Kelopak mata Eva terasa seberat timah saat ia mencoba membukanya. Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden, terasa begitu tajam dan menyakitkan, seolah-olah memaksa masuk ke dalam bola matanya. Ada sisa rasa hangat yang tertinggal di permukaan bibirnya, sebuah denyut samar yang mengirimkan sinyal ke seluruh sarafnya, mengingatkannya pada ciuman intens yang baru saja ia terima beberapa detik lalu. Namun, ketika indra penciumannya mulai menangkap aroma kopi yang baru diseduh dan sisa wangi sabun maskulin yang akrab, kesadaran Eva menghantamnya dengan keras.
Ia tidak lagi berada di pelukan Rei. Ia berada di kamarnya sendiri, di atas kasur pegas yang sedikit lebih keras dari ranjang sutra di rumah danau itu.
“Eva, kamu sudah bangun?”
Suara itu rendah dan penuh perhatian, namun entah mengapa terdengar seperti lonceng peringatan bagi Eva. Ia menoleh perlahan dan menemukan Kadri sedang duduk di kursi samping tempat tidur, sebuah buku medis terbuka di pangkuannya. Pria itu meletakkan bukunya, mencondongkan tubuh ke depan dengan ekspresi cemas yang tak mampu disembunyikan di balik kacamatanya.
Eva hanya mampu mengerjap, tenggorokannya terasa kering dan tersumbat. Ia merasa seperti seorang pencuri yang tertangkap basah, meskipun secara fisik ia tidak pergi kemanapun.
“Kamu tidur selama empat belas jam, Eva. Aku hampir membawa kamu ke rumah sakit kalau kamu masih belum bangun juga,” kata Kadri lembut. Suaranya mengandung getaran kekhawatiran yang tulus, sesuatu yang selama ini menjadi jangkar bagi hidup Eva.
“Empat belas jam?” tanya Eva dengan suara parau. Ia terkejut. Baginya, waktu yang ia habiskan bersama Rei hanya terasa seperti beberapa jam di sore yang indah. Bagaimana mungkin waktu di dunia nyata berlari begitu cepat sementara ia tertahan di dalam ilusi?
Kadri mengangguk kecil. Ia kemudian menyentuh dahi Eva untuk memeriksa suhu tubuhnya. “Aku sudah memeriksa tanda-tanda vital setiap dua jam. Napasmu teratur, detak jantung stabil, tapi kamu seolah-olah sedang hanyut ke tempat yang sangat jauh. Kamu mengalami mimpi aneh itu lagi, kan?”