Isteriku Selingkuh Dengan Mafia

Hadi Hartono
Chapter #3

Panggilan Tengah Malam

Suara yang Mengusik Tidur

Rumah itu selalu tenang di tengah malam. Jam dinding di ruang tamu berdetak pelan, terdengar seperti bisikan waktu yang malas bergerak. Dari jendela, cahaya lampu jalan menyusup samar, membentuk bayangan-bayangan di lantai marmer yang dingin. Di kamar, Adrian terlelap, menyelimuti diri dengan selimut tipis.

Tapi malam itu, ada sesuatu yang mengusik.

Suara.

Bukan suara keras, bukan pula teriakan. Lebih seperti bisikan yang terbungkus kehangatan… atau kerahasiaan. Pelan, tapi cukup untuk menembus tidurnya. Adrian membuka mata, tidak langsung bangun. Ia mencoba memastikan—apakah itu mimpi? Tapi suara itu kembali terdengar. Lirih. Terputus-putus.

Ia mengangkat kepala. Matanya menyesuaikan pada kegelapan. Dari arah ruang tamu, ada cahaya samar, seperti lampu kecil yang sengaja tidak dinyalakan penuh. Nafas Adrian menahan di tenggorokan saat ia mulai mengenali suara itu.

Nadia. Istrinya.

Adrian mengerutkan kening. Jam menunjukkan pukul 12.47 malam. Ia tahu Nadia bukan tipe orang yang suka begadang tanpa alasan. Kalau ada pekerjaan mendesak, biasanya ia akan mengerjakan di kamar kerja dengan laptop terbuka dan headset menempel di telinga. Tapi kali ini… suara Nadia seperti sedang berbicara di telepon, tanpa tawa khasnya, tanpa nada formal yang biasa ia gunakan untuk urusan kerja. Nada itu… terlalu lembut. Terlalu intim.

Adrian duduk di tepi ranjang, mendengarkan. Ia tidak ingin langsung berprasangka, tapi ada sesuatu di nada itu yang membuat bulu kuduknya meremang.

“...iya… aku juga… kangen…”

Adrian membeku. Kata “kangen” itu seperti paku yang tiba-tiba menancap di pikirannya. Ia mencoba menepis—mungkin itu panggilan dari sahabat lama? Mungkin juga keluarga? Tapi siapa yang nelpon hampir jam satu pagi, lalu berbicara begitu… hangat?

Ia berdiri, melangkah pelan ke arah pintu kamar. Setiap langkah seperti menambah beban di dadanya. Dari celah pintu yang terbuka sedikit, ia bisa melihat bayangan Nadia di ruang tamu. Duduk di ujung sofa, tubuhnya sedikit membungkuk, ponsel di tangan, satu kaki menekuk ke sofa seperti posisi santai yang biasa ia lakukan kalau sedang berbicara dengan orang yang dekat dengannya.

Adrian bersandar di kusen pintu, mengamati. Nadia tidak sadar ia sedang diperhatikan.

“...nggak… dia nggak curiga kok… tenang aja…”

Suara itu membuat napas Adrian tercekat. ‘Dia’ yang dimaksud… jelas merujuk padanya.

Di kepalanya, berbagai kemungkinan bergantian menyerbu. Mungkin ini cuma teman lama yang bercanda. Mungkin juga proyek rahasia yang sedang ia tangani. Tapi, kenapa harus bilang “nggak curiga” dengan nada begitu?

Adrian menelan ludah. Ia tahu kalau ia masuk dan menegur sekarang, ia bisa langsung mendapatkan jawaban. Tapi bagian lain dalam dirinya ingin tahu lebih banyak—siapa di seberang sana? Apa yang mereka bicarakan? Dan… kenapa diucapkan dengan suara seperti itu?

Jam terus berdetak. Detik-detik terasa lambat.

“...iya… aku juga sayang…”

Kali ini, tubuh Adrian seperti tersetrum. Kata itu… ‘sayang’. Dan nada itu… tidak ada salah tafsir. Itu bukan panggilan untuk adik atau teman biasa. Itu panggilan untuk seseorang yang punya tempat khusus di hati.

Jantungnya mulai berdentam. Tangannya terkepal, tapi ia masih berdiri di tempat, mencoba mengendalikan emosi. Pandangannya fokus pada Nadia yang kini tersenyum samar, bibirnya bergerak pelan, seakan takut ada yang mendengar.

Tiba-tiba, Nadia menoleh sedikit ke arah lorong—arah kamar mereka. Adrian mundur setapak, menempelkan punggungnya ke dinding, jantungnya berdegup cepat. Ia menahan napas, takut suara detak jantungnya sendiri terdengar.

Beberapa detik hening. Lalu terdengar langkah pelan dari ruang tamu.

Adrian cepat-cepat kembali ke tepi ranjang, berpura-pura sedang mengambil minum dari botol di meja samping. Saat pintu kamar terbuka, Nadia berdiri di sana, ponsel sudah tidak di telinganya. Wajahnya datar, tapi mata itu… menyimpan sesuatu.

“Kamu belum tidur?” tanya Nadia, nadanya ringan, tapi sedikit tergesa.

Adrian menatapnya sejenak. “Kebangun. Dengar kamu ngobrol. Siapa?”

“Oh… temen lama,” jawab Nadia sambil berjalan ke sisi ranjangnya. “Nggak penting kok. Udah tidur lagi, besok kita bahas kalau mau.”

Adrian menatapnya lebih lama. “Temen lama jam segini?”

Nadia tersenyum tipis, tapi tidak menatap langsung. “Dia tinggal di luar negeri. Zona waktunya beda. Nggak sengaja aja jadi jam segini.”

Adrian hanya mengangguk pelan, mencoba membaca gerak tubuhnya. Tapi sebelum ia bisa bertanya lagi, Nadia sudah mematikan lampu kamar dan berbaring, membelakangi.

Gelap menelan mereka berdua. Tapi di kepala Adrian, percakapan tadi terus berputar. Kata ‘kangen’. Kata ‘sayang’. Dan kalimat ‘dia nggak curiga kok’.

Ia memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi tepat ketika ia mulai terlelap, dari luar kamar… terdengar getaran ponsel.

Getaran yang tidak panjang, tapi cukup untuk membuat matanya kembali terbuka.

Lihat selengkapnya