Eva menatap bekas kemerahan yang melingkar di kulitnya, lalu beralih menatap cincin tunangan dari Kadri yang tergeletak di atas meja samping tempat tidur. Berlian itu tampak murni, namun entah mengapa, ingatannya terus kembali pada binar merah rubi yang memberi luka semalam.
Ketakutan itu nyata, namun rasa kantuk yang datang kemudian jauh lebih perkasa. Tubuh Eva terasa seperti ditarik oleh gravitasi lagi seperti sebelumnya. Ia mencoba melawan, meraih ponselnya untuk menelepon Kadri, namun tangannya mendadak lumpuh. Kesadarannya meluruh, terseret jatuh ke dalam lubang hitam yang lembut, hingga suara bising lalu lintas di luar apartemennya memudar menjadi keheningan yang absolut.
Ketika ia membuka mata kembali, Eva berdiri di tengah sebuah ruangan luas dengan langit-langit tinggi yang dihiasi ukiran rumit. Lantai marmer di bawah kakinya terasa dingin. Di hadapannya, jendela-jendela besar membingkai pemandangan danau yang tenang, permukaannya seperti cermin perak di bawah langit yang selalu berwarna temaram, seolah dunia ini terjebak dalam senja yang abadi.
“Kamu pulang, Eva.” Suara itu lagi.
Eva berbalik dengan sentakan kecil di dadanya. Pria itu berdiri hanya beberapa langkah darinya. Raynald, atau Rei, begitu nama itu tiba-tiba terpatri di benaknya tanpa ia tahu dari mana asalnya. Kali ini ia mengenakan kemeja linen khaki yang lengannya digulung hingga siku, kembali menampakkan lengan bawah yang kuat dengan urat-urat halus yang menonjol.
Pria itu tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang tampak tulus namun menyimpan intensitas yang menyesakkan. Ia melangkah mendekat, dan setiap langkahnya seolah menghapus eksistensi Kadri dari memori Eva.
“Aku sudah menunggu kamu di meja makan. Kamu pergi terlalu lama kali ini,” kata Rei sambil mengulurkan tangan, jarinya yang panjang dan ramping bergerak dengan keanggunan yang menghipnotis.
Eva mundur selangkah, napasnya mulai tidak beraturan. “Sebenarnya kamu ini siapa?! Kenapa aku ada di sini lagi?! Ini hanya mimpi, kan?! Aku harus bangun!”