Sepanjang perjalanan, Ayah hanya diam termenung sambil fokus menyetir. Ia tidak bersuara sepatah kata pun. Aku melihat Ayah beberapa kali mengusap wajahnya dengan kasar.
Kebisingan suara kendaraan dan bunyi klakson yang bersautan seakan tidak terdengar olehnya. Saat Tante Juwita mengajaknya bicara, Ayah juga seolah tak mendengar. Bahkan aku buang angin dengan keras pun, tidak terdengar olehnya.
Namun, makhluk astral itu mendengarnya dengan jelas. "Ih, jorok banget, sih!"
"Jangan berani membentak anakku!" Ayah yang sedari tadi diam tiba-tiba berbicara dengan nada tinggi kepada istri barunya. "Aku sengaja membawa kamu ke sini supaya kamu bisa mengurus dia. Apa kamu lupa dengan perjanjiannya?"
"Tapi, Mas. Dia itu bandel! Kalau aku tahu anakmu sebandel ini, aku tidak mau menikah denganmu."
"Dia tidak bandel, kamu saja yang belum mengenal Syafana. Makanya dekati dia, jangan dibentak-bentak seperti tadi. Turuti saja semua yang dia inginkan, ingat itu!"
Mereka terus beradu mulut, sampai akhirnya Ayah berhenti berbicara karena menyadari bahwa aku ada di dalam mobilnya sedang diam menyimak pertengkaran mereka, sambil mengupil dengan khusu.
Ayah menghela napas berat, lalu mengusap keringat dingin yang membanjiri keningnya.
"Aku tidak pernah melihat Ayah sangat marah dan berbicara dengan nada tinggi seperti tadi. Ada apa sebenarnya ini? Perjanjian apa yang mereka bicarakan? Apa mereka bekerja sama untuk menyingkirkan Ibu dan ingin memisahkanku dengannya? Oh, tidak Marisol! Kalian harus hadapi aku dulu."
Gedung sekolah mulai terlihat olehku dari balik jendela mobil. Aku langsung turun saat Ayah menghentikan mobilnya.
"Sayang, kamu jangan nakal di sekolah barumu ini, yah. Kamu harus jadi anak yang pintar." Ayah berbicara sambil mengusap kepalaku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Iya, Yah." Aku mengangguk, lalu menghampiri Tante Juwita. "Tan, bisa tolong bawakan tasku? Pundak aku sakit, nih."
"Apa?" Makhluk astral itu menganga.
Kemudian, ia melirik ke arah Ayah yang sedang menyeka air mata. Aku tidak tahu kenapa pria itu terlihat ingin menangis? Apa dia menyesal karena sudah menyakitiku dan Ibu? Aku tidak perduli, hati ini sudah terlanjur kecewa kepadanya.
"Baiklah, sini tasnya." Aku langsung melemparkan tasku ke wajahnya yang abstrak itu.
Dia pun kembali menganga dengan kedua tangan yang mengepal karena emosinya mulai tersulut. Namun, dia berusaha bersabar dengan ulahku.
Aku lalu berjalan santai melewati para siswa lain dan menjitak salah satu dari mereka karena menghalangi jalan. Tante Juwita yang mengikutiku dari belakang sontak terperanga kaget.
"Ya ampun, gadis kecil ini ternyata tidak seperti ibunya yang lugu dan pendiam. Dia lebih mirip seperti preman di pasar yang suka memalak pedagang kentang," gumam makhluk astral itu yang terdengar jelas di telinga ini.
Kaki kami lalu menaiki anak tangga karena kelasku ada di lantai dua. Setelah sampai di depan kelas. Aku mengambil tas dari perempuan itu.
"Oke, terima kasih Tante Gurita.
"Namaku Juwita, catet tuh di gigimu biar enggak lupa! Gurita, gurita. Ya sudah, aku pergi dulu!" pamitnya sambil memalingkan wajah.
"Tante!" panggilku.