Istri Dalam Mimpi

Ryuku S. A .J
Chapter #9

Terjepit Realitas

Kesadaran itu datang seperti air pasang yang lambat, menyeret Evaneska kembali dari kedalaman samudra tidurnya yang tak berdasar. Selama beberapa detik, ia tidak tahu di mana ia berada. Udara di sekitarnya terasa dingin, menusuk pori-pori kulitnya yang hanya tertutup daster satin tipis.

Saat Eva mencoba menggerakkan lehernya yang kaku, indra penciumannya menangkap sesuatu yang asing. Ia menghirup udara dalam-dalam, dan seketika itu juga jantungnya berdegup kencang hingga terasa menyakitkan di balik tulang rusuknya.

Ini adalah aroma kayu cendana tua yang berpadu dengan tembakau mahal dan hembusan angin laut yang tajam. Sebuah aroma maskulin yang dingin, berwibawa, dan sangat spesifik. Aroma tubuh Rei.

Eva tersentak duduk, napasnya memburu pendek-pendek. Ia memutar tubuhnya, menatap bantal di sampingnya. Ia meraih bantal itu dengan tangan gemetar, membenamkan wajahnya ke kain katun putih tersebut. Aroma itu ada di sana. Begitu pekat, begitu nyata, seolah-olah seorang pria baru saja membaringkan kepalanya di sana selama berjam-jam.

“Tidak mungkin,” bisik Eva pada kegelapan kamar yang masih remang.

Ia meraba permukaan bantal, berharap menemukan penjelasan logis. Namun, yang ia temukan justru membuat darahnya terasa membeku. Di tengah bantal yang dingin itu, terdapat sebuah lekukan halus, sebuah jejak beban yang ditinggalkan oleh kepala seseorang. Dan di atas kainnya, tertinggal sehelai rambut hitam legam, sedikit lebih panjang dari rambut Kadri, namun memiliki tekstur yang jauh lebih kasar.

Pintu kamar terbuka dengan bunyi derit pelan. Cahaya dari ruang tengah menyeruak masuk, membelah kegelapan dan membuat mata Eva perih. Kadri berdiri di ambang pintu, wajahnya tampak sangat lelah dengan lingkaran hitam yang semakin tegas di bawah matanya.

“Kamu sudah bangun, Eva?” suara Kadri terdengar serak, penuh dengan nada kelegaan yang dipaksakan.

Eva tidak menjawab. Ia secara refleks menyembunyikan bantal itu di belakang punggungnya, sebuah gerakan defensif yang tidak luput dari pengamatan tajam Kadri sebagai seorang psikiater.

“Eva? Ada apa?” Kadri melangkah masuk, menyalakan lampu. Cahaya kuning yang hangat itu bukannya menenangkan, malah membuat kegelisahan Eva semakin menjadi-jadi. “Kamu berkeringat dingin. Kamu kenapa, sayang?”

Eva menelan ludah, tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pasir. “Jam berapa sekarang, Kadri?”

Kadri menghela napas panjang, lalu melirik jam tangannya. “Pukul empat sore, Eva. Kamu tidur sejak pukul tujuh malam kemarin. Hampir dua puluh satu jam kamu tidak sadarkan diri. Aku hampir membawamu ke unit gawat darurat tadi siang.”

Dua puluh satu jam. Mereka telah menghabiskan waktu selama itu dan Rei sempat membisikkan bahwa dia akan segera menemukan jalan untuk mendatangi Eva dimanapun ia berada.

“Kamu mencium sesuatu?” tanya Eva tiba-tiba, suaranya gemetar.

Lihat selengkapnya