Irama Bulan

Ilestavan
Chapter #17

16 | Garasi

Uma menyenggol lengan Tio ketika Wirama masuk ke ruang penulis Vellichor. Gerak mereka kaku seolah-olah habis ketahuan menyembunyikan bangkai.

Suara yang barusan terdengar, hirap. Wirama melihat mereka dengan tatapan tenang, tanpa anggapan apa-apa. Namun, mereka pilih ambil langkah keluar dan sebisa mungkin menghindari kontak mata dengan Wirama.

Selepas ketiadaan Tio dan Uma, Wirama hanya menoleh untuk sekadar memastikan jejak dua orang itu habis. Dia menutup pintu ruangan. Sabit masih di sana. Tepat seperti yang diharapkan.

"Uma sama Tio akrab, Mbit?"

Sabit tidak dengar, ia memaku di depan komputer, tangan kanannya meremas-remas sesuatu.

"Bengong profesional," celetuk Wirama, lalu mendorong bahu Sabit sehingga bola mata gadis itu naik, melihat Wirama. Ekspresinya langsung kesal.

"Udah nulisnya?"

"Lo kira gampang?"

"Nulis?"

"Pindahin satu adegan di kepala ke tulisan. Jangan ngegampangin."

"Aku gak bilang gampang."

Sabit semakin erat meremas benda di tangannya, dan Wirama menampilkan cengir menyebalkan bagi Sabit.

"Sore ini jadi, 'kan?"

"Apaan?"

"Aku bawa mobilnya."

"Oh," sahut Sabit kilat. "Kayaknya gak jadi."

"Kenapa?"

"Gue belum izin ke nyokap."

"Kalo gitu bawa dulu aja mobilnya, pasti diizinin." Wirama bawa solusi yang bukan solusi bagi Sabit. Nyaman sekali lelaki itu bicara tanpa mempertimbangkan bagaimana Sabit menghadapi keluarganya.

"Bukan cuma gitu, kakak gue pasti nentang."

Tolong, Sabit masih ingin sendiri, dan Wirama agaknya tidak ada niat cepat-cepat keluar dari sini.

"Kok bisa?"

"Bisa. Manusiawi."

"Duniawi?"

"Jayus lo."

"Pokoknya jadiin sore," tekan Wirama, memaksa. Dia jadi seperti cowok red flag di novel yang dipuji menggairahkan sama penggemarnya.

"Kakak gue pasti minta bagian."

"Nah bener berarti aku denger duniawi."

Sabit tidak lagi berkata-kata. Ia sedang lelah secara perasaan. Beban dari pembuat utas itu belum hilang kendati Wirama sempat memadamkan api amarah Sabit. Gongnya, sampai ada asap gaib yang masih tersebar luas di sudut-sudut hati.

"Kalo gitu kasih." Wirama bernada sungguh-sungguh. "Kasih, aku tambahin seratus."

"Gak usah, gila."

"Kamu emang udah kebiasaan ngomong gila ke aku."

"Kenapa sih lagian ngebet banget?"

"Mobil aku kesian, ntar keujanan. Sekarang aja pasti lagi kepanasan."

"Yaudah gimana lo aja deh." Terlalu mengesalkan, Sabit berharap bisa menyudahi urusannya sama Wirama.

Lihat selengkapnya