya harus bersih dari dosa? Terus ngapain kamu itu ...."
"Gak usah ceramah, ya. Lo aja mau solat, buruan. Gak jadi nganter, nih."
"Mainnya ngancem," sahut Wirama. "Syarat solat tu waras. Ngapain? Supaya kita bisa ngerasa cukup, dan inget terus soal berdoa."
Sabit yang dari tadi sedikit naik rahang dan menengok sisi untuk melihat Wirama, akhirnya penat. Malas juga kelamaan tatap lelaki yang mengubah keadaan jadi religi begini.
"Profesi lo gak cocok ngomong gitu, Ram. Plis lah."
"Iya sih, harus jadi Hanan Attaki dulu baru boleh ngingetin, ya?" Wirama tertawa sedikit, sadar mesti tahu batasan. Dia bahkan tidak punya hak untuk 'memaksa'. "Ya udah, tungguin bentar. Kalo berubah pikiran, sayangku bisa solat di sini, kiblatnya ngadep sana."
Sabit tetap pada pandangan lurus, tidak memerhatikan Wirama yang sempat menunjuk arah kiblat. Laki-laki itu menuju kamar, tutup pintu supaya lebih khusyuk.
Beranjak dari duduk, Sabit menyimpan perlengkapan solat di atas meja rendah. Ia masuk kamar mandi, bukan untuk berwudu, hanya cuci muka dan kaki saja. Ia masih dengan pendiriannya soal ibadah.
Seiring air menyentuh punggung kakinya, telinga Sabit menangkap penyampaian berita announcer dari radio dekat rak sabun. Sedikit terusik, ia menatap benda itu beberapa detik usai melepas gayung di tepi bak. Suaranya tipis, putaran volume depan radio cokelat bargaya retro ada jejak air.
Wirama sangat tidak ingin ketinggalan berita, kah?
"Anomali," gumam Sabit, lalu cepat-cepat keluar. Ia akan menanyakan kepada Wirama soal benda itu nanti, entah mengapa ia penasaran sekali.
~''~
Sambil melihat arah Sabit dan Yona di arah jam tiga, Wirama terus mengontrol napas yang terlalu berdesak untuk segera keluar. Matanya merah, di dalam mobil sudah mulai terasa panas, terlebih Wirama menutup rapat semua kaca. Kedua tangan mencengkam setir seperti orang kesakitan. Berhenti menatap ke luar jendela, dia merenggut kacamatanya dan melempar arah kursi penumpang—pilih menunduk sehingga dahinya membentur kemudi mobil.
Tidak ada yang luka, tapi sejak mimpi buruk kembali mampir, pertanyaan soal radio dari Sabit lalu aroma yang tidak ingin Wirama hirup seumur hidup, menciptakan nyeri di seluruh badannya. Yona beraroma lavender dicampur manis frambos. Wirama tersiksa, maka dari itu pilih hengkang dan segera masuk mobil sebelum kenangan getir itu semakin jelas lalu dia muntah-muntah.
Dulu, semasa kecil Wirama menggunakan sabun mandi beraroma seperti Yona. Mungkin mereka pakai merek berbeda, tapi aroma Yona sangat persis tanpa tambah dan kurang.
Tadinya dia suka, aroma itu. Lantas ada hari cikal bakal trauma dalam diri bersemi, harumnya menjelma monster penuh duri, penciuman jadi terlalu peka. Wirama berubah penakut. Takut mandi atau masuk ruang lembap, ember dengan keran air yang bersuara deras, juga gayung.
Jika Wirama kukuh tidak mau mandi saat petang tiba, ibunya memaksa, pundak ditarik keras-keras tanpa bantah.
Dilucuti baju dan celana secara tidak sabar di depan kamar mandi, lalu kembali tarik pundak kecil itu. Keran air diputar, nyaring sekali di pendengaran Wirama.
Sang ibu mengguyur kepala tanpa aba-aba sehingga Wirama kaget, menangis, dan ibu tidak peduli. Ia menciumi badan putranya seperti menghidu mangga arumanis, sesaat kemudian nafsu ikut campur.
Dari leher, dada, atas perut. Apakah ... seperti ini dicintai? Apakah rasanya semengerikan ini? Terlebih ketika ibu menuangkan sabun ke tangan, cairan licin itu dipakai untuk menggosok bagian sensitif kepunyaan anak kandungnya sendiri.
Pernah anak itu teriak, berontak, dan akhirnya gayung yang dipegang sang ibu jadi alat pemukul—tepat di puncak kepala. Wirama kecil kian menangis, tapi tidak ada tenaga lagi untuk melawan. Sisi lain, dengar tangisan itu semakin bergairah ibunya.