Istri Dalam Mimpi

Ryuku S. A .J
Chapter #7

Adiksi

Cahaya matahari yang menyelinap melalui celah gorden kamar terasa seperti jarum-jarum halus yang menusuk kornea mata Eva. Ia membenci pagi. Ia makin membenci suara klakson kendaraan di kejauhan, bunyi denting sendok yang beradu dengan piring dari arah dapur, dan segala realitas yang memaksanya untuk tetap terjaga. Baginya, dunia nyata kini bagaikan sebuah film hitam putih yang diputar dengan kecepatan lambat.

Di meja kerjanya, layar monitor menampilkan desain poster yang belum selesai. Eva menatap palet warna di layar itu dengan pandangan kosong. Biru laut, hijau zamrud, kuning matahari, semuanya tampak kusam. Pikirannya melayang jauh pada warna ungu lembayung dan merah rubi yang hanya bisa ia temukan saat ia memejamkan mata. Di sana, di dunia milik Rei, warna bukan sekadar pantulan cahaya, melainkan emosi yang aesthetic.

“Kamu kelihatan pucat, sayang. Yuk, makan,” suara Kadri memecah lamunannya.

Eva menoleh pelan. Kadri berdiri di ambang pintu kamar dengan nampan berisi roti panggang dan segelas susu hangat. Wajah pria itu dipenuhi kecemasan yang teramat sangat, garis-garis kelelahan tampak jelas di bawah matanya. Sebagai seorang psikiater, Kadri tahu ada yang tidak beres, namun sebagai seorang tunangan, ia tampak tidak berdaya menghadapi dinding transparan yang dibangun Eva di sekeliling dirinya.

“Aku hanya kurang tidur kok. Kepalaku sedikit berdenyut,” jawab Eva dengan suara yang terdengar asing di telinganya sendiri. Ia berbohong. Faktanya, ia sudah tidur selama sepuluh jam semalam, namun itu tidak pernah terasa cukup. Ia menginginkan lebih.

Kadri meletakkan nampan itu di atas meja kecil, lalu duduk di tepi tempat tidur, mencoba meraih tangan Eva. “Kamu belakangan ini tidurnya lebih lama dan kadang lebih cepat. Tapi kamu selalu bangun dengan keadaan yang lebih lelah. Jujur, aku penasaran kamu mimpi apa? Kamu jadi atlet kah disana?” singgung Kadri.

Eva menarik tangannya perlahan, berpura-pura merapikan rambutnya yang tidak berantakan dan tertawa kecil. “Tidak ada. Hanya mimpi-mimpi acak yang melelahkan. Aku hanya butuh lebih banyak istirahat. Mungkin karena tekanan pekerjaan juga.”

Kadri menghela napas panjang, sebuah suara yang sarat dengan kekecewaan dan kekhawatiran yang tertahan. “Aku bisa bantu jika kamu mau bicara. Kita bisa mencari tahu apakah ini pengaruh hormonal atau sesuatu yang lebih dalam secara psikis. Tolong, jangan menjauh dariku.”

Lihat selengkapnya