Satu cerpen lagi Wirama baca sebelum merealisasi niat beristirahat, tapi justru fokusnya buyar sebab menangkap salah ketik. Bukan cuma satu. Bahkan urutan kalimatnya sulit dipahami.
Ini belum direvisi penulisnya, atau mungkin salah kirim naskah? Jangan-jangan, yang dikirim draf pertama?
Wirama melepas kacamatanya, melihat Sabit di seberang meja.
Sabit jadi lebih sering mengetik di sini lewat ponsel. Katanya, suasananya lebih adem. Padahal tempat kerja para penulis Vellichor juga berpendingin.
"Mbit?"
"Hm?"
"Ulet apa yang enak?"
Sabit terpaksa mendongak arah Wirama. Lelaki itu berdiri dari kursinya.
"Lo suka makan ulet?"
"Jawab ajaa."
"Mana gue tau?"
"Ngulet," kata Wirama, lalu merenggangkan badan.
"Menggeliat itu."
"Geliat gini?" Wirama memparodikan ulat yang jalan di batang kayu.
Sabit menahan tawa, lalu melempar pena yang ada di meja ke Wirama.
"Enak ya jadi penulis resmi Vellichor, bisa duduk nulis di ruang editor."
"Kita kan tim." Sabit kembali pada ponselnya.
"Kenapa gak pake laptop gitu, nyusahin diri." Wirama bicara sambil mengambil kacamata dan memakainya kembali.
"Gede, males bawanya. Meja lo juga berantakan. Sempit." Jempol Sabit berhenti mengetik. "Tapi emang sih, ternyata enak jadi penulis Vellichor."
"Iya, 'kan?" Wirama nadanya kayak orang mengompori.
"Vellichor udah punya penulis promosi, tapi mempekerjakan penulis tetap."
Wirama menjentik jari. "Berapa orang penulis novel di Vellichor?"
"Gak banyak, Ram."
"Nah. Cuma Vellichor yang nerima penulis ya sebagai penulis."
"Bener," timpal Sabit. Mukanya semringah sekali. "Orang lain susah buat masukin novelnya ke penerbit besar. Tapi gue masuk Vellichor."
"Kamu nulis genre apa pun, asal tulisan kamu gak kekurangan gizi, cerita kamu pasti diterima. Penulis luar? Ikutin mau pasar."
"Itu dia." Sabit menepuk sebelah dadanya pakai tangan kiri. "Gue bersyukur banget. Berarti kualitas tulisan gue diakui."
"Bener, bener. Tambah rajin, yaa."
"Gue rajin kok. Ini lagi nulis."
"Rajin bikinin kopi aku. Udah dulu nulisnya. Tolong bikinin kopi."
"Gue bukan budak lo, ya!"
"Emang bukan. Kapan kamu ngelahirin aku?"
Sabit melotot.
"Budak artinya anak."
"Serah lo ah! Mau kopi apa?!"
•••
Memasuki ruangan Ibu Vinka, Sabit mendapati semuanya masih seperti dulu. Vas bunga, lukisan, hingga susunan perabotnya seolah tak pernah bergeser sedikit pun.
Tanpa perlu diarahkan, Wirama dan Sabit mengambil tempat di sofa yang pernah mereka duduki saat mendapat proyek novel romansa.
"Gimana perkembangannya?"
"Udah berkembang, Bu." Sabit yang jawab, dan Wirama langsung mengernyit.
"Apanya yang berkembang?"
Tuh kan, dijawab begitu. Wirama sudah prediksi.
"Cerita, Bu."