Sinar matahari di dunia ini tidak pernah menyengat. Cahayanya jatuh melewati gorden sutra berwarna gading yang lembut. Eva mengerjapkan matanya, merasakan permukaan sprei yang begitu halus di bawah jemarinya. Di dunia nyata, ia sering kali terbangun dengan leher kaku atau perasaan tidak nyaman karena suara bising kendaraan di luar apartemennya. Namun di sini, di kamar yang luas ini, satu-satunya suara yang terdengar adalah deru napas teratur seorang pria yang berada tepat di sampingnya.
“Selamat pagi, istriku,” bisik Rei. Suaranya serak khas orang yang baru bangun tidur, namun ada nada kepemilikan yang sangat kental di sana.
Eva menoleh dan menemukan wajah Rei hanya berjarak beberapa inci darinya. Rei tidak membuang muka. Ia menatap Eva seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya sumber oksigen di ruangan itu.
“Rei, jam berapa sekarang?” tanya Eva dengan suara serak. Ia mencoba mencari jam dinding, namun di ruangan itu waktu seolah tidak memiliki angka.
“Waktu tidak penting di sini, Eva. Yang penting adalah kamu ada disini, bersamaku,” jawab Rei sambil mengulurkan tangannya, membelai pipi Eva, menyelipkan helaian rambut ke belakang telinga wanita itu. Sentuhannya mengirimkan gelombang listrik yang menjalar hingga ke ujung jari kaki Eva.
Eva memejamkan mata, mencoba mencari sisa-sisa ingatan tentang Kadri. Ia ingat wajah Kadri yang tenang, aroma sabun cukurnya yang wangi, dan bagaimana Kadri selalu mau repot-repot datang ke apartemennya setiap pagi dan menyiapkan sarapan sebelum berangkat ke rumah sakit. Namun, memori itu terasa seperti sebuah film lama yang mulai kehilangan warnanya, berpasir dan buram. Di hadapannya kini ada Rei, sosok yang kehadirannya begitu menenangkan dan mendominasi seluruh inderanya.
“Kamu memikirkan pria itu lagi?” tanya Rei tiba-tiba. Nada suaranya berubah menjadi dingin, meskipun tangannya masih membelai wajah Eva dengan lembut. Ketajaman intuisi Rei selalu membuat Eva merasa telanjang, seolah-olah pria itu bisa membaca setiap sinapsis di otaknya.
“Aku hanya merasa... ini semua terlalu sempurna, Rei. Aku tidak tahu mana yang benar-benar nyata,” gumam Eva jujur.