Istri Kecil Om Duda Ting Ting

Titah Kesumawardani
Chapter #4

Pernikahan Mendadak dan Janji Tersembunyi

Mendengar keputusan sepihak yang begitu mutlak keluar dari mulut sang Oma, Charles seketika beranjak bangkit. Ia melangkah cepat keluar dari rumah sederhana milik Hazel itu, meninggalkan semua orang di sana.

"Charles! Kau mau ke mana?!" teriak Mrs. Collins, lalu berjalan tergopoh-gopoh mengejar langkah panjang cucunya itu.

"Mau pulang," jawab Charles singkat dan datar, tanpa menoleh sedikit pun.

"Yakin mau pulang begitu saja?" tanya Mrs. Collins dengan nada santai namun penuh tekanan.

Langkah kaki pria itu seketika terhenti. Ia memutar tubuh besarnya, menatap tajam ke arah wanita renta yang sudah mulai sulit berjalan itu. Ada amarah, ada kebingungan, dan ada rasa tak berdaya yang tersembunyi di balik manik matanya.

"Apa sebenarnya yang Oma inginkan dari Arles?" tantang Charles. Meski tak bertanya pun, ia sebenarnya sudah sangat paham apa kemauan wanita kesayangannya ini.

Ingin sekali rasanya Charles menolak dengan tegas, berteriak dan mengatakan bahwa ia tak akan pernah mau berhubungan dengan wanita mana pun lagi selain Omanya. Namun entah mengapa, mulutnya ini selalu saja terkunci rapat setiap kali berhadapan dengan wanita tua itu. Dari dulu hingga sekarang, kata TIDAK rasanya begitu sulit meluncur keluar. Selama ini ia hanya bisa menggagalkan rencana perjodohan Oma dengan berbagai alasan yang sering kali tak masuk akal. Tapi kali ini? Bahkan alasan pun tak satu pun yang bisa ia temukan. Menghindar dan pergi adalah satu-satunya jalan yang terlintas di benaknya, namun ternyata rencana itu pun gagal total karena Oma berhasil mengejarnya.

"Oma hanya ingin kamu mengabulkan keinginan terakhir Oma, Sayang," ucap Mrs. Collins pelan. Wanita itu menatap cucunya dengan pandangan penuh permohonan, sementara tangan keriputnya gemetar meraih tangan kekar Charles.

"Apa sih yang Oma katakan ini..." Charles menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pemikiran-pemikiran aneh yang mulai terlintas.

"Kasihan Hazel, Nak... Gadis itu kini sudah menjadi yatim piatu. Pak Thompson baru saja pergi meninggalkannya selamanya. Dia masih terlalu muda, terlalu lembut, dan terlalu polos untuk hidup sendirian menghadapi kerasnya dunia ini," jelas Mrs. Collins panjang lebar, nyaris kehabisan napas karena berbicara sambil berdiri dan berusaha meyakinkan cucunya. "Tolong penuhi permintaan Oma kali ini saja, Nak. Oma janji, setelah ini Oma tak akan meminta apa-apa lagi. Oma hanya meminta satu hal: menikahi Hazel dan perlakukan dia dengan baik. Itu saja..."

Melihat kondisi Oma yang mulai terlihat lemas dan wajah pucatnya, Charles tak tega. Ia segera menuntun tubuh renta itu, membawanya kembali masuk ke dalam rumah Hazel dengan langkah hati-hati dan pelan.

"Oma! Oma kenapa?!" Hazel panik bukan main saat melihat Mrs. Collins dipapah masuk oleh pria asing itu. Ia segera berlari mendekat, wajahnya terlihat sangat cemas.

Namun di mata Charles, kepanikan itu terasa lain. Pria itu menatap Hazel dengan sorot mata sedingin es, penuh curiga. Dalam hati, ia beranggapan gadis ini hanya sedang berpura-pura khawatir demi menarik perhatiannya. Di benak Charles, semua wanita memiliki sifat yang sama: pandai bersandiwara, pandai memanfaatkan situasi, dan berpotensi menjadi pengkhianat seperti mantan istrinya, Maya. Ia menyamakan Hazel dengan wanita-wanita lain yang pernah mengecewakannya.

Di tengah ketegangan itu, Mrs. Collins menyunggingkan senyum tipis di balik bibir pucatnya. Ia mengulurkan tangan, mengusap punggung tangan mungil Hazel dengan penuh kasih sayang.

"Oma tidak apa-apa, Sayang... Kamu jangan panik begitu ya," ucap Mrs. Collins lirih namun cukup jelas terdengar oleh kedua orang di dekatnya.

Tanpa membuang waktu, Hazel segera bergegas ke dapur. Ia kembali membawa segelas air putih bening yang sudah disiapkannya tadi, khusus untuk Nyonya Collins. Ia tahu betul, Nyonya Collins lebih menyukai air putih hangat daripada teh, kopi, atau minuman manis lainnya. Hal-hal kecil seperti itu sudah sangat dipahami oleh Hazel, tanda betapa dekatnya hubungan mereka selama ini.

"Sayang..." panggil Mrs. Collins saat Hazel hendak meletakkan kembali gelas yang isinya baru berkurang sedikit itu.

Gadis itu kembali menatap wanita tua yang kini bersandar lemas di sandaran sofa.

"Menikahlah dengan cucu Oma ini. Terimalah pinangannya," pinta Mrs. Collins, lalu dengan lembut namun tegas ia menyatukan tangan mungil Hazel dan tangan besar milik Charles yang duduk di sisi kanan dan kirinya.

Lihat selengkapnya