Istri Baru Ayahku

Yuli Yastri
Chapter #4

Bab 4

"Siapa itu yang bicara?" tanya Bu Mini dengan raut wajah yang kesal. Semua murid pun langsung melirik ke arahku. "Heh, kamu ayok ke depan!"

Aku berdiri dan menghampiri perempuan yang tubuhnya kurang tinggi itu sambil merapikan baju. Bu Mini berkacak pinggang, lalu memperhatikan penampilanku dengan seksama.

"Sepertinya saya tidak melihat kamu saat masa orientasi siswa?" tanyanya dengan mata memicing.

"Aku tidak ikut MOS, Bu," jawabku santai.

"Oh, begitu ... ya sudah, sekarang perkenalkan diri kamu kepada teman-teman barumu." Bu kepala sekolah berbicara dengan memasang wajah judes karena masih kesal kepadaku.

"Baik, Bu." Aku berdiri menghadap ke arah para siswa dan siswi. "Assalamualaikum. Namaku Syafana Almira. Hobiku makan biji nangka, lubang hidungku ada dua, dan cita-citaku ingin memusnahkan para pelakor yang ada di dunia!"

"Merdeka!" seru Bu Mini dengan semangat yang menggebu-gebu sambil mengepalkan tangan dan mengacungkannya ke atas.

Aku yang berdiri di sampingnya pun terperanjat kaget, sedangkan para murid hanya diam menopang dagu sambil menguap seperti buaya.

Matahari siang ini enggan ke luar untuk menghangatkan bumi. Sehingga cuaca menjadi dingin, ditambah semilir angin yang menusuk kulit membuat semua murid terkantuk-kantuk saat mengikuti pelajaran.

Namun, akhirnya bel pulang pun berbunyi. Semua murid langsung berlarian ke luar kelas sambil bersorak kegirangan.

Aku sebenarnya tidak mau pulang ke rumah, karena malas harus melihat si siluman rubah. Setiap memandang wajahnya yang abstrak itu, aku selalu merasa ingin muntah ban motor. 

Badan ini melemas saat sadar bahwa kondisi keluargaku yang dulu sangat bahagia, sekarang ada orang ketiga yang mengacaukan semuanya.

Aku tidak tahu? Apa aku bisa menjalani hari-hari berikutnya dengan keadaan seperti ini? Dinding hati seakan roboh dan membuat semangat hidup menghilang. 

Melihat reaksi Ibu yang tampak santai dan seolah tidak ada masalah, justru membuatku menjadi sangat terluka. Aku lebih baik melihatnya menangis daripada seperti itu.

Mata ini seketika berembun ketika melihat ada murid yang dijemput kedua orang tuanya. Tidak boleh ada yang melihatku menangis, aku pun menghapus air mata yang hampir jatuh bersamaan dengan kenangan indah bersama Ayah.

"Sya, elu enggak dijemput sama Ayah lu?" Syantika tiba-tiba bertanya sambil menggandengku. "Elu masih mikir soal istri baru ayah lu itu, yah? Udah, elu jangan khawatir atau sedih. Gue yakin, ibu lu diam itu pasti lagi bikin rencana mau nelen tuh si pelakor!"

"Elu pikir Ibu gue ular sanca kembang yang bisa nelen orang?" Aku mencebik kesal.

Kami pulang berjalan kaki bersama sambil bercanda saling kejar, lari-larian, lalu ngesot. Di tengah perjalanan, kami beristirahat dulu sambil jajan snack berhadiah korek kuping.

Di persimpangan jalan, kami akhirnya berpisah. Syantika pergi ke arah barat dan aku ke arah timur. Aku sampai di rumah sedikit telat, karena tadi aku menggambar batok kelapa dulu di tembok-tembok rumah warga sekitar.

Dari kecil aku memang suka sekali menggambar. Hampir setiap hari aku melukis keindahan alam atau sketsa wajah, dan kadang menggambar kotoran ayam.

"Syafana, tadi Ayah menjemput kamu ke sekolah, tapi kamu tidak ada. Kamu ke mana aja?" tanya Pria yang sekarang bukan lagi menjadi idolaku.

Kaki ini terus melangkah menuju kamar dan tidak menghiraukan pertanyaan Ayah. Ia pun kemudian mecekalku di ambang pintu.

Lihat selengkapnya