Kadri berdiri di ambang pintu kamar, memegang secangkir kopi yang uapnya masih mengepul. Ia sudah bangun sejak pukul enam, menyelesaikan beberapa laporan pasien, berolahraga singkat, dan mandi, namun tunangannya masih terlelap dalam posisi yang hampir tidak berubah sejak semalam. Sebentar lagi masuk jadwal Kadri untuk bekerja seperti biasanya.
“Sayang, ayo bangun,” suara Kadri rendah dan lembut, namun mengandung nada kecemasan yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya.
Eva hanya bergumam tidak jelas, mencoba duduk dengan gerakan yang sangat lambat. Tubuhnya terasa lemas, sendi-sendinya kaku seolah ia baru saja melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki.
“Aku sudah membuatkan sarapan. Kali ini kamu tidur hampir dua belas jam,” kata Kadri sambil mendekat. Ia meletakkan kopi di meja rias dan duduk di tepi tempat tidur, mencoba menyentuh kening Eva dengan punggung tangannya.
Eva refleks menghindar, sebuah gerakan kecil namun cukup untuk membuat Kadri tertegun sejenak. Eva segera menyadari kekakuannya dan mencoba tersenyum, meski senyum itu sangat dipaksakan di wajahnya yang letih.
“Maaf, aku hanya sedikit kaget. Kepalaku pusing, rasanya seperti tidak tidur sama sekali,” bisik Eva dengan suara parau.
Kadri menatap mata tunangannya dalam-dalam. Sebagai seorang psikiater, ia terbiasa membaca tanda-tanda non-verbal, dan apa yang ia lihat pada Eva saat ini mulai mengusiknya secara profesional maupun personal. Pupil mata Eva tampak sedikit melebar, selama bertahun-tahun ia tidak pernah melihat Eva dengan kondisi seperti ini.
“Mimpi itu lagi? Kamu sebenarnya sama dia di sana ngapain aja? Aku penasaran,” tanya Kadri pelan dengan nada menyindir. Dia berusaha untuk tidak cemburu dan tidak marah. Tapi keadaan Eva belakangan ini benar-benar membuat dia sangat kesal.
“Hanya mimpi biasa. Aku dengan dia hanya mengobrol, bahas Jakarta, bahas makanan, itu saja. Aku juga sedikit stress sama deadline kerjaan,” jawab Eva bohong. Ia tidak sanggup menceritakan kebenarannya, tentang bagaimana pria itu mulai merasa lebih hidup daripada Kadri.
Kadri tidak lantas percaya. Ia bangkit berdiri dan berjalan mengitari kamar mencoba untuk mencari solusi atas hobi baru yang dilakukan oleh tunangannya. Tiba-tiba hidungnya menangkap sesuatu yang asing. Ada aroma yang menyengat di udara, sesuatu yang maskulin, namun terasa sangat aneh dan tidak selaras dengan aroma lavender yang biasanya memenuhi kamar mereka. Matanya tertuju pada meja rias Eva. Di sana, sebuah botol parfum tua yang ia ingat sudah lama kosong kini tampak berisi cairan merah pekat.