Isteriku Ternyata Sudah Tidak Perawan

Hadi Hartono
Chapter #1

Prolog - Menimbang Pernikahan

Prolog – Menimbang Pernikahan

Hujan rintik membasahi kota malam itu. Lampu jalan memantul di jalan basah, menciptakan bayangan yang berpendar lembut di jendela apartemen Arga. Di dalam, Arga duduk termenung di kursi kayu ruang tamunya. Gelas kopi di depannya nyaris tak tersentuh. Pikirannya tak henti-hentinya menimbang Hana, wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya.

“Apakah aku benar-benar mengenalnya?” batin Arga. “Apakah ia orang yang tepat untuk kupercaya sepenuhnya?”

Ia menatap secarik kertas yang berisi catatan kecilnya—daftar hal-hal yang harus ia perhatikan: integritas, kesetiaan, kesiapan emosional, kesesuaian visi hidup, dan hal-hal yang tidak bisa terlihat dari permukaan, tapi ia rasakan intuitif. Hati Arga bergejolak. Hana adalah wanita cerdas, penuh perhatian, selalu membuatnya merasa aman, tapi sesuatu terasa tersembunyi. Ada bagian dalam dirinya yang merasakan ketegangan setiap kali Hana menghindari pertanyaan tertentu atau tersenyum dengan cara yang terlalu sempurna.

Sementara itu, Hana sedang menata meja rias di kamarnya sendiri, jauh dari pandangan Arga. Ia tersenyum pahit melihat foto-foto masa lalunya, kenangan yang membuat dadanya sesak. Ia tahu Arga akan menjadi suaminya, tapi dalam hati, ia menimbang: haruskah ia mengungkap semuanya sekarang? Ataukah cukup diam, menjaga rahasianya agar tidak merusak kesempatan yang telah lama ia dambakan?

“Aku harus menjaga semuanya tetap rapi, meski itu berarti menutupi sebagian dari diriku sendiri,” pikir Hana, menahan napas sejenak. Ia tidak ingin Arga berubah pandangan atau menilai masa lalunya sebagai alasan untuk ragu. Senyum yang dipaksakan itu menjadi tamengnya, sementara di balik mata indahnya, ada rahasia yang berat menekan.

Di ruang tamu, Arga terus memikirkan berbagai kemungkinan. Ia mencoba menilai Hana dari setiap kata, setiap gerak tubuh, dan setiap nada suaranya. Arga tahu, ada sesuatu yang tersembunyi—sesuatu yang ia rasakan tapi belum bisa ia pahami sepenuhnya. Ketidakpastian itu membuatnya gelisah.

“Kau kelihatan murung,” kata Hana sambil memasuki ruang tamu, senyumnya hangat, tapi Arga menangkap sedikit ketegangan di tatapannya.

“Ah, tidak apa-apa… hanya memikirkan banyak hal,” jawab Arga, menahan diri agar nada suaranya tidak terdengar khawatir. Namun di dalam hatinya, ia terus menebak: apakah ada sesuatu yang Hana sembunyikan?

Mereka duduk berdampingan di sofa, jarak fisik dekat, tetapi jarak emosional terasa jauh. Arga menatap Hana, mencoba membaca ekspresi yang samar itu. Ia ingin bertanya, tapi rasa ingin tahu dan rasa takut bercampur aduk.

“Jika aku bertanya langsung, ia mungkin tersinggung atau menutup diri. Tapi jika aku diam, rasa penasaran ini akan membesar. Apa yang harus kulakukan?” batin Arga. Ia merasa seperti berada di persimpangan jalan—antara kejujuran dan ketidakpastian, antara cinta dan rasa waswas.

Hana, sadar bahwa Arga menatapnya terlalu lama, memaksakan senyum lagi. “Kau terlihat seperti sedang merenung dalam-dalam,” katanya ringan.

Arga tersenyum tipis. “Hanya memikirkan banyak hal saja… tentang kita.” Ia memilih kata-kata itu hati-hati, agar tidak menekan Hana. Namun hatinya tetap bertanya-tanya: apa yang benar-benar disimpan Hana darinya?

Lihat selengkapnya