"Mbit?"
Orang yang dipanggil menatap tanpa suara. Pahanya sedang kesemutan sebab kepala Yona terlalu lama bertumpu, ia dalam mode bertahan.
"Dengerin, ya." Wirama menitahkan, lihat layar laptop sebentar lalu bicara lagi menyertai muka serius. "Dia tidak bergeming."
"He?" Langsung dapat respons, Wirama jadi semangat.
"Atau, dia bergeming?"
"Amatir amat pertanyaannya, biasa juga si paling buka KBBI lo." Sabit tertawa menang, seolah-oleh kemarin itu sedang berkompetisi dan Wirama mengunggulinya.
"Sombong."
"Bukan sombong lagi gue, sombong banget malah." Tambah kencang lah tawa itu sehingga Yona sedikit terusik meski tidak sampai bangun.
"Dia tidak bergeming, tangannya hendak menyentuh pipi Gamma."
"Katanya tidak bergeming, tapi tangannya gerak?"
"Nah," sahut Wirama, lalu jarinya menggulir touchpad. "Tapi lebih pasnya?"
"Cukup bergeming nggak sih?"
"Betul." Wirama kemudian menutup laptop silver itu.
"Gitu doang?"
Wirama mengangguk. "Sekarang butuh asupan buat lebih konsentrasi."
"Kakak gue ditelepon gak diangkat-angkat." Sabit tahu bahwa Wirama sudah ada niat beranjak dari sini. Lihat saja, air dalam botol plastik mineralnya sudah habis, dia bahkan tidak pesan es krim untuk menunda lebih lama duduk.
"Chat juga belom dibales."
"Cinta bertepuk sebelah tangan," tanggap Wirama, bermaksud menghibur supaya Sabit tertawa, tapi tidak.
Menarik napas sabar, Sabit membenarkan posisi kepala Yona di pahanya. "Tar deh ya? Mastiin dulu kakak gue udah ada di rumah apa belomnya."
"Santai. Sini gantian." Wirama menggeser laptopnya yang masih di atas meja, satu gerakan tidak perlu mengingat tanpa digeser pun, dia tetap dapat mendekat arah duduk Sabit untuk mengambil badan Piona.
"Gak usah, biarin."
"Gakpapa," tukasnya memaksa. Dengan perlahan mengangkat kepala anak itu untuk disandarkan di lengannya. Aroma masam tercium, dan itu membuat Wirama lebih tenang dekat Yona.
"Kaki kamu kesemutan nanti."
"Udah kesemutan dari tadi."
"Makanya aku bantuin."
Ya sudah ... Sabit kembali menelepon Korona sambil menilik Wirama yang memangku Piona, terlihat alami tidak canggung.
"Apaa?"
"Apa?!"
Sekalinya diterima, kata pertama Korona bikin nada Sabit meninggi sampai Wirama menoleh otomatis sebab tidak menduga akan mendengar Sabit begitu.
"Kok nanya, sih. Piona mau gimanaa?"
"Ya kamu urus dulu bentar, katanya kamu luang."
"Bentar? Bentar, ben ...." Kata-kata Sabit terputus, ia memejamkan mata sambil menunduk, berusaha meredam tantrum yang ingin sekali diluapkan. "Ini udah jam tiga, Kak. Kakak belum sampe rumah?"
"Kakak masih ngebujuk ayahnya Piona biar ngasih nafkah. Buat anak sendiri kok pelit. Minggu depan baju panjang udah harus Piona pake."
Aduh, Sabit jadi pening kepala sebelah. Ia sudah tidak punya energi lagi, makanya ganti bicara pelan meski sebetulnya relung hati teriak-teriak murka.
"Lagian bisa lewat chat, ngapain nemuin sampe segini lamanya? Yona belum makan, baru sarapan sama ngemil es krim."
"Lewat WhatsApp dia bisa ngebiarin. Pokoknya sama kamu dulu, urus dulu. Kasih makan dulu."
"Tapi kan—"
Sambungan telepon terputus. Tidak sopan. Lihat saja kalau Korona sudah ada di hadapan, Sabit cabik-cabik itu muka tidak peduli kalau mereka lahir dari rahim yang sama.