Eva menggerakkan garpunya dengan lesu, memilin helai-helai pasta tanpa benar-benar berniat memasukkannya ke dalam mulut. Pikirannya masih tertinggal bersama bayang-bayang Rei.
“Sayang, jangan ngelamun terus. Makanannya nanti dingin,” teguran Kadri memecah keheningan, terdengar seperti guntur yang tiba-tiba di siang bolong. Eva tersentak kecil, garpunya berdenting pelan saat menghantam pinggiran piring. Ia mendongak dan mendapati tunangannya sedang menatapnya dengan raut wajah yang sulit diartikan.
“Maaf, Kad. Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan yang belum selesai,” dusta Eva.
Kadri meletakkan garpu dan sendoknya dengan gerakan yang sangat perlahan, sebuah tanda bahwa ia sedang berusaha keras mengendalikan emosinya pria yang terluka. “Pekerjaan? Kamu bahkan jarang menyentuh laptop ataupun komputer kamu selama beberapa hari terakhir. Kamu lebih banyak menghabiskan waktu di tempat tidur. Apa setiap kamu tidur, kamu bertemu dengan dia?”
Pertanyaan itu menghujam jantung Eva. Ia bisa merasakan denyut di jari manisnya, di tempat cincin berlian pemberian Kadri melingkar, namun secara bersamaan, ia merasa kulitnya masih menyimpan rasa panas dari cincin rubi merah milik Rei. Dualitas itu membuatnya mual. Batas antara dinding kamar ini dan dinding mimpi mulai mengabur, seolah-olah dunia nyata hanyalah lapisan tipis cat yang mulai mengelupas, memperlihatkan kebenaran yang lebih gelap di baliknya.
“Aku lumayan burnout, makanya desainku semua kena revisi. Tidur adalah satu-satunya caraku untuk beristirahat,” jawab Eva, mencoba memberikan pembelaan yang masuk akal.
“Tapi tidurmu bukan istirahat, Eva. Itu pelarian,” sahut Kadri dengan nada yang mulai meninggi, meski ia segera merendahkannya kembali. “Aku menemukan kancing jas perak di meja riasmu pagi ini. Kancing dengan inisial RJ. Aku tahu kamu tidak punya pakaian dengan inisial itu. Dan coba jujur, parfum itu bukan titipan Saras kan?”
Eva terpaku. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuknya dengan ritme yang menyakitkan. Ia teringat saat Rei memeluknya erat sebelum ia terbangun tadi, dan bagaimana jemari pria itu sempat menyentuh kerah bajunya. Apakah obsesi Rei sudah sedemikian kuat hingga ia mampu menembus dimensi dan meninggalkan jejak nyata di dunia ini? Ataukah kegilaan ini sudah mencapai puncaknya hingga ia sendiri yang memanifestasikan benda-benda itu tanpa sadar?
“Mungkin itu hanya barang lama yang terselip, sayang. Kamu terlalu overthinking,” sangkal Eva. Ia meraih gelas air putih di sampingnya, berharap cairan dingin itu bisa menjernihkan kepalanya yang penuh dengan skenario kebohongan.