Namanya Gunnar. Saat aku mendarat di Svalbard yang masih masuk ke dalam wilayah kedaulatan Norwegia, ia sedang sibuk menambang bersama teman-temannya.
Omong-omong, cuaca di Svalbard cukup dingin. Meski ada beberapa keistimewaan dari perjalanan isekai ini, sayangnya tubuhku ini tetap saja harus merasakan dinginnya hamparan salju di Svalbard ini. Untuk kali pertama, aku bisa memegang salju. Sebelumnya, belum pernah kurasakan. Saat di Kaliningrad, belum pernah kualami, situasi kota itu dalam kondisi bersalju.
Aku, Iman, kini berada di apartemennya Gunnar. Perapian sudah dinyalakan. Gunnar segera melepaskan mantelnya.
Gunnar tertawa. "Hahaha... tiba-tiba muncul, tanpa pakaian musim dingin, mengeluh kedinginan. Kau lucu, Kawan. Aneh juga. Kau seperti hantu di tengah malam. Konon, di wilayah ini, ada urban legend yang cukup dikenal publik. Mau dengar?"
Aku terkekeh dan mengangguk. Jujur aku selalu suka mendengar urban legend, meski itu terdengar horor.
Gunnar menepuk bahuku, seolah memastikan tubuhku yang menggigil itu tidak runtuh ke lantai. Ia lalu menuangkan semacam teh panas herbal dari panci kecil ke dalam dua cangkir seramik yang tampak sudah sering dipakai.
“Aku tidak punya kopi Indonesia,” ujarnya sambil tersenyum lebar. “tapi ini cukup untuk menghangatkan tulangmu.”
Aku mengangguk dan menyesap perlahan. Rasanya pahit dan sedikit berbau dedaunan kering, tapi begitu hangatnya merambat ke tenggorokan dan perutku, aku ingin menangis saking nyamannya.
Bau kayu terbakar dari perapian menciptakan aroma yang menenangkan, tapi jauh di luar jendela, alam Svalbard tampak gelap dan kosong. Langit hitam itu seperti tidak punya ujung. Lampu-lampu kecil dari permukiman Longyearbyen terlihat seperti titik-titik cahaya yang terancam ditelan kegelapan abadi.
Gunnar bersandar pada sofa, menyilangkan lengan, dan memandangku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.
“Tadi kau bertanya soal legenda lokal, bukan?”
Aku mengangguk. “Ya. Aku suka mendengar cerita seperti itu.”
“Baik,” ujar Gunnar sambil mengangkat alis. “tapi jangan menyesal kalau kau sampai mengompol.”
Ia mencondongkan tubuh. Wajahnya kini hanya beberapa jengkal dariku. Api perapian memantul di bola matanya, membuatnya tampak seperti seorang pencerita dari zaman kuno.
“Di Svalbard,” katanya pelan, “kami punya legenda tentang Den Som Aldri Dør.”
Aku mengernyit. “Apa artinya?”
“‘Ia Yang Tidak Pernah Mati.’ Satu sosok. Satu bayangan. Atau kadang… satu suara.”
Dingin merayap lagi ke kulitku padahal aku duduk tepat di depan perapian.
“Orang bilang,” lanjut Gunnar, “bahwa Svalbard— terutama Longyearbyen —tidak menerima jenazah.”
Aku mengangguk. “Ya. Karena permafrost—”
“Benar,” potongnya. “Tapi itu versi ilmiahnya. Versi yang boleh diketahui turis.” Gunnar memutar cangkirnya perlahan, suaranya menurun menjadi bisikan. “Versi asli… justru lebih gelap dan menyeramkan.”
Aku mematung.
“Konon,” katanya sambil menatap jendela yang diselimuti salju tebal, “di tanah Svalbard ini, ada sesuatu yang tidak mengizinkan tubuh manusia membusuk. Bukan sekadar dingin. Bukan sekadar tanah beku juga. Mau dengar kelanjutannya?”
Aku menelan ludah dan mengangguk. "Lanjutkan, Gunnar..."
“Karena ada makhluk yang… mempertahankannya untuk tetap hidup.”
Aku hampir tersedak. “Maksudmu… zombie?”
Gunnar tertawa pendek. “Ah, kalau hanya zombie, kami sudah biasa menghadapinya.”
Aku menegang.
Ia melanjutkan, “Den Som Aldri Dør bukan semata-mata mayat hidup. Ia bukan manusia. Ia bukan roh. Ia hanya… sebuah kesadaran kuno yang tinggal di perut bumi beku ini. Ia menarik kehidupan apapun yang mati di sini. Ia menyimpannya demi tujuan khusus. Konon ia…” Gunnar menoleh kembali padaku, “memeliharanya.”
Aku bergidik.