Irama Bulan

Ilestavan
Chapter #14

13 | Hazelnut Latte

Hari ini, di jam istirahat, Wirama pulang. Melonjorkan kaki, lalu makan siang sisa sarapan pagi. Mungkin sebab nasi uduk masih tersisa meski gorengannya sudah lemas.

Selepas makan, untuk balik ke Vellichor, Wirama menyusuri gang yang tiap hari dilewati, tidak ada yang berbeda dari rumah-rumah berdempetan, cuma langkahnya terlalu riang untuk seorang Wirama. Bukan perihal tidak sabar bisa kembali menatap komputer, mendetail ribuan aksara, melainkan baca balasan kilat dari Sabit.

Canda lo?

Wah, udara panas juga tidak bikin pening, di ubun-ubun rasanya sejuk. Seperti berada dalam balutan sutera bersama angin sepoi-sepoi. Tadinya Wirama kepikiran dandelion saat sadar apa yang dirasa. Cuma randa tapak itu rapuh. Walau disebut bunga abadi, membayangkannya saja sudah bikin Wirama hampir bersin-bersin.

Senyum Wirama makin lebar, sedikit terkikik saat Sabit salah ketik, lalu matanya menangkap hal yang membuat jantung berdegup lebih kencang. Mengantongi ponsel setelah mengirim balasan, Wirama melangkah ke sana.

Sebelum sampai ujung gang yang menembus ke jalan raya, ada tempat terbuka untuk wudu. Ini bahkan samping masjid.

Wirama memegang pergelangan tangan lelaki yang besarnya seperti talas Bogor, menghentikan aksinya untuk bertindak lebih jauh.

Anak berkerudung itu menyusut mundur, kedua tangannya kaku, buku-buku jari terasa beku.

"Siape lo?"

Di sana, ada tatapan beda makna yang Wirama tangkap. Kecemasan, ingin menangis, Wirama menemui itu sebentar dalam mata si anak. Sementara amarah memuncak di tatapan lelaki yang dia cengkeram tangannya.

"Barusan ngapain?"

"Ngapain?" Tangan Wirama dihempas kasar, ia menunjuk anak yang menjaga jarak di belakang. "Gue lagi ngajarin ini anak wudu."

Ya ampun, sesuci wudu harus menjadi alasan kotor?

"Mau saya tunjukin gimana caranya ngajarin wudu yang bener?"

"Urus diri lu sendiri," sahutnya, amarah merongrong minta dikeluarkan.

Lelaki itu menghela tangan si anak secara paksa, hendak dibawa pergi, tapi belum sempat, anak berkerudung merah jambu menangis keras. Telinga Wirama berdengung, bukan sebab tangisan itu amat nyaring sampai marbot masjid menghampiri sumber suara, tapi kilasan masa lalu kembali menyerobot hadir tanpa ampun.

Dia ingat saat diri menangis dalam kamar mandi, dia ingat ....

BUG, BUG, dua kali.

Wirama menonjok lelaki itu, marbot masjid saksinya, sebelum ia benar-benar memahami situasi.

Bak semut yang menggerumuni gula, sekitar sudah ramai warga.

Salah satu polisi yang sedang cuti melaporkan keadaan ke kantor.

"Pak Jamal, Bapak gakpapa?" Pak Cece, sang marbot, inisiatif bantu Jamal bangkit. Ia kenal lelaki yang rumahnya tidak jauh dari sini.

"Dia abis ngelecehin anak kecil!" Nada Wirama terburu-buru, tidak ada perhitungan sama sekali. Entah bagaimana, akal sehatnya terenggut semua, dia bernapas keras-keras.

Anak berkerudung dihampiri seorang wanita yang langsung memeluknya, menyebut nama si anak. Nadini.

Tangis Nadini masih ada, meski tidak sehisteris beberapa menit lalu.

Jamal memegangi hidungnya yang berdarah, tidak berkata banyak, tidak melawan. Tahu bahwa posisinya akan salah, padahal ia ingin sekali membanting orang yang tiba-tiba mengusik kesenangannya.

"Tahan, Mas. Tenang dulu," kata Pak Cece kepada Wirama selepas bantu Jamal berdiri, ia berposisi di tengah, berjaga-jaga seandainya ada penyerangan lagi.

Polisi datang tanpa sirine, cepat, seperti tidak ada kasus yang lebih serius dari pemukulan di area padasan. Mobil mereka terparkir di depan gang. Kedua tangan Wirama tidak diborgol, sebab dia terlihat pasrah, sementara Jamal ekspresif di depan polisi.

"Nanti ceritanya di kantor. Itu visum dulu."

"Iya, Pak. Gara-gara dia tuh."

"Saya mengerti," tandas polisi, menyudahi ocehan Jamal. Sementara ibu Nadini menatap simpati Jamal sebelum polisi memintanya untuk ikut sebagai saksi.

Pak Cece juga turut andil akan dimintai keterangan, meski ia hanya melihat Wirama memukul Jamal, dan tidak tahu kejadian sebelumnya.

~``~

Wirama masuk dalam kamar, langsung membanting badan tengkurap ke kasur. Pintu peraduan dan pintu kamar mandi di seberangnya terbuka. Wirama pejam mata, tapi tenggorokannya minta air. Kalau ingin minum, harus ke dapur. Dia sudah tidak mampu angkat badan sendiri, rasanya seperti bulat bumi dia pikul di punggung.

Lihat selengkapnya