Udara yang memenuhi paru-paru Eva terasa berbeda. Ia bukan lagi menghirup aroma teh melati dari pengharum ruangan di kamar apartemennya, melainkan bau pinus. Dingin yang merayap di kulitnya tidak berasal dari pendingin ruangan, melainkan dari embun yang menyelimuti sebuah beranda luas berbahan kayu mahoni. Eva mengerjapkan mata, mencoba mengusir kabut yang menggelayuti kesadarannya. Di hadapannya, sebuah danau membentang luas, permukaannya hitam dan rata bagaikan cermin raksasa yang memantulkan langit kelabu yang seolah tidak pernah mengenal matahari.
‘Di mana aku?!’ batinnya berteriak, namun suaranya hanya tertahan di tenggorokan.
Samar, ia melihat siluet pria yang sama dalam mimpinya semalam. Pria yang sejak tadi berdiri membelakanginya kini telah berputar sepenuhnya. Ia melangkah mendekat dengan ritme yang tenang, seolah setiap jengkal lantai kayu ini adalah miliknya dan hanya miliknya. Pria itu mengenakan kemeja linen putih yang lengannya digulung hingga siku, memperlihatkan urat-urat tangan yang menonjol dan jam tangan perak yang berkilau redup. Wajahnya adalah perpaduan antara ketampanan yang klasik dan sesuatu yang tajam, sesuatu yang berbahaya sekaligus memikat. Matanya yang gelap seolah mampu menembus lapisan terdalam jiwa Eva.
“Kamu selalu tampak bingung setiap kali bangun, Eva,” suara pria itu kembali terdengar. Suaranya rendah, bariton yang bergema di dada Eva, membuat bulu kuduknya berdiri bukan karena takut, melainkan karena ada nada keakraban dari cara orang asing itu memanggilnya. “Padahal rumah ini dibangun hanya untukmu. Untuk kita.”
Pria itu kini berdiri tepat di hadapannya. Ia jauh lebih tinggi dari Kadri. Eva harus mendongak untuk menatap wajahnya. Aroma pria ini bukan parfum maskulin yang biasa dibeli di mal, melainkan wangi cendana yang dingin dan sisa-sisa aroma hujan. Pria itu mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan hangat menyentuh pipi Eva.
“Siapa kamu?” tanya Eva, suaranya parau. Ia mencoba melangkah mundur, namun kakinya terasa berat, seolah ia berdiri di dalam kubangan madu yang kental.
Pria itu tersenyum kecil, "Aku adalah jawaban dari semua kesepianmu yang kamu sembunyikan di balik senyum manis itu. Namaku Raynald Jakusuma. Tapi kamu selalu memanggilku Rei.”
“Tidak, aku tidak mengenalmu! Aku tunangan Kadri!” bantah Eva. Ia mencoba melihat ke bawah, ke jari manisnya, mencari cincin berlian yang Kadri sematkan dua bulan lalu. Namun, berlian itu telah lenyap. Sebagai gantinya, sebuah batu rubi melingkar di jarinya. Batu itu terasa hangat, hampir panas, seolah-olah memiliki detak jantung sendiri yang berdenyut seirama dengan nadinya.