Dunia ini tidak memiliki butiran debu. Itulah hal pertama yang disadari oleh Evaneska Wijaya setiap kali ia melangkah melintasi ambang pintu kesadarannya menuju wilayah kekuasaan Raynald Jakusuma. Di dunia nyata, bahkan di studio desainnya yang paling bersih sekalipun, selalu ada partikel kecil yang menari-nari di bawah berkas cahaya matahari, atau noda sidik jari tipis pada permukaan monitor. Namun di sini, segala sesuatu tampak seperti hasil render komputer yang mustahil, namun terasa jauh lebih organik dan hidup.
Eva berdiri di tengah sebuah galeri luas yang dindingnya terbuat dari kaca transparan. Di luar, langit tidak hanya berwarna biru; itu adalah perpaduan antara cerulean dan ultramarine yang begitu pekat hingga membuat matanya terasa perih karena keindahannya yang tajam. Ia adalah seorang desainer grafis yang menghabiskan ribuan jam berurusan dengan kode warna hex dan profil CMYK, namun ia bersumpah tidak pernah melihat saturasi seberani ini di dunia nyata.
“Kamu terlalu lama menatap langit, Eva. Kamu akan kehilangan detail yang ada di depan matamu,” suara berat itu muncul dari balik punggungnya, menyapu tengkuknya seperti hembusan angin yang hangat.
Eva berbalik dan menemukan Rei berdiri hanya beberapa jengkal darinya. Kali ini, pria itu mengenakan kemeja linen berwarna putih gading. Tekstur serat kain kemeja itu begitu jelas, setiap jalinan benangnya tampak memiliki bayangan sendiri. Rei tersenyum, sebuah lengkungan bibir yang terlihat begitu manis.
“Tempat ini... warnanya tidak masuk akal, Rei,” bisik Eva. Ia melangkah mendekati sebuah meja marmer di tengah ruangan yang di atasnya terletak sebuah vas berisi bunga mawar hitam. Ia menyentuh kelopaknya yang terasa seperti beludru basah. “Warna hitam ini, ia tidak memantulkan cahaya sama sekali. Ia seolah-olah menyerap segala sesuatu di sekitarnya. Bagaimana mungkin pikiran manusia bisa menciptakan pigmen seperti ini?”
Rei tertawa kecil, “Pikiran manusia adalah penjara, Eva. Tapi di sini, kita adalah arsiteknya. Aku membangun tempat ini dari memori-memori yang paling tajam, lalu aku memurnikannya. Aku membuang segala sesuatu yang kusam, yang layu, dan yang rusak. Di duniamu, warna mawar ini mungkin hanya akan terlihat seperti cokelat tua yang busuk, tapi di sini, ia adalah kegelapan yang murni.”
Eva menarik tangannya, merasa sedikit ngeri namun sekaligus terpesona. Ia berjalan menuju jendela besar dan memandang ke bawah, ke arah taman yang membentang luas. Rumput di sana memiliki warna hijau zamrud yang begitu menyala, seolah-olah setiap helainya dialiri oleh listrik. Ia merasa seolah penglihatannya baru saja ditingkatkan dari resolusi standar menjadi sesuatu yang melampaui batas kemampuan biologis mata manusia.
“Kadri selalu bilang bahwa mimpi adalah sekedar fragmen ingatan yang acak,” kata Eva pelan, Rei terlihat tidak menyukai ketika Eva menyebut nama tunangannya itu, “Tapi Kadri tidak pernah melihat ini. Dia tidak tahu bahwa ada warna-warna yang tidak bisa dijelaskan oleh sains.”