Pastelnya ... obesitas. Dari sisi mana juga, tidak ada kesan garing. Itu bikin Sabit jengkel.
"Gue kira lo bisa."
"Kapan?"
"Ya kan elo yang ngajak bikin pastel. Lah gue kira lo biasa bikin ginian, Tiram."
"Aku bisa masak, tapi baru pertama bikin pastel," jelas Wirama. "Aku liat di short video kayaknya gampang. Orang cetakannya aja aku baru beli. Aku ngajak ya karena aku lagi pingin pastel."
"Padahal lo yakin banget kalo pake ragi, sok-sokan dicoba juga."
"Nah, aku pernah tau kalo mau pake ragi dites dulu, gitu."
"Ya tapi bukan resep pastel, 'kan?"
Wirama nyengir. "Iya, kayaknya ...."
"Emang iya, bukan kayaknya!" Sabit sewot, dan Wirama tidak punya bahan untuk menimpali lagi. "Padahal beli aja pastel kalo kepengen, ngapain ngide bikin coba."
"Kan nyoba," gumam Wirama, dan Sabit tidak mau dengar.
Meski terlihat zonk dari bentuk, pastel yang terendam minyak panas tidak ada yang gosong. Wirama telaten menggoreng, Sabit cekatan meniriskan.
Rasanya, tetap enak. Sabit manggut-manggut sambil mengunyah pastel yang teksturnya kayak roti goreng. Beruntung tidak sampai meletus, hanya kulitnya retak-retak sedikit.
"Pura-puralah, bisa bikin pastel, jadi bisa beneran." Wirama bicara sesudah menggigit pastel potongan terakhirnya.
"Pastel balon."
"Nah buat kamu, kenapa gak mau kondangan temen kamu? Kenapa bakal kena mental? Pura-pura aja kamu percaya diri dan cinta diri sampe kamu berhasil."
Wirama ini bijaknya tidak kenal waktu memang. Kadang bijak yang terdengar menghakimi, kadang pula tahu betul titik mana yang bikin Sabit tersentuh.
"Sebelom ngomong gitu, cek dulu bahan pastel bener apa nggak."
"Wirama? Asalamualaikum!"
Sabit spontan membalas salam itu, lalu memandang Wirama untuk menyudahi senyum-senyum tidak jelasnya, dan segera melihat siapa yang muncul di depan pintu. Maka, Wirama beranjak dari duduk bersandar.
Hawa minyak panas terbawa oleh Wirama yang mendekat arah pintu tidak ditutup.
"Waalaikum—"
"Nih kunci mobilnya."
"Eh?" Belum sempat Wirama memfokuskan mata untuk melihat siapa agaknya orang yang datang sore-sore begini, tangannya sudah dipaksa mengambil kunci Brio.
"Ada di pinggir gang mobilnya, gue cabut ya."
"Ben-bentar," tahan Wirama, lalu menoleh sebentar ke arah dapur. Ada suara cetek singkat. Sabit mematikan kompor. "Kenapa dibalikin?" Maksudnya kenapa mesti sekarang?
"Lah, emang udah waktunya dibalikin, 'kan? Thanks ya. Ntar kalo butuh, gue pinjem lagi."
Haduh.
Selepas lelaki itu pergi, Sabit menghampiri Wirama—penasaran siapa yang datang, tapi berpikir kembali, itu urusan Wirama. Sebagai tamu, ia tidak punya wewenang bertanya, jadi Sabit cuma mencuri pandang kunci yang masih digenggamnya di depan dada.
Tingkah lelaki itu kaku sekali, seperti habis ketahuan orang tua main air hujan dengan kondisi belum makan.
"Kenapa?" Hanya itu yang keluar dari mulut Sabit. Ia mempertanyakan sikap Wirama, bukan menyudutkan. Namun, orang yang ditanya gugup.
Wirama cemas menghadapi kalau-kalau Sabit melabeli dirinya tukang bohong.
Dia membuka tangan, perlihatkan seluruh badan kunci. "Awalnya bokap punya. Cicilannya nunggak padahal mau lunas, jadi aku yang nerusin. Aku bawa ke sini, tapi gak ada tempat parkir. Si Yusil tu suka pinjem, ya sekalian aja kayak nitip."
"Terus?"
"Aku gak maksud bohong." Wirama menegaskan itu. Seakan-akan penilaian Sabit terhadapnya mempunyai kuasa untuk menentukan dia masih hidup hari ini atau tidak.
Wirama, orang yang cuek terhadap pandangan orang lain, kini khawatir hanya karena satu penilaian Sabit.
"Gue nggak ngomong apa-apa juga, 'kan?"
"Biar jelas aja," sahut Wirama. "Soalnya waktu itu aku bilangnya sewa ke kamu."
"Gak masalah." Toh, itu tidak berdampak apa-apa buat Sabit.
"Jadi selama ini, mobil lo dipinjemin?"
Wirama mengangguk. "Ke orang yang tadi. Orang bank, dia. Kenal waktu ATM aku ketelen mesin."
"Dipinjemin gitu aja?"
Wirama diam, dan Sabit menganggap jawabannya adalah iya.
"Kalo gue jadi lo, gak akan gue pinjemin."