"Emang jorok aja lho si Wirama, masa kencingnya gak di WC."
"Perlu bilang atasan gak sih?"
"Atasan juga udah denger lho, tapi bisa-bisanya ngebiarin."
Percakapan mereka langsung terhenti ketika melihat tokoh utama cerita masuk ruangan. Pintunya memang tidak ditutup.
Mereka buru-buru hengkang. Wirama jadi penasaran, apa tugas editor koran sangat senggang sampai harus ke lantai penulis fiksi untuk merumpi?
~``~
Rumah Sakit Aster Medika.
Aster Medika. Sabit mengulang nama itu dan tertawa kecil. Menertawakan keputusannya kemarin untuk tetap ke sini.
Ia bahkan menahan diri, tidak segera masuk dari pintu utama—serius, ini masih bisa batal, meski artinya Sabit kehilangan kesempatan bertemu psikiater.
Memang apa yang perlu ditakuti? Bukankah Tuhan menyiapkan banyak kebetulan untuk tiap manusia? Mungkin hari ini Sabit tidak akan mendapat kebetulan itu.
Oke, tidak mau membiarkan kekhawatiran mengganggu lebih lama, Sabit melangkah ke area dalam rumah sakit. Nuansanya seketika berubah. Dari panas gersang menjadi kesejukan yang seolah meniupi keringat di punggung Sabit.
Banyak mulut berbicara sehingga terdengar seperti gemuruh, juga lalu lalang orang dengan berbagai ekspresi.
Hampir tidak ada yang menyadari Sabit di sini ....
"Rembulan?"
Yah, sepertinya Tuhan memang ingin memberi satu kebetulan untuk Sabit hari ini.
"Ma," sapa Sabit, lalu senyum kaku.
Ya Tuhan, ada berpuluh-puluh orang di sini. Lihat, rumah sakit ini luas, lantai utamanya saja sudah bisa dipakai menari sepuluh boyband dengan masing-masing delapan anggota. Itu bahkan masih tersisa ruang buat penonton!
"Kamu dateng gak ngabarin?"
Bubar keterdiaman Sabit dan pikiran randomnya.
"Aku—"
"Ayo."
"Eh, nggak, Ma." Sabit bahkan menggeser tangannya yang menggantung saat Ibu hendak meraih. "Aku mau riset."
"Riset?"
"Iya, buat proyek nulis yang lagi aku kerjain."
"Mama kira kamu mau jenguk Papa?"
"Bukan ...." Ada sedikit rasa tidak enak di sudut nadanya, tapi Sabit segera mengganti warna bahasa sehingga terdengar ceria. "Aku ke poli jiwa dulu, ntar mampir ke Papa."
"Halah, kamu suka sok sibuk."
Iya sih. Sabit mengakui itu diam-diam, ia bahkan sengaja menghindar dari apa pun tentang ayahnya.
Sejak Wirama kasih nomor Ririana dan alamat praktiknya, Sabit sempat menduga pertemuan ini akan terjadi—dan memang kejadian.
"Terserah kamu aja, mau jenguk apa enggak." Lalu Ibu meninggalkan anak gadisnya, tanpa takut hilang, Sabit sudah besar. Tanpa takut kelaparan, toh Sabit bisa cari uang sendiri. Bahkan ia mampu menentukan jalan karier, dan menolak dapat setir orang tua.
Anaknya sudah benar-benar dewasa, Ibu sampai tidak mesti menoleh lagi untuk memastikan Sabit baik-baik saja.
Sementara Sabit, ia memerhatikan punggung Ibu beberapa saat, lalu sadar bahwa bukan saatnya terbawa perasaan pribadi. Sabit berbalik, jalan berlawanan arah dengan Ibu.
Jam praktik Ririana hampir habis. Mungkin setengah jam lagi, Sabit sengaja datang lebih cepat dari janji temu yang sudah disepakati. Karena ia bukan pasien, Sabit tidak ikut antrean atau dipanggil perawat.
Sambil menunggu, Sabit mengetik chat ke nomor Wirama.
Lo gak bilang kalo dokter Ririana praktek di Aster.
Orang yang dikirim pesan justru bingung, terbaca dari balasannya.
Maksud?
Tau lah, Sabit sebal. Kendati tidak mau dipengaruhi perasaan sendiri, ia tetap jengkel dan tidak bisa menutupinya.
Sebelah kakinya bergerak, ujung sepatunya mengetuk-ngetuk lantai. Sabit tidak suka menunggu, tapi juga tidak akan terbiasa menjadi orang ngaret.
Sepertinya itu salah satu kelebihan yang patut dibanggakan, ya, dari sekian banyak yang tidak bisa dibanggakan. Sabit menyeringai spontan karena pemikiran sendiri.
Beberapa saat, denting ponsel kembali bunyi, Sabit berdiri sebab pesan itu mengabarkan bahwa tugas dokter Ririana sudah beres, dan Sabit boleh masuk.
Baik. Tarik napas. Tenang dulu.
Tangan Sabit meleset saat pertama menyentuh knop pintu ruang praktik Ririana. Mulutnya mendadak terasa kering padahal ia yakin tidak kurang minum.
Pintu biru muda itu terdorong membuka, pendingin ruangan menyambut Sabit penuh sukacita.
Tidak ada suara mesin komputer atau bau apak seperti di kantor polisi. Tidak juga aroma karbol menyengat dalam bayangan Sabit. Justru wangi manis entah dari apa, dan hand sanitizer membelai penciuman.
Senyap, tenang, seolah-olah Sabit baru saja memasuki gerbang berbeda dari dunianya.
Dokter Ririana menyapa dengan senyum tulus terukir. Sabit duduk di seberang meja.
Ini jelas bukan meja kerja jaksa yang ada banyak tumpukan kertas, apalagi meja editor Wirama yang rusuh berantakan. Meja di tengah mereka bundar, tidak ada apa-apa, bersih.
"Nona Sabit, ya?" Nada suara dokter itu seperti asap pada bolu yang baru saja keluar dari kukusan. "Riset buat naskah, 'kan? Naskah novel, betul?"
Sabit mengangguk kalem, sementara dalam hati ada canggung yang mungkin terlihat dari tingkah.