"Ada apa ini ribut-ribut?" Ayah ke luar menghampiri kami.
"Liat, Mas. Anakmu bikin ulah lagi. Aku tadi diserang sama ibu-ibu kompleks. Mereka bilang kalau aku ini pelakor. Padahal aku, kan, manusia." Si siluman rubah mulai mengadu.
"Tante emang manusia, tapi hidungnya mirip seperti vacuum cleaner," celetukku yang langsung digertak oleh perempuan itu.
"Diam kamu, anak nakal!"
"Sudah kubilang, jangan menggertak anakku!" Ayah memarahi istri barunya.
"Kalau gitu, bilang sama dia. Jangan terus membuatku naik darah. Kalau tidak, aku akan pergi dari rumah ini!" ancam sang siluman rubah.
"Ya udah, kamu diam dulu. Jangan mudah emosi. Nanti wajahmu berkeriput." Ayah mencoba menenangkan istri barunya.
Kemudian, pria itu perlahan mendekatiku. "Sayang, apa yang kamu katakan sama ibu-ibu tadi sampai mereka menyerang Tante Juwita?"
Aku melirik sejenak ke arah perempuan yang berdiri di samping Ayah. "Tadi mereka bertanya, wanita itu siapa? Terus aku langsung jawab kalau Tante Gurita itu istri baru Ayah. Salahku di mana coba?"
Rahang Tante Juwita mendadak mengeras, hingga urat di lehernya terlihat jelas. Ia merasa geram dan ingin kembali menggertakku, karena namanya salah disebut.
Namun, perempuan yang selalu memakai baju kelihatan ketiak itu tidak bisa berbuat apa-apa, karena takut dimarahi lagi oleh Ayah.
"Harusnya kamu tidak boleh menjawabnya," ucap Ayah seraya memegang pundak ini.
"Loh, kenapa? Ayah itu plin-plan, katanya kalau ada orang yang bertanya harus dijawab, tidak sopan jika tidak dijawab." Aku memutar bola mataku ke atas dan melihat cicak sedang semedi.
"I--iya itu benar, tapi maksud ayah---" Pria itu tidak bisa lagi membalas ucapanku.
"Letak kesalahanku di mana? Aku, kan, selalu menuruti semua perkataan Ayah." Aku menatap wajah pria itu yang tampak memucat.
"Sudahlah, pokoknya kamu jangan bilang lagi sama semua orang kalau Tante Juwita itu istri baru Ayah," titahnya mengakhiri percakapan.
Namun, Ibu tiba-tiba muncul dan berdiri di belakangku. "Harusnya sejak kamu berniat membawa dia ke rumah ini, kamu sudah tahu dan siap menanggung segala risikonya, Mas. Para tetangga lambat laun akan tahu siapa dia, tidak mungkin kamu menyembunyikannya terus di rumah, 'kan? Status dia sebagai istri keduamu itu pasti akan dianggap sebagai pelakor. Meskipun mungkin, niatmu menikah lagi itu baik menurutmu."
Aku bergeming menyimak perkataan Ibu. Setelah seharian diam, akhirnya ia bicara juga. Ayah pun seolah membisu dan membatu.
"Anak kita masih kecil dan polos. Dia hanya bisa menuruti semua perkataan kita, tanpa tahu apakah ucapan jujur yang dia lontarkan itu bisa menimbulkan permasalahan atau tidak? Yang dia tahu hanyalah, dia harus berkata jujur karena kalau berbohong itu dosa." Ibu melanjutkan perkataannya.
Ayah sama sekali tidak menjawab ucapan Ibu, ia masih diam terpaku. Sementara istri barunya menggerogoti pintu, karena geram ingin memakanku.