Istri Kecil Om Duda Ting Ting

Titah Kesumawardani
Chapter #2

Bayangan Masa Lalu dan Perintah yang Tak Dapat Dihindari

Dan berhasil! Wanita itu menyetujuinya asal dia menepati janji. Ah, baiklah, setuju dulu saja—yang penting bisa istirahat sejenak sekarang.

Setelah panggilan terputus, Charles mematikan ponsel dan meletakkannya di atas nakas. Hari ini dia benar-benar tidak ingin diganggu; perjalanan jauh membuat tubuhnya sangat lelah. Ia merendam tubuh jangkungnya di tempat tidur, namun saat akan menutup mata, bayangan masa lalu yang menyakitkan kembali menghampiri pikirannya.

Kenapa setelah 6 tahun tidak teringat, kini tiba-tiba kembali muncul?

Flashback On

Charles Collins menikah dengan kekasihnya yang juga pujaan hatinya saat usianya masih muda—dia baru berusia 24 tahun, hanya beberapa bulan lebih tua dari sang kekasih, Maya.

Dia berani menikah muda karena merasa mampu menafkahi keluarga. Sebagai pewaris tunggal perusahaan CC GROUP peninggalan ayahnya, ia memiliki segala sesuatunya. Apalagi Maya selalu mendesaknya untuk segera menikah, dan itu membuatnya sangat senang. Acara pernikahan mereka digelar dengan sangat meriah di salah satu hotel berbintang kota.

"Maya, apakah kamu bahagia?" tanya Charles saat mereka duduk bersama di atas pelaminan, menjadi pusat perhatian semua tamu.

"Tentu saja sayang! Terima kasih karena mau mengabulkan keinginanku," jawab Maya dengan senyum manis, lalu mengecup pipi Charles tanpa rasa malu.

Wajah pria itu langsung memerah karena kecupan lembut dari wanita yang kini sah menjadi istrinya.

"Jangan lakukan itu sekarang, Maya. Masih banyak orang melihat kita," bisiknya dengan suara lembut.

Maya tertawa geli melihat wajah suaminya yang seperti anak muda yang sedang digoda. "Apa kamu mau aku lakukan itu nanti, di kamar pengantin kita?" godanya lagi, mengedipkan satu mata.

"Maya..." ucap Charles dengan nada sedikit malu.

"Ya ya, maafkan aku sayang," pinta Maya dengan senyum, lalu berhenti menggoda.

Setelah acara pernikahan selesai, Charles membawanya pulang ke mansion alih-alih menginap di hotel. Dia ingin membuat kenangan indah bersama istrinya di tempat yang akan menjadi rumah mereka berdua. Maya dengan senang hati menyetujuinya.

"Sayang, apakah kamu lelah?" tanya Charles saat mereka berada di kamar tidur utama. Pandangannya sedikit tergesa-gesa karena sudah tidak sabar untuk menghabiskan malam pertama bersama. Apalagi setelah melepas gaun pengantin, Maya mengenakan pakaian dalam yang simpel namun membuat hatinya berdebar kencang.

"Memangnya kenapa?" tanya Maya dengan tatapan yang penuh makna.

Charles segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, wajahnya semakin memerah hingga ke telinga dan leher.

"Aku... rasanya tubuhku menjadi panas, dan aku ingin..." ia menjeda kalimatnya, merasa sangat awam dengan hal seperti ini. Meskipun sudah lama bersama Maya, mereka belum pernah sampai pada tahap ini.

Deg...

Jantungnya berdebar lebih kencang saat Maya datang dari belakang dan membungkuskan lengannya di pinggangnya. Charles merasa sedikit tertekan dan kesulitan menelan liur.

"Jika kamu menginginkannya, katakan saja sayang. Aku sudah siap untukmu," bisik Maya dengan lembut di telinganya.

Mendapat izin dari sang istri, Charles perlahan membalik tubuhnya dan mulai mencumbu bibirnya dengan lembut. Ia menggendongnya perlahan dan membawa ke arah ranjang. Namun, saat ia mulai membuka pakaian Maya, gerakannya tiba-tiba terhenti.

"Sayang... kenapa perutmu terlihat sedikit membuncit, dan..." katanya dengan tatapan penuh kebingungan.

"Ah itu saja sayang, aku mungkin terlalu banyak makan tadi saat berbincang dengan teman-temanku. Lupa dengan porsi makanku," jawab Maya dengan cepat, wajahnya sedikit memerah seolah sedang menyembunyikan sesuatu.

Charles hanya mengangguk dan mempercayai ucapan istrinya. Ia kembali mencumbunya dengan penuh kasih sayang, berusaha untuk tetap lembut karena khawatir menyakitinya.

"Sayang, tahan sebentar ya. Katanya malam pertama akan sedikit sakit," ucapnya dengan penuh perhatian. Maya hanya tersenyum dan mengangguk tanpa menunjukkan rasa takut sedikitpun—padahal biasanya orang akan merasa gugup dalam keadaan seperti ini.

Namun, saat mereka akan melangkah lebih jauh, tiba-tiba Maya menangis mual dan langsung berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.

"Sial!" ucap Maya dengan suara rendah, namun masih terdengar oleh Charles.

"Maya! Apa yang terjadi padamu?" tanya Charles dengan panik, segera mengenakan celananya dan menyusul ke kamar mandi.

"Tidak apa-apa sayang, aku hanya merasa kelelahan saja. Besok pasti akan pulih," jawab Maya dengan wajah yang tampak sangat pucat, namun masih mencoba memberikan senyuman.

Lihat selengkapnya