Lilin aromaterapi beraroma vanilla dan lavender menguar tipis di udara, memenuhi sudut butik pengantin yang didominasi warna putih gading. Di depan cermin raksasa yang membingkai seluruh tubuhnya, Evaneska Wijaya mematung. Pantulan dirinya dalam balutan gaun berbahan satin sutra dengan aksen brokat halus di bagian bahu tampak begitu asing, sekaligus menakjubkan. Eva menyentuh permukaan kain itu dengan ujung jemarinya, merasakan tekstur rumit yang dirajut dengan penuh ketelitian, seolah setiap helai benangnya menyimpan doa-doa tentang kebahagiaan masa depan.
“Bagaimana menurut kamu, Kadri?” tanya Eva tanpa mengalihkan pandangan dari cermin. Suaranya sedikit bergetar, terhimpit antara rasa haru dan kegugupan yang wajar dirasakan calon pengantin.
Kadri Handoko, yang sedari tadi duduk tenang di sofa beludru sambil membolak-balik jurnal psikiatri di pangkuannya, kini mendongak. Ia meletakkan jurnal itu, lalu berdiri perlahan. Langkah kakinya yang mantap terdengar di atas lantai kayu yang dipoles mengkilap. Pria itu berdiri tepat di belakang Eva, menciptakan kontras yang sempurna. Kadri dengan kemeja biru navy yang rapi dan kacamata berbingkai tipis yang memberinya kesan intelek sekaligus hangat, bersanding dengan Eva yang tampak seperti dewi dari lukisan klasik.
“Sempurna,” jawab Kadri pendek, namun tatapannya berbicara lebih banyak dari ribuan kata. Ia meletakkan kedua tangannya di bahu Eva, memberikan remasan lembut yang menenangkan. “Kamu terlihat seperti jawaban dari semua pertanyaan yang pernah aku miliki tentang masa depan, Va.”
Eva tersenyum, pipinya merona merah muda. Ia berbalik, membiarkan ekor gaunnya menyapu lantai dengan bunyi gemerisik yang halus. Ia menatap tunangannya, pria yang telah menemaninya selama tiga tahun terakhir. Kadri bukan hanya kekasih, ia adalah muse bagi imajinasi Eva yang sering kali meluap-luap sebagai seorang desainer grafis. Di saat Eva tersesat dalam kerumitan warna dan bentuk di kepalanya, Kadri selalu ada untuk menariknya kembali ke permukaan dengan logika dan kasih sayang.
Kadri kemudian meraih tangan kanan Eva, mengamati jari-jari lentik itu sebelum beralih ke tangan kiri. Di jari manis Eva, sebuah cincin emas putih dengan berlian tunggal di tengahnya berkilau menangkap pendar lampu butik. Cincin itu adalah janji yang mereka ikatkan dua bulan lalu.
“Aku sudah menjadwalkan cuti dua minggu untuk bulan madu kita nanti,” kata Kadri sambil mengusap punggung tangan Eva dengan ibu jarinya. Kulit Kadri terasa hangat dan sedikit kasar, memberikan sensasi yang selalu berhasil membuat Eva merasa aman. “Saras sudah mengirimkan draf terakhir undangan pagi ini. Semua berjalan sesuai rencana, sayang.”
Eva mengangguk, namun tiba-tiba sebuah rasa pening yang sangat tipis menyerang pangkal kepalanya. Hanya sekejap, seperti kilatan listrik yang melintas lalu hilang. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mengusir rasa kantuk yang mendadak menyerang di tengah hari yang cerah ini.
“Kamu baik-baik saja? Wajahmu sedikit pucat,” tanya Kadri, nada bicaranya berubah menjadi nada seorang dokter yang waspada.
“Aku baik-baik saja, Kad. Mungkin hanya kurang tidur karena mengejar deadline proyek dari klien kemarin malam,” jawab Eva sambil memaksakan senyum kecil.
Kadri menyipitkan mata, mengamati pupil mata Eva dengan seksama. Sebagai psikiater, ia sangat peka terhadap perubahan kecil pada ekspresi dan kondisi fisik seseorang. Ia menghela napas, lalu mencium kening Eva dengan lembut.