Irama Bulan

Ilestavan
Chapter #19

18 | Lihat Sekeliling

Peringatan konten: Bab ini memuat adegan yang berkaitan dengan trauma psikologis, kilas balik trauma, dan serangan panik.

———————

Lantai lorong rumah sakit memantulkan bayangan Wirama yang berjalan di belakang Sabit.

Rombongan keluarga pasien baru datang. Koridor yang tadi hanya dilewati satu dua perawat mendadak ramai. Banyak suara bersahut-sahutan, tapi fokus Wirama hanya memandang Sabit.

Suara berisik itu kemudian mengecil ketika mereka semakin menjauh dari sumber suara. Kini, tiap langkah mereka seolah-olah bergema.

"Aku mau cerita," kata Wirama. Sebetulnya supaya Sabit melambatkan ayunan kaki.

"Semalem kan aku goreng ikan teri. Teri nasi itu lho yang kecil-kecil."

Merasa tertarik, Sabit akhirnya berjalan lebih pelan, lalu menoleh lelaki itu singkat. Tidak mau kehilangan momen, Wirama memosisikan diri di samping Sabit.

"Terus pagi-pagi, aku liat ikan pada mati di piring. Kata aku, kok banyak ikan mati?"

Sabit tampak tidak paham. "Ikan mati di piring?"

"Iya, kan terinya aku goreng semalem, nah sisanya masih ada pagi tadi."

"Ikan mati maksudnya ikan teri yang lo goreng?"

"Betul!" Lalu Wirama cekikikan.

"Gak lucu." Sabit memasang muka judes. Jenis lelucon apa itu lagian?

Wirama jadi mengatup bibir. Gadis itu kembali melangkah duluan.

Belum sampai lobi, troli makanan pasien akan mengenai Sabit jika tidak buru-buru Wirama tarik pergelangan tangannya. Padahal roda troli bergemeretak saat melewati ubin, tapi Sabit seperti tidak mendengar.

"Meleng!" Wirama langsung ngomel. "Jalan tu liat-liat."

Sabit mematung.

Beberapa detik kemudian, ia baru paham apa yang hampir terjadi. Tangannya masih berada dalam genggaman Wirama. Ia menatap baju di hadapannya lekat-lekat, mata terasa panas. Ada selapis buram sehingga warna baju Wirama ikut pudar.

"Mbit?" Wirama melepas tangan Sabit, membiarkannya menggantung lemah.

"Bentar," cegahnya saat Wirama memundurkan langkah untuk melihat Sabit secara utuh. "Bentar ...."

Sabit melihat sepatu sendiri. Rambutnya jatuh menutupi sebagian wajah. Ia memejamkan mata, menahan agar tidak ada air mata yang jatuh.

Tolong, jangan. Ia belum ingin mendengar ocehan Wirama.

Tidak enak berlama berdiri, meski posisi mereka tidak terlalu di tengah, Wirama merangkul bahu Sabit, menariknya berjalan tanpa persetujuan gadis itu.

Setidaknya, dengan begitu Sabit tidak terlalu harus memperlihatkan mukanya.

Sepanjang langkah, Sabit merasa ada batu di pergelangan kaki. Berat, perih. Namun, tetap mesti berjalan seperti semesta tidak memperbolehkan manusianya jeda.

Silau matahari sore, juga sisa panas langsung terasa ketika sudah di luar. Tak ada yang bicara. Hanya langkah mereka yang bergantian memecah sunyi.

"Kang es krim!" Wirama melepas rangkulannya terhadap Sabit ketika sudah dekat lingkaran parkiran. "Ayo beli."

Lagi tanpa persetujuan, Wirama menggenggam tangan Sabit dan menariknya ke luar area rumah sakit untuk mencegat tukang es krim bersepeda.

"Mang, es dua, ya!" Entah mengapa, lelaki itu bersemangat sekali. Genggaman tangannya belum juga lepas, dan Sabit pun hanya diam memerhatikan Wirama sekaligus tingkahnya.

"Waktu sama Yona, lo kayak gak suka es krim."

Saat hendak merogoh saku belakang celana demi mengambil uang, Wirama baru melepas genggaman itu. Seketika tangan Sabit terasa kosong.

"Suka kok, tapi waktu itu lagi gak kepingin. Sekarang pingin. Kamu mau rasa apa?"

"Cokelat."

"Aku putih."

"Hah?"

"Mang, saya mau rasa putih sama pink. Jangan pake cokelat."

"Rasanya kayak mana itu putih?"

Lihat selengkapnya