Retakan yang Terlihat
Hujan baru saja reda ketika Adrian memutar kunci pintu rumahnya. Udara sore itu dingin, menyisakan aroma tanah basah yang masuk bersamaan dengan angin dari luar. Sepatu kulitnya yang sedikit becek ia lepas di depan, lalu ia menaruh jasnya di gantungan dekat pintu.
Rumah itu sunyi. Biasanya, di jam seperti ini, Nadia sudah menunggu di ruang tengah dengan secangkir teh melati kesukaannya. Namun kali ini, hanya terdengar suara pendingin ruangan dan detak jam dinding yang lambat.
“Nad?” Adrian memanggil sambil melangkah ke ruang makan.
Tak ada jawaban. Di meja makan, masih ada sisa piring kotor siang tadi. Sebuah gelas kristal setengah terisi anggur merah terlihat mencolok di antara piring-piring itu. Adrian memandanginya sebentar. Setahu dia, Nadia bukan tipe yang minum wine sendirian di siang bolong.
Ia membuka ponsel, mengetik cepat: Kamu di mana?
Pesan terkirim. Centang dua. Tak ada balasan.
Dua jam kemudian, suara pintu depan terbuka. Nadia masuk dengan langkah pelan, menaruh tas di sofa, lalu tersenyum tipis.
“Kamu sudah pulang,” ucapnya singkat.
“Ya. Dari mana?” tanya Adrian tanpa intonasi keras, hanya sekadar basa-basi—setidaknya untuk saat itu.
Nadia melepas sepatu hak tingginya. “Ketemu Dina. Ngobrol sebentar, lama di jalan karena hujan.”
Adrian hanya mengangguk, tapi matanya menangkap noda lipstik yang sedikit berantakan di bibir Nadia, seolah baru saja ia rapikan di mobil. Ia juga mencium aroma parfum yang berbeda—bukan yang biasa Nadia pakai.
Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi menahannya. Adrian terlalu paham bahwa pertanyaan yang salah bisa memicu perdebatan panjang yang tak perlu.
Malam itu, setelah Nadia tertidur, Adrian keluar ke balkon sambil membawa laptopnya. Ia membuka email, mencoba fokus pada pekerjaan, tapi pikirannya melayang. Beberapa minggu terakhir, ada banyak hal yang berubah:
Nadia lebih sering keluar rumah dengan alasan bertemu teman.Ponselnya selalu dalam mode silent dan jarang ia tinggalkan begitu saja.Ia mulai memakai pakaian dan aksesoris yang Adrian tidak pernah lihat sebelumnya.
Di tengah lamunannya, ponsel Adrian berbunyi. Nama Bagas muncul di layar.
“Bro, sorry ganggu. Gue ada info yang… kayaknya harus lo tau,” suara Bagas terdengar serius.
“Apa?”
“Gue tadi ketemu temen lama gue di salah satu lounge pusat kota. Dia bilang ngelihat Nadia di sana. Tapi… bukan sama Dina. Sama cowok. Tinggi, brewokan tipis, kayak orang asing.”
Adrian diam sejenak. Suara hujan yang kembali turun menjadi satu-satunya jeda di antara percakapan mereka.
“Kamu yakin?”
“Dia nggak cuma yakin. Dia ngelihat mereka duduk deket, ngobrol sambil ketawa-ketawa. Ada bodyguard yang berdiri di dekat meja mereka. Bro… ini kayaknya bukan orang biasa.”
Adrian menutup laptopnya perlahan. “Gue ngerti. Jangan bilang siapa-siapa dulu. Gue yang urus.”
Keesokan harinya, Adrian mencoba bersikap seperti biasa. Mereka sarapan bersama, membicarakan hal-hal remeh. Namun di balik senyum dan obrolan ringan, pikirannya sibuk menyusun rencana.
Ia memutuskan menemui Bagas secara langsung. Mereka bertemu di sebuah kafe kecil di daerah Menteng, tempat yang tenang dan jarang ramai.
Bagas datang membawa amplop cokelat. “Gue tahu lo butuh bukti, bukan cuma omongan. Gue dapet ini dari CCTV bar lounge itu. Temen gue yang ngurus keamanan di sana.”
Adrian membuka amplop itu. Beberapa foto cetak keluar. Di salah satu foto, jelas terlihat Nadia duduk berseberangan dengan seorang pria yang ia tak kenal. Wajahnya tegas, karismatik, mengenakan jas hitam. Mata pria itu menatap Nadia dengan intens, dan Nadia… tersenyum seperti wanita yang sedang jatuh cinta.
Adrian menatap foto itu lama. Tangannya mengepal, tapi ia berusaha mengatur napas.
“Gue kenal tatapan kayak gitu,” kata Bagas pelan. “Dan gue nggak suka ini.”