Istri Baru Ayahku

Yuli Yastri
Chapter #6

Bab 6

Salah satu dari mereka kemudian mendekatiku. "Syafana, kita tidak marah kok, kalau kamu mau mencoret-coret lagi tembok rumah kita. Mau corat-coret di wajah dia pun tidak apa-apa."

"Apalah kau ini, mukaku pula kau bawa-bawa lagi?!" Kau pikir mukaku datar seperti kertas?! 

Mereka malah bertengkar. Ibu pun kemudian menghampiri para tetangga yang memakai daster bermotif sayuran kangkung tersebut. 

"Maaf yah, ibu-ibu ... karena anak saya sudah sering membuat kalian kesal."

"Tak apalah, tak usah kau minta maaf. Batok kelapa yang anak kau buat di tembok rumah kami tak kami hapus, kok. Kami suka kali sama gambar tuh."

"Iya, betul itu. Setelah kami lihat-lihat, ternyata rumah kita menjadi terlihat lebih indah dengan nuansa folkadot berkat gambar batok kelapa itu."

"Syukurlah, kalau begitu saya pamit dulu yah ibu-ibu. Soalnya anak saya takut terlambat ke sekolah." Ibu bergegas pergi meninggalkan mereka sambil menarik pergelangan tanganku.

Setelah kami berlalu, mereka masih terdengar membicarakan soal Ibu dan istri baru Ayah. Sampai guru ngajiku pun datang menghampiri mereka semua.

"Assalamualaikum ... ibu-ibu, dari jauh saya menghiruk ada bau-bau ghibah di sini. Ingat yah, ghibah itu dilarang dalam agama kita. Karena seperti memakan bangkai saudaranya sendiri."

"Eh, Ustazah, waalaikumsalam. Kita tidak berghibah, kok."

"Betul itu, mana ada kita berghibah?"

"Kita hanya sedang perihatian sama nasib Jeng Salwa, suaminya itu menikah lagi. Kita, kan, jadi ikut geram."

"Hah? Kasihan sekali Bu Salwa. Apa istri barunya itu dibawa ke sini? Eh, astagfirullah ... kenapa saya jadi ikut berghibah sama kalian?" Ustazah menepuk jidatnya sendiri, lalu menggeleng. "Saya pamit yah, mau ke pengajian di kampung rawa bangke dulu. Assalamualaikum."

Aku dan Ibu akhirnya sampai di gerbang sekolah. Para murid lain pun sudah mulai berdatangan. Aku juga melihat Syantika sedang mengantri membeli batagor Mang Robert.

Ibu memicingkan mata melihat ke dalam halaman sekolah, lalu tersenyum kecil. Mungkin ia sedang teringat masa-masa saat sekolah di SMP dulu, di mana hanya ada canda tawa bersama teman.

Tidak seperti sekarang, beban hidup seakan membuat dadanya merasa sesak hingga sulit bernapas. Namun, Ibu selalu berusaha tetap terlihat kuat dan tegar demi aku. 

"Ya udah, Ibu pulang dulu. Kamu yang pintar sekolahnya, yah. Dan ingat, jangan nakal!" pesan Ibu dengan telunjuk mengacung di depan wajahku sebagai tanda peringatan.

"Iya, Bu. Hati-hati di jalan." Aku mencium punggung tangannya. 

"Anak pintar." Ibu mencium kepala ini yang tertutup hijab segi empat berwarna putih. 

Hari ini wajah Ibu tampak berseri, tidak seperti hari kemarin saat pertama kali siluman rubah datang ke rumah. Setelah Ibu berjalan semakin menjauh, aku pun masuk ke sekolah.

Lihat selengkapnya