Irama Bulan

Ilestavan
Chapter #15

14 | Bikin Pastel

Hazelnut Latte milik Sabit sudah hampir habis, sementara kopi punya Wirama tinggal setengah. Mereka sibuk masing-masing. Empat puluh lima menit telah berlalu, dan Sabit yang pertama memutuskan tali diam itu.

"Gue butuh riset."

"Pasti," respon tercepat dari Wirama, meski dia masih menatap layar laptopnya. Di sana, ada tanda kutip terbalik. "Nulis tanpa riset bisa bikin pembaca kesasar."

"Riset di lapangan, Ram."

Wirama mengalihkan pandangan, melihat sebentar Sabit sebelum kembali meneliti tulisan di layar.

"Google dulu aja, kalo emang gak ada di Google baru. Tanya ChatGPT, Meta AI juga udah lebih pinter sekarang."

"Lo bukan editor, ya?"

"Masih editor sampe sekarang, alhamdulilah."

"Ya masa nyaraninnya gitu ke penulis? Buvin aja suru riset ke lapangan, katanya biar lebih bagus."

Wirama menundukkan sedikit kepala laptop, kembali menemukan muka Sabit.

"Kalo masih yang dasar mending Google aja. Kamu mau cari tau soal apa emang?"

"Google emang tau banyak hal, tapi gue mau kasih nyawa ke cerita, pengen yang bener-bener akurat." Sabit bernada sedih yang dibuat-buat. "Terus lo tau gak? Gue nyari tau kenapa sesak, Google jawab asma. Segera ke dokter jika keadaan semakin parah."

Tidak tahan, Wirama menyembur tawa. Mudah sekali baginya, seolah komedi selucu apa pun tidak ada yang menandingi kata-kata Sabit.

"Kurang jelas berarti kamu ngetik pertanyaannya."

"Tapi kan kalo ke dokter langsung, bisa dalem Ram secara riset, gimana interaksi antara dokter ama pasien, prosedurnya segala macem."

"Mesti ada uang juga."

Ah ya.

Lantas Sabit mengecek ponselnya. Buka dompet digital, di sana ada angka Rp 650.000 tidak kurang tidak lebih. Itu hasil Sabit sedikit-sedikit menyisihkan uang, supaya tidak dipakai, ia menggunakan e-wallet. Namun, sepertinya sekarang harus ditarik untuk kualitas novel yang dibuat. Meski seandainya riset ke dokter batal pun, uang itu tetap akan ditarik untuk kebutuhan hari-hari esok.

"Satu kali pertemuan bisa kali, ya?"

"Dokter umum?"

"Psikiater."

Wirama mengangguk-angguk, kata yang tidak asing di telinga. Bahkan pernah sangat akrab dalam kehidupan Wirama.

"Gue mau tanya, apa reaksi tokoh gue. Emang bisa kalo dia gak mau disentuh sama sekali, traumanya harus sedalem apa gitu. Lo sendiri yang bilang kapan hari, kalo angkat kesehatan mental gak boleh asal."

"Aku ada kenalan psikiater—"

"Wah?" Sabit menukas, ia menampilkan ekspresi takjub.

"Ntar aku kirim nomernya. Dokter Ririana, kamu atur sendiri janji temunya."

"Mahal, nggak?"

"Kalau buat riset kayaknya gak semahal berobat. Intinya, tetep bayar."

"Ngerti," sahut Sabit. "Gak jual nama lo kok tenang aja. Tapi temenin ya, risetnya?"

"Kamu sendiri aja." Wirama menegaskan kalimat itu.

"Ish," gerutu Sabit. "Luas banget lingkaran pertemenan lo, Ram. Sampe psikiater aja kenal, ada kontak pribadi juga lagi."

Wirama tidak menyahut, cuma kembali menatap layar. Ada dua tanda kutip terbalik di dialog satu dan bawahnya juga. Harus diapakan ini, sisi cerita sudah bagus, tidak mungkin hanya salah ketik naskah ini tidak lolos seleksi, kan?

Gimana kalo edit aja? Memang boleh sama Buvin? Ini naskah lomba, atau kirim kabar ke penulis untuk revisi? Sekali lagi, ini naskah lomba. Peraturannya sudah tertulis jelas di juknis; editor kurasi tidak diperkenankan melakukan penyuntingan dalam bentuk apa pun, termasuk koreksi tanda baca terhadap naskah peserta.

Lihat selengkapnya