Isteriku Ternyata Sudah Tidak Perawan

Hadi Hartono
Chapter #3

Malam Pertama

Malam Pertama

Suara riuh musik dangdut koplo bercampur dengan tawa para tamu undangan. Lampu-lampu gantung di tenda besar itu memantulkan cahaya kekuningan yang hangat, membuat suasana malam semakin semarak. Aroma sate kambing, gulai, dan nasi kuning memenuhi udara.

Di pelaminan, Arga duduk tegak, mengenakan setelan jas hitam yang rapi. Kemejanya putih bersih, dasinya warna marun, dan rambutnya tertata klimis. Di sampingnya, Hana duduk anggun dalam balutan kebaya modern warna pastel yang dipenuhi payet berkilau. Wajahnya cantik dengan riasan tipis, tapi cukup untuk menonjolkan kecantikan alaminya.

“Seneng banget akhirnya kalian nikah, ya,” ujar Tante Nani, salah satu tamu, sambil menyalami Arga dan Hana. “Doa saya, langgeng sampai kakek-nenek, ya!”

“Terima kasih, Tante,” jawab Hana sambil tersenyum.

Arga menambahkan, “Amin. Terima kasih doanya, Tante.”

Sepanjang acara, senyum itu terus Hana pertahankan, meski dalam hati ia diliputi rasa campur aduk. Ada bahagia, haru, tapi juga sebersit gugup yang sulit dijelaskan. Ia sesekali melirik Arga, mencoba memastikan ekspresi suaminya tetap tenang.

Arga sendiri sibuk menyapa tamu-tamu yang datang. Meski lelah karena sejak pagi sudah dikejar persiapan, ia tetap ramah. Namun di sela-sela itu, ia juga memperhatikan Hana.

“Hana kelihatan capek banget, apa cuma perasaanku?” pikirnya.

Acara resepsi selesai menjelang malam. Beberapa kerabat membantu membereskan sisa-sisa makanan dan dekorasi. Hana duduk di kursi dekat pelaminan, melepas high heels-nya sambil memijat pelan telapak kakinya.

“Capek banget?” Arga menghampiri sambil membawa segelas air putih.

“Iya, lumayan. Rasanya mau tidur tiga hari,” jawab Hana sambil menerima gelas itu.

Arga tertawa kecil. “Sabar, malam ini masih ada ‘acara’ lagi.”

Hana langsung menunduk, pipinya memerah. “Acara apaan?” tanyanya, pura-pura tak mengerti.

“Ya… acara pindahan ke rumah baru,” jawab Arga sambil mengedipkan mata.

Hana ikut tertawa, walau ada sedikit kegugupan di balik tawanya. “Kirain apa…”

Mereka berdua lantas menuju mobil yang sudah disiapkan. Sepanjang perjalanan menuju rumah, mereka jarang bicara. Hanya sesekali Arga mengomentari lampu-lampu kota, dan Hana membalas seadanya.

Dalam hati, Hana mencoba menenangkan diri. Tenang… ini cuma malam pertama. Semua orang juga ngalamin. Nggak usah overthinking. Tapi tetap saja, dadanya berdegup lebih kencang dari biasanya.

Rumah baru mereka berada di kawasan perumahan sederhana namun nyaman. Halamannya kecil dengan tanaman hias di pot-pot. Begitu masuk, aroma cat tembok baru masih terasa.

“Selamat datang di istana kita,” kata Arga sambil membuka pintu.

Hana tersenyum. “Bagus banget, Ga. Kamu bener-bener niat nyiapinnya.”

Arga mengangkat koper Hana masuk. “Ya iyalah. Masa istri baru disambut seadanya.”

Malam itu mereka duduk di ruang tengah, makan malam sederhana yang dibawa dari rumah orang tua Arga—nasi uduk lengkap dengan ayam goreng dan sambal kacang.

“Gimana rasanya jadi istri resmi?” tanya Arga sambil menyendok nasi.

“Masih nggak nyangka,” jawab Hana. “Baru kemarin rasanya kita jadian, sekarang udah sah jadi suami istri.”

Arga mengangguk. “Aku juga. Tapi aku seneng banget.”

Mata mereka bertemu. Hana tersenyum, namun senyum itu hanya bertahan sebentar sebelum ia memalingkan wajah. Ada sesuatu yang membuatnya enggan menatap terlalu lama.

Setelah makan malam, mereka masuk ke kamar utama. Kamar itu masih wangi sprei baru, dengan dinding warna krem lembut.

Arga melepaskan jasnya, lalu meletakkannya di kursi. “Hana, kamu mau mandi duluan atau aku?”

“Kamu dulu aja,” jawab Hana cepat.

Arga mengangguk, lalu masuk ke kamar mandi. Begitu pintu tertutup, Hana duduk di tepi ranjang. Tangannya memegang ujung selendang kebaya yang sudah setengah lepas. Nafasnya terasa berat.

Harusnya aku santai aja. Ini wajar… pikirnya. Tapi ada rasa cemas yang makin lama makin kuat. Ia takut Arga nanti akan bertanya-tanya, atau lebih buruk lagi, kecewa.

Ketika Arga keluar dengan kaos santai dan celana pendek, ia tersenyum hangat. “Giliran kamu, Han.”

Lihat selengkapnya