Isteriku Ternyata Sudah Tidak Perawan

Hadi Hartono
Chapter #2

Pernikahan Arga dan Hana


Akad dan Persiapan

Pagi itu, langit di atas Jakarta cerah dan hangat. Matahari baru menanjak, menembus sela-sela jendela rumah Hana Larasati. Di halaman, bunga melati dan mawar tertata rapi, aroma harum mereka menyatu dengan wangi kue-kue tradisional yang disiapkan untuk tamu. Suara gelas, piring, dan tawa ringan bersahutan, menciptakan hiruk-pikuk khas hari besar.

Hana berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Gaun putih panjang menempel pas di tubuhnya, renda halus memantulkan cahaya lampu, sementara veil tipis membingkai wajahnya. Tangannya gemetar ringan saat ia menyisir rambut panjang yang ditata rapi. Ia tersenyum tipis, namun dadanya terasa sesak.

“Tenang, Hana… hari ini akan baik-baik saja,” gumamnya pelan, mencoba menenangkan diri. Tapi matanya tidak bisa bohong. Ada sedikit keraguan yang menempel di pandangan, bayangan masa lalu yang terus menempel, dan rasa takut akan penilaian keluarga Arga.

Mira, adik Hana yang selalu riang, menghampirinya sambil membawa seikat bunga putih. “Kak, aku nggak sabar lihat Arga reaksinya nanti!” suaranya ceria, tapi matanya juga memancarkan rasa tegang.

Hana tersenyum tipis. “Mira… semuanya akan baik. Kita sudah persiapkan ini dengan matang.”

Mira menggenggam tangan kakaknya sebentar. “Iya, tapi kakak harus siap menghadapi ibu Arga ya… jangan sampai salah langkah sedikit saja.”

Hana menelan ludah. “Aku tahu, Mira. Aku harus kuat.”

Di rumah Arga, suasana juga sibuk. Arga Pratama berdiri tegak di depan cermin, jas rapi menempel sempurna di tubuhnya. Peci hitam menambah kesan serius pada wajahnya. Ia menatap cermin panjang, mencoba menenangkan diri.

“Arga, kau harus jaga Hana baik-baik. Jangan sampai ada kesan kau tidak menghargainya,” suara Ibu Arga terdengar di sampingnya, tegas dan penuh perhatian.

Arga mengangguk. “Ibu, aku akan melakukan yang terbaik. Aku ingin Hana bahagia, selalu.”

Siti Pratama mengerutkan alis, puas melihat kepastian di mata putranya, tapi tetap ada rasa waswas. Ia tahu Arga perfeksionis, setia, tapi tetap manusia biasa yang bisa goyah dalam tekanan emosional.

Masjid tempat akad sudah siap. Karpet merah membentang, kursi tamu tertata rapi, dan penghulu berdiri di depan, siap memimpin prosesi. Arga berdiri di sisi kanan, menatap pintu masuk dengan napas berat tapi mata tetap fokus.

Ketika Hana melangkah masuk, semua mata tertuju padanya. Gaun putih dan veil tipis membuatnya bersinar di antara cahaya lampu masjid. Tapi Arga langsung menangkap kilatan ragu di matanya. Jantungnya berdesir. Ia menelan ludah dan menarik napas panjang. Ia harus kuat, harus menenangkan Hana, sekaligus menenangkan dirinya sendiri.

Penghulu memulai akad. “Saudara Arga Pratama, apakah bersedia menikahi Hana Larasati dengan mahar dan haknya sesuai syariat?”

Arga menatap Hana sejenak, menahan perasaan yang campur aduk antara bahagia dan sedikit cemas. “Aku terima, dengan niat tulus dan penuh tanggung jawab,” jawabnya mantap.

Hana menunduk sebentar, menahan napas, lalu menjawab lembut: “Aku terima juga, Insya Allah.”

Tamu-tamu tersenyum dan memberikan tepuk tangan ringan. Arga menggenggam tangan Hana dengan lembut, menatap matanya, seolah mencoba menyampaikan satu pesan tanpa kata: Aku akan selalu ada untukmu.

Selesai akad, suasana berubah menjadi santai. Keluarga kedua mempelai menghampiri, memberikan ucapan selamat. Siti Pratama menatap Hana dengan tatapan serius namun penuh harapan. “Semoga kalian bisa menjaga satu sama lain, dan menjadi pasangan yang harmonis,” kata ibu Arga.

Hana menunduk hormat. “Insya Allah, Bu.”

Ayah Hana, Budi Larasati, juga hadir. Matanya tajam, menilai setiap gerak-gerik putrinya. “Hana, jaga diri dan kehormatan keluarga. Jangan sampai ada hal yang membuat kita menyesal,” katanya tegas.

Hana menelan ludah. Ia ingin menjelaskan banyak hal, tapi rasa takut dan ketidakpastian menahannya. Ia hanya bisa tersenyum dan mengangguk.

Mira berdiri di sisi kakaknya, matanya berbinar-binar. “Kak, aku senang banget kalian akhirnya menikah. Aku ikut deg-degan juga!”

Lihat selengkapnya