Istri Kecil Om Duda Ting Ting

Titah Kesumawardani
Chapter #3

Keputusan Mendadak Nyonya Collins

Charles mendengus kesal, matanya menatap tajam ke arah Oma yang duduk santai di atas kursi goyang kesayangannya.

Wanita berusia senja itu terlihat begitu tenang, bahkan sedikit menikmati kegelisahan cucu laki-laki satu-satunya itu. "Apa kabar cucu kesayangan Oma?" sapa Mrs. Collins lembut, namun nada bicaranya terdengar penuh kemenangan.

Charles hanya diam mematung dengan ekspresi wajah sedingin es. Tak ada jawaban, tak ada senyum. Seakan paham betul sifat cucunya itu, Mrs. Collins pun memberi kode kecil pada Chandra, pengawal pribadinya yang berdiri tegap di sudut ruangan. Chandra mengangguk mengerti, lalu memberi isyarat pada Lucas dan beberapa pengawal lain untuk segera mundur dan menutup pintu ruangan itu rapat-rapat. Kini hanya tinggal keduanya saja.

"Oma, ini apa-apaan sih?" sergah Charles akhirnya, suaranya terdengar berat dan penuh kekesalan. "Kenapa Oma harus membawaku ke sini secara paksa seperti penjahat? Kalau ada urusan, bisa telepon atau bicara baik-baik, kan?"

Mrs. Collins menatap tajam ke arah cucunya, sorot matanya yang tua namun masih berwibawa itu seolah menembus jauh ke dalam jiwa Charles. "Baik-baik katamu?" sahutnya ketus. "Memangnya kalau Oma memintamu datang secara baik-baik, kamu akan mau kemari? Apa kamu tidak ingat betapa sulitnya Oma sekadar meminta waktumu sebentar saja?"

"Tentu saja aku..."

"Tentu kamu apa? Tidak akan datang, bukan?" potong Mrs. Collins cepat, memotong pembelaan Charles sebelum sempat terlontar. "Buktinya? Sejak kemarin Oma memintamu untuk singgah ke sini, sampai matahari terbit dan terbenam lagi, kau tak juga menampakkan batang hidungmu. Kamu pikir Oma sudah tua dan pikun, ya?"

Charles menghela napas panjang, berusaha menahan emosinya agar tak meledak. Ia mendekat, lalu berlutut di sebelah kursi goyang sang nenek, berusaha melunakkan hati wanita yang membesarkannya itu.

"Oma, bukannya Arles tak mau datang," ucapnya lembut, nada bicaranya kini berubah menjadi bujukan yang halus. "Tapi kemarin Arles baru saja tiba kembali di negara ini setelah berbulan-bulan berada di luar negeri. Dan hari ini... hari ini adalah hari pertama Arles masuk ke kantor, Oma. Banyak sekali urusan penting yang harus diselesaikan. Tapi malah Oma mengacaukan semuanya dengan menyuruh orang menjemput Arles paksa begini."

Mrs. Collins mendengus pelan, lalu memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang memandang ke taman luas di halaman depan. "Sudahlah... kamu selalu saja punya seribu satu alasan setiap kali Oma memanggil. Selalu sibuk kerja, sibuk bisnis, sibuk ini dan itu. Kapan kamu sibuk mengurus diri sendiri, hah?" gerutunya, terdengar seperti anak kecil yang merajuk karena diperhatikan.

Charles kembali menghela napas pasrah. Bagaimana mungkin ia tak selalu beralasan? Ia tahu betul kebiasaan Oma. Setiap kali wanita tua ini memanggilnya dengan cara se-mendesak ini, pasti ujung-ujungnya hanya satu: mengenalkannya pada wanita-wanita pilihan Oma. Entah kencan buta atau pertemuan formal, semuanya berujung pada perjodohan. Dan Charles sudah sangat muak dengan hal itu.

"Sudahlah, Oma... Jangan merajuk begitu," bujuk Charles sambil tersenyum tipis, mencoba menghibur. "Sekarang kan Arles sudah ada di sini, kan? Sudah datang menuruti kemauan Oma. Ayo katakan saja, apa sebenarnya yang ingin Oma bicarakan? Atau... apakah Oma bosan di sini dan ingin ikut Arles pulang ke kota? Kita bisa tinggal di rumah yang lebih lengkap fasilitasnya, lebih ramai..."

Belum selesai Charles menyelesaikan tawarannya, Mrs. Collins langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat dan tegas.

"Oma tidak mau ke kota. Oma lebih betah di sini," tolaknya mantap. "Oma ingin menghabiskan sisa usia Oma di tempat ini. Tempat di mana Oma dan Opamu memulai semuanya, hidup bersama, dan menua bersama. Tak ada tempat lain yang bisa menggantikan kenangan di tanah ini."

Charles terdiam, mengangguk mengerti. Ia tahu betul betapa besar cinta Oma dan opanya dulu.

"Sudah kalau begitu. Sekarang... ayo ikut Oma," ucap Mrs. Collins tiba-tiba, bangkit berdiri dari kursi goyangnya dengan gagah.

Ia berjalan mendahului menuju pintu belakang ruangan itu, meninggalkan Charles yang masih berdiri terpaku bingung. Namun Charles tak banyak bertanya, ia hanya mengikuti langkah kecil neneknya itu dari belakang, diam-diam bertanya-tanya dalam hati : "Apa lagi sih rencana Oma kali ini?"


~~~~


Tok! Tok! Tok!

Lihat selengkapnya