Asmaraloka ini tidak dikara, atma terenggut adikara. Bumantara meneteskan nestapa. Cakrawala menjelma derita. Tidak ingin jadi nirmala.
Nirmala siapanya Bumantara, Mbit?
Baterai ponsel tinggal 10% dan, Sabit hanya ingin memastikan itu, tapi tidak sengaja menekan pop up chat Wirama yang baru masuk.
Canda lo?
Abisnya gak mau jadi nirmala cenah, bisa tolong terjemahin? Dari penulis puitis, hehe.
Sabit segera mengetik balasan, mukanya cemberut.
Gak sudi. Emang gakda foodnote?
Makan catatan?
Footnote, gue typo elah.
Tidak ada balasan lagi dari Wirama. Ya sudah, fokus Sabit bertukar ke isi daya ponsel serta naskah yang sedang digarap.
Sejalan jam berlalu, baterai sudah penuh, tapi Sabit sengaja mengabaikan, soalnya ia mudah sekali berteman sama distraksi.
Tanpa Sabit sadar, layar ponselnya tidak anteng, ia nyala beberapa kali, menampilkan telepon dari Wirama, dan banyak pesan meminta orang yang punya nomor terima telepon sebelum kembali gelap.
Nomor Wirama ganti dengan Buvin yang menelepon. Namun, Sabit masih tenggelam dalam dunia yang dirinya ciptakan.
~``~
"Wirama hampir bikin orang mati. Dia di kantor polisi sekarang." Kalimat Ibu Vinka waktu Sabit menemuinya, sukses bikin tenggorokan Sabit tiba-tiba gatal—rasanya seperti kamu akan terserang pilek.
"Kamu ke sana, cepet." Perintah tanpa basa-basi khas Buvin. Sabit ingin bertanya lebih banyak, tapi urung sebab bunyi ping terdengar lebih dulu dari ponsel Buvin.
"Udah saya shareloc. Diam-diam aja, jangan sampe ada yang tau Wirama masuk kantor polisi."
"Bu ... tapi ...." Suara Sabit terjungkal lidah sendiri, hampir ngomong belibet.
"Kenapa saya?"
"Wirama minta tolong kamu, tapi kamu susah dihubungin. Dia gak mau ada yang tau, saya tau karena harus nyampein pesen ke kamu. Jangan sampai ada skandal, itu aja dari saya."
Maka di sini Sabit sekarang, depan kantor polisi. Langkah tertahan oleh gugup sendiri, Sabit bahkan bisa menghitung napasnya yang terembus.
"Ada yang bisa dibantu?" Salah seorang petugas SPKT bertanya sopan, nadanya ramah, ditambah senyum sejuk yang secara tidak langsung mengatakan; gakpapa, gak perlu tegang, kantor polisi gak semenakutkan itu kok.
"Mau ...." Mau apa? Sabit bingung, ia pertama kali ke kantor polisi, dan Buvin tidak menjelaskan secara rinci tentang Wirama kenapa atau bagaimana bisa sampai ditahan di sini.
Otaknya sudah teriak ayok kabur aja, tapi memang dasar otak sering tidak sinkron sama mulut. Sabit bilang, "Saya mau jadi penjamin." Kalimat aneh di telinga seolah-olah egonya tergadai.
"Oh iya, siapa namanya? Kasus apa?"
"Wirama Atayar, kasusnya ... kurang tau." Ais, sejak Buvin kasih informasi Wirama di kantor polisi, Sabit kehilangan kemampuan bicara lancarnya.
"Sebentar kita cek dulu, ya. Boleh KTP?"
"Boleh," sahut Sabit, segera membuka tas serut yang menyelempangi bahu, ambil yang diminta dari sana.
"Tunggu sebentar ya, Mbak. Ada surat keterangan kerja juga?"
Sabit nge-blank sedetik. "Nggak ada, KTP aja ... Pak?”
"Ya, gak apa. Nanti penyidik yang nentuin."