Isekai Everywhere

Nuel Lubis
Chapter #47

Selamat dari Eksekusi Mati

Aku kaget bukan kepalang. Aku dijatuhi hukuman mati atas tuduhan yang tak bisa aku benarkan. Aku dituduh sebagai mata-mata Zionis. Itu juga karena aku ceplas-ceplos berbicara bahwa aku pernah ke Israel. Ke salah satu kota mereka, Tel Aviv. Ada kenalan di sana seperti Solomon, Eliza, dan Marco. Aduh, kalau begini jadinya, aku sebaik-baiknya tidak bercerita tentang isekai aku ke Israel.

Sekarang aku dipindahkan ke sel lainnya. Sel yang lebih suram. Kata Ian McGonagall, kemungkinan besar aku akan dikirim ke sel tempat para terpidana mati akan dieksekusi. Membayangkannya saja, aku sudah merinding.

Punggungku sakit sekali. Sipir di belakang aku, memukuli aku dengan tongkat kayu. Terkadang ia memakiku dengan bahasa Persia, yang lagi-lagi aku bisa pahami. Sudah kukatakan, kan, sejak petualangan isekai ini dimulai, di otakku, seperti ada fasilitas Google Translate.

Aku sekonyong-konyong menelan air liur. Dalam kondisi sekarang ini, aku hanya berharap timbul keajaiban. Ada gempa bumi, kek, lalu lubang hitam itu muncul lagi, untuk mengisap dan membawaku ke suatu masa lainnya. Itu terus yang aku doakan.

'Tuhan, kirimkan lubang hitam lagi, kumohon,' doaku dalam hati.

Punggungku masih terus ditusuk rasa sakit. Nafasku berat, dan keringat dingin mengucur deras dari pelipisku. Gelap. Hanya cahaya pucat dari ujung koridor yang menerobos jeruji besi usang ini. Bau lembap menyengat. Aku tak tahu apakah itu bau kematian, keputusasaan, atau hanya sisa-sisa ketakutan yang ditinggalkan tahanan sebelumnya.

Suara sepatu bot berderap di lantai beton. Aku terus dipukul, didorong, diolok. "F*cking Bastard Zionis!" teriak sipir itu berulang-ulang, seolah kata-katanya bisa menembus tengkorakku dan menghancurkan keyakinanku. Sesekali, ia tertawa pendek, sinis. Seolah ia menikmati setiap resah gelombang penderitaan yang menampakkan wajahku.

Aku tak lagi melawan. Bahkan tak menoleh. Satu-satunya yang aku genggam adalah harap. Harapan bahwa lubang hitam misterius itu datang lagi, merenggutku dari neraka buatan manusia ini.

"Lẹṭṭo—bangun," suara itu... bisikan serak di sebelahku.

Mataku terbelalak. Ternyata aku tak sendiri. Ada seorang laki-laki tua berwajah lelah. Matanya cekung, namun tajam. Janggutnya abu-abu kusut. Ia seperti pernah aku temui, tapi otakku tak sanggup mencari tahu. "Siapa...?"

"Aku Saeed," bisiknya dalam bahasa Persia, terdengar seperti bercampur aksen lain. "Mantan dosen linguistik. Hidupku berubah setelah aku dianggap membocorkan hasil penelitian kepada Barat. Kau tidak sendirian. Mereka juga..."

Saeed batuk. Dada tuanya bergerak naik turung dengan susah payah.

"...menghukumku tanpa bukti."

Aku menelan ludah. "Saeed, apa kau percaya... tentang hal-hal di luar nalar? Perjalanan... ke tempat lain? Waktu lain?"

Saeed memalingkan pandangannya. "Di sel ini... banyak orang kehilangan akal karena ketidakadilan. Tak jarang mereka membayangkan dunia lain untuk lari dari realita." Ia menatapku lama. "Tapi kau... tidak terlihat seperti orang gila. Aku bisa melihatnya dari matamu."

Aku membuka mulutku, ragu. Mungkin untuk pertama kalinya sejak kejatuhanku di Iran, aku benar-benar ingin berbagi. "Aku bukan orang gila, Saeed. Aku berpindah. Dari perang di Palestina, ke Kaliningrad, ke El Salvador, ke Jepang, ke... banyak tempat, banyak waktu. Selalu ada lubang hitam itu, yang mengisap dan melemparku. Aku tidak tahu kenapa. Atau untuk apa."

Lihat selengkapnya