Isteriku Selingkuh Dengan Mafia

Hadi Hartono
Chapter #1

Awal Retakan

Pagi itu, Jakarta terasa berbeda. Udara panas pagi yang biasanya menyengat, kali ini terasa seperti beban berat yang tak terlihat membebani setiap langkah manusia yang berlalu-lalang di jalanan. Kemacetan yang mengular sepanjang jalan Sudirman sampai ke Semanggi seperti lukisan hidup yang tak berujung, di mana deretan kendaraan dan klakson bersahut-sahutan dalam simfoni kebisingan kota yang tiada henti. Di tengah hiruk-pikuk itu, Adrian Prasetya duduk dalam mobil hitamnya, menatap kosong ke depan, namun pikirannya berkecamuk tanpa henti.

Di kursi sebelahnya, sebuah kotak kayu kecil tergeletak, berhiaskan ukiran halus yang samar. Ukurannya tidak besar, hanya sebesar kotak perhiasan, tapi keberadaannya sekarang menjadi titik balik dalam hidup Adrian. Sebuah misteri yang selama ini tersembunyi mulai menampakkan diri, memaksa Adrian menghadapi kenyataan yang selama ini ia tolak dan abaikan. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, tapi rasa takut dan gelisah bercampur menjadi satu. Keringat dingin mengalir di telapak tangannya.

Sejak pagi, pikirannya terus terisi oleh peristiwa-peristiwa yang baru saja terjadi. Beberapa jam sebelumnya, ia masih duduk di meja makan bersama Nadia, istrinya, menyesap kopi hangat yang diseduh dengan cinta. Aroma kopi yang biasanya memberi kehangatan kini terasa asing, penuh dengan nuansa kecemasan yang tidak bisa dijelaskan. Nadia tampak sibuk dengan persiapannya, merapikan pakaian dan tas, tetapi ada sesuatu yang berbeda pada tatapan matanya yang dingin dan wajahnya yang tampak lebih tertutup dari biasanya.

“Nanti malam kamu pulang telat lagi?” tanya Nadia tanpa menatap Adrian, suaranya datar seperti suara mesin yang sudah lama tidak terpakai. Ada jarak yang tiba-tiba muncul di antara mereka, sebuah jurang yang tak tampak tapi terasa dalam.

Adrian hanya mengangguk, mencoba membalas dengan kalimat singkat agar tidak memicu pertengkaran. “Ada meeting sama investor di Senopati.”

Nadia mengangguk dan mengambil tas tangan bermerek yang jarang ia gunakan. Dengan gerakan cepat, ia menyemprotkan parfum baru—aroma yang tidak pernah dikenakannya selama lima tahun pernikahan mereka. Hal kecil itu memicu rasa curiga di dalam hati Adrian. Ia menatap istrinya lebih lama dari biasanya, berusaha membaca apa yang tersembunyi di balik senyum tipis yang dipaksakan.

“Kok parfum baru? Hadiah dari siapa?” tanya Adrian dengan suara setengah bercanda, tetapi matanya penuh pertanyaan.

“Oh, itu dari Dina. Katanya biar aku kelihatan lebih segar,” jawab Nadia, suaranya ringan, seolah ingin menepis rasa penasaran itu.

Nama Dina membuat Adrian terdiam sejenak. Sahabat dekat Nadia yang selalu muncul di saat-saat tak terduga, membawa undangan pesta mewah, atau mengajak berbelanja dengan gaya yang mencolok. Ia merasa Dina bukan hanya teman biasa, tapi ada sesuatu yang lebih dalam di balik kehadirannya. Suatu radar untuk dunia glamor dan misteri yang selama ini dijauhi Adrian.

Mereka berpisah pagi itu dengan ciuman singkat di pipi, tetapi Adrian merasakan dingin yang menusuk di balik sentuhan itu. Nadia terlihat terburu-buru pergi, seolah ada rahasia yang harus segera ia sembunyikan. Adrian berdiri di teras rumah, memandangi mobil putih istrinya menghilang di tikungan. Hatinya terasa berat, penuh kegelisahan yang tak bisa ia ungkapkan.

Tak lama kemudian, ponselnya bergetar. Suara Bagas, sahabat sekaligus sekutu setianya, memenuhi telinga. “Bro, gue nemu sesuatu yang harus lo lihat. Gak bisa lewat telepon, ketemuan di tempat biasa, ya?”

Adrian mengangguk meski tahu Bagas tidak bisa melihatnya. “Oke, gue otw.”

Lihat selengkapnya