Eva menatap layar monitornya dengan mata yang sudah mulai perih, mencoba memfokuskan diri pada detail vektor sebuah logo perusahaan asuransi yang harus diselesaikannya sebelum fajar menyingsing.
Ia menarik napas panjang, namun yang terhirup hanyalah udara pengap yang menyiksa tak peduli jika suhu air conditioner yang ia pasang berada di angka dua puluh. Punggungnya terasa kaku setelah berjam-jam membungkuk di depan komputer. Inilah hidupnya.
“Eva, kamu masih bangun?” Suara Kadri terdengar serak dari arah ruang tengah. Pria itu muncul di ambang pintu kamar kerja kecilnya dengan rambut berantakan dan mata yang masih setengah tertutup karena kantuk.
“Sedikit lagi nih, sayang. Aku harus mengirimkan draf ini sebelum pagi,” jawab Eva tanpa menoleh. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, datar.
Kadri mendekat, meletakkan tangannya yang hangat di bahu Eva.
“Istirahatlah. Kamu sudah terjaga terlalu lama belakangan ini. Wajahmu sangat pucat, Eva. Aku khawatir,” bisik Kadri dengan nada lembut yang biasanya membuat Eva merasa aman. Tapi sekarang, kekhawatiran itu hanya terasa seperti belenggu yang menahan kakinya di tanah yang kasar.
“Iya, sebentar lagi aku tidur,” sahut Eva singkat. Ia memaksakan sebuah senyum kecil yang tidak mencapai matanya. Saat Kadri akhirnya menyerah dan ke dapur, Eva menatap layar monitornya sekali lagi. Logo yang ia buat tampak begitu hambar, warna-warnanya pucat dan mati. Dunia nyata ini sungguh melelahkan.
Ia mematikan komputer serta laptopnya. Kegelapan segera menyergap ruangan itu, menyisakan cahaya lampu jalan yang masuk melalui celah gorden. Eva tidak pergi ke kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya di sofa ruang tamu yang sempit, menarik selimut tipis ke dada, dan menutup matanya dengan sengaja.
“Eva, aku berangkat jaga dulu ya, kalau ada apa-apa, telpon aja aku.”