"Ini, bawa," suruh Wirama setelah Sabit keluar dari mobil, dan pintu belum ditutup.
Kantong plastik putih yang di dalamnya nasi padang. Sabit sengaja tidak memakannya sebagai bendera amarah, maka dari itu Wirama minta pramusaji untuk bungkus.
"Gak baik tolak makanan, Sayang." Wirama coba merayu, tetap mengulurkan bungkusan itu. Namun, Sabit segera menutup pintu mobil tanpa sepatah kata—setelah memastikan Yona keluar dengan aman dari pintu penumpang belakang.
Pikir Sabit, toh ia juga akan mentraktir Wirama nanti, jadi tidak masalah untuk mengabaikan lelaki itu.
Lantas Wirama disuguhkan punggung Sabit yang menuntun Piona menjauh.
Menaruh bungkusan di kursi sebelah, Wirama tidak langsung tancap gas. Sebentar merenung, dia mengirim pesan kepada Sabit.
Tadi pagi kita liat anak TK berangkat sekolah. Piona emang libur ya hari Sabtu?
Alih-alih permintaan maaf yang Sabit tunggu.
~``~
"Korona seenaknya nitipin Yona, lama banget lagi." Sabit bersaksi di depan ibunya. Wajah Ibu lelah, lipstiknya luntur, rambut terikat berantakan. Baju kotor sang ayah dari rumah sakit masih di totebag, sedikit mencuat keluar terlihat.
"Dia kakak kamu, yang sopan."
"Lebih gak sopan dia, orang masih ngomong di telepon malah dimatiin."
"Ada ayahnya Piona, makanya aku matiin," bela Korona.
"Cuma gara-gara itu kamu jambak rambut kakak kamu? Bulan, kamu ini umur berapa?"
Ups.
Sebetulnya, Sabit sengaja berbuat demikian demi dapat perhatian Ibu. Kalau tidak heboh, dan Sabit cuma mengadu tentang kakaknya yang menitip Yona lama, pasti tidak ada gubris. Mujur kok cuma jambak, tidak sampai cakar muka Korona.
"Kata Kakak sebentar, Ma. Dia gak mau tau situasi aku, aku kan kerja."
"Kerja apa?"
Napas Sabit tertahan sekejap, rasanya ada yang menonjok dadanya hingga nyeri serta berat jadi satu.
"Di penerbitan, cuma nulis, kamu bilang kerja?"
"Cuma?" Sabit bergumam, mata mulai terasa hangat. "Aku dibayar ... apa yang aku tulis, itu bukan kerja?"
Kalimatnya tersendat, Sabit hampir menumpahkan tawa keras sambil menangis, antara ingin menyerukan kebenaran dan bungkam guna mengalah.
"Capek-capek kamu lulus MIPA supaya bisa ke jurusan farmasi, tapi malah di penerbit. Kamu gagal."
"Korona juga gagal."
"Jangan bawa-bawa kakak kamu!"
Korona memang tidak terima atas tudingan Sabit. Auranya muram, tapi tetap harus kalem di depan Ibu, karena bagi Korona, Ibu senantiasa berada di pihaknya.
"Korona gagal pertahanin rumah tangganya. Kenapa cuma aku yang gagal?"
"Rembulan!"
Sabit melengos dan pergi, tidak betah berlama menatap Ibu dengan perasaan marah.
Sebetulnya Sabit harap, efek bikin gaduh soal Korona, Ibu bisa menasihati sang kakak jangan seperti itu, karena waktu punya Sabit pun berharga.
Sore Wirama, sekarang Ibu juga, tidak paham sepenuhnya ... ah memang, sukar sekali bikin seseorang paham apa yang kita maksud meski sama-sama pakai Bahasa Indonesia.
Tiap ada keributan di rumah yang melibatkan dirinya, kamar adalah tempat nyaman tunggal. Sabit buka grup WhatsApp bekas sekolah. Semua pesan dihapus, ia tidak mau lihat tulisan MIPA. Keluar dari grup, meski tahu akan ditambahkan lagi oleh teman sekolah yang sekontak, setidaknya untuk sementara Sabit bertemu kelapangan.
"Sial," omong Sabit kepada kosong. Ia terus kurang di mata Ibu, dari dulu. Diminta begini dan begitu tanpa Ibu tanya apa mau Sabit, atau nyaman tidak dengan pilihan serta keputusan sepihak Ibu.
Saat Vellichor menerima dirinya bersama karya hasil usaha berbulan-bulan, Sabit punya alasan untuk tidak ikut kemauan Ibu lagi. Untuk pertama kali, ia punya kendali atas hidupnya. Semua tes masuk universitas, rumus yang menjemukan, Sabit bisa melipat semua itu dan disimpan dalam kegelapan laci. Konsekuensi? Dapat pandangan jelek dari Ibu.
Memang, ilmu penting, tapi jika Sabit baca matematika farmasi dasar saja sudah pusing tujuh keliling, apalagi nanti membaca Farmakope Indonesia? Sabit menyerah. Selain bukan keinginannya, Sabit tidak dapat mengarifi apa yang dipelajari.
"Kamu bikin malu," desis Ibu waktu itu, bertepatan hari pertama buka puasa bersama—pertemuan antara keluarga pihak perempuan dan laki-laki, sudah seperti acara lamaran.