"Oh ... bagus kalau sudah diisi." Kalimat Yusdi, ayah Sabit, setelah Wirama menjelaskan soal garasi yang telah disewa; nadanya hangat, ramah. "Avanza kita udah dijual kebetulan. Malah kita seneng, garasi gak kosong."
Sabit pikir, Ayah sudah tenggelam dalam obrolan bersama Wirama, jadi tidak akan membekalinya oleh-oleh nasihat saat pulang nanti.
"Katanya, kamu temen kerjanya, ya?"
Sebentar.
Perasaan Sabit mulai tidak nyaman.
"Dia masih nulis?"
"Ya?" Wirama lalu menoleh Sabit di sisinya. Gadis itu cuma menatap rel pengaman ranjang yang terlipat.
"Mau sampai kapan?"
Makin rapat bibir Sabit. Ia memang banyak diam sejak masuk ruangan, bahkan menolak duduk di bangku depan loker penyimpanan. Alasannya, takut kateter Yusdi terdupak. Wirama jadi ikutan tidak duduk.
"Umur ayah nggak lama lagi, tapi kamu masih nulis? Masa depanmu gimana?"
Tidak ada jawaban.
Jika dengan Ibu, Sabit masih bisa menimpali, tapi depan Ayah ... semua diksi yang ia hafal lenyap.
Sabit hanya tidak ingin memperkeruh cara pandang Ayah. Beliau sudah—tidak, bahkan sekarang pun, Ayah sedang mengalami masa sulit. Harus hidup sambil menahan sakit tiap kali terasa, itu saja ujian. Sabit tidak mau menjadi ujian Ayah yang lain, tapi ia juga tidak mampu bebelok arah dari jalan yang sudah ia dapat dari usahanya sendiri.
Ah, andai ada fitur blokir dalam hidup, Sabit ingin memblokir sementara ayahnya. Terdengar jahat, ya?
"Belum ada pikiran buat keluar?"
Masih sama. Sabit tidak bersuara, sementara Wirama gelisah di tempatnya berdiri. Betis mendadak seperti tergigit semut; ada sensasi tajam, gatal. Dia tidak mungkin mengajak Sabit pergi di tengah Ayah sedang bicara.
Yusdi selalu menjelma cermin kenyataan bagi Sabit. Bahwa apa yang ia usahakan pada akhirnya sia-sia. Seberapa erat pun Sabit bertahan, itu akan runtuh. Yusdi mengajak Sabit untuk melihat dunia dari kacamata realistis. Menulis tidak bisa memberi Sabit kenyamanan hidup.
Di situasi yang mereka tidak bisa menghindar, akhirnya Ibu masuk ruangan sambil membawa termos besar.
"Rembulan, beneran mampir?"
Tanpa jawab, Sabit keluar dari ruangan Yusdi. Pintu itu belum sepenuhnya tertutup.
Wirama tersenyum canggung kepada Ibu sebelum memperkenalkan diri secara singkat, salam, dan menyusul Sabit.
Sepulang dari Aster Medika, Sabit membatu di tepi ranjang. Badannya berat sampai untuk ganti baju pun malas.
Suara kepalanya langsung bekerja ketika melihat rubik di sisi meja belajar. Warnanya acak. Ia pernah coba mengembalikannya seperti semula. Berkali-kali. Tetap gagal.
Barangkali memang tidak semua orang mampu menyusun kembali rubik yang sudah teracak.
Begitu pula hidup.
Ayah dan Ibu selalu membayangkan Sabit tumbuh menjadi apoteker. Kalaupun bukan, setidaknya pekerjaan yang menurut mereka lebih pasti daripada menulis. Sementara, semakin dewasa, Sabit justru menemukan dirinya dalam cerita-cerita yang ia tulis.
Maka, bukankah tidak masalah jika sekarang Sabit tidak menyerupai harapan orang tuanya? Selama ia tetap utuh menjadi dirinya sendiri dan mampu bertanggung jawab atas hidupnya, tidak apa, 'kan?
Sabit mengusap kedua matanya yang terasa gatal. Ia beranjak bangun, membuka pintu lemari dan tidak sengaja pegang lipatan mukena.
Ada dorongan kuat untuk mengambil mukena itu. Melaksanakan sesuatu yang semakin hari semakin asing sebab ia selalu merasa belum pantas.
Hanya saja, kapan manusia bisa benar-benar sempurna untuk melaksanakan salat?
"Syarat solat tu waras ...."
"Supaya kita bisa ngerasa cukup, dan inget terus soal berdoa."
Ia ingat kata-kata Wirama, tapi bukan semata-mata sebab kalimat lelaki itu. Sabit lebih merasa ... ia butuh pegangan.
Hatinya sudah terlalu penuh, ia memang terlalu jauh dari Tuhan. Lupa berdoa. Namun, karena Tuhan Maha Pengampun, Sabit berharap dapat ampunan kali ini.
Sabit ingin menumpahkan segala kesah di hadapan Sang Maha Kuasa.
~``~
Dua hari lalu, Wirama iseng menggunting ujung rambutnya, alhasil panjang pendek. Jadi dia ke pangkas rambut. Memangkasnya sampai atas bahu dan tetap bisa diikat.
Rambutnya kini tampak rapi, tapi hati yang berantakan. Dia tidak tahu harus mulai membereskannya dari mana.
Es Americano miliknya sudah cair, bulir di gelas kaca berjatuhan menggenangi meja.
Laptopnya tetap terbuka. Kopinya pun belum disentuh. Wirama hanya menatap jendela, menerawang ke arah bangku beton yang pernah dia duduki bersama Sabit.
Beberapa hari belakangan, Wirama memilih bekerja di luar Vellichor. Semula dia kira menjauh dari Sabit akan membuatnya lebih tenang, lebih terkendali. Faktanya, dia justru semakin sulit fokus menyeleksi naskah cerpen OSA.
Apakah ini pilihan yang bijak? Kendati Sabit tidak memandangnya sinis, tapi Wirama takut, bagaimana ... seandainya ... jika ... semua itu terus menghantam Wirama meski dari luar dirinya terlihat seperti danau tanpa riak.
Ada malu yang lebih dalam dibanding ketika Wirama menghadapi diri sendiri. Dia tidak tahan jika memikirkan apa penilaian Sabit terhadapnya.
Sabit pasti menganggap yang buruk-buruk tentang Wirama.
Bahkan kemarin pagi, saat Wirama melihat Sabit memarkir motor, dia tidak mendekat, tidak menyapa atau menampakkan diri di depan Sabit.
Tidak juga bertanya bagaimana proses menulis Sabit, sudah sejauh apa, apakah sulit ... tapi, sekarang justru Wirama yang sulit menghadapi keadaan jika harus bertemu gadis itu.
Ponsel di samping laptop bergetar. Layarnya menyala. Wirama tetap abai, wajahnya tidak berekspresi apa-apa. Tetap menatap seperti itu, seolah-olah tidak ada hal lain yang bisa dilihat.
Sementara di Vellichor, Sabit mengirim bab enam naskahnya kepada Wirama.