"Kau tahu apa bedanya dirimu dengan patung porselen murahan di sudut ruangan itu? Patung itu tidak menuntut perhatian, tak bersuara, dan yang paling penting—tak punya akal licik untuk mengkhianatiku. Pastikan kau menjadi benda mati yang sama selama menumpang di rumah ini."
Suara bariton yang dingin, berat, dan setajam silet itu memecah keheningan ruangan yang luasnya mengalahkan lobi hotel berbintang lima. Udara di dalam sana terasa membeku; seolah pendingin ruangan tak lagi dibutuhkan saat sang pemilik suara telah membuka mulutnya.
Titah Kesumawardani berdiri tegak di tengah hamparan karpet sutra Persia. Gaun pengantin hitamnya yang sederhana namun tertutup rapat menjuntai hingga menyapu lantai marmer. Wajahnya tersembunyi sempurna di balik sehelai kain cadar berwarna senada, hanya menyisakan sepasang mata cokelat yang menatap lurus ke depan—tepat ke arah pria yang baru beberapa jam lalu sah menjadi suaminya di mata agama dan hukum.
Pria itu adalah Afgansyah Reza. Bukan sekadar nama, melainkan sebuah institusi ketakutan di dunia bawah tanah.
Afgan adalah Tuan Mafia yang memegang kendali penuh atas seluruh jalur perdagangan logistik dan properti elit di benua ini. Ia memonopoli pasar tanpa perlu mengotori tangannya dengan darah secara langsung; cukup dengan satu jentikan jari dan tatapan yang mencekam, musuh-musuhnya akan menyerahkan segalanya secara sukarela—daripada harus berhadapan dengan kekejamannya di meja negosiasi.
Kini, pria bertubuh tegap dengan balutan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku itu duduk di sofa kulit tunggal. Kaki jenjangnya bersilang dengan penuh kesombongan. Di tangannya terdapat gelas kristal berisi cairan keemasan yang hanya ia putar perlahan, menciptakan bunyi denting es batu yang mencekam. Sorot matanya yang sekelam malam tanpa bintang menatap Titah dari ujung kepala hingga ujung kaki, penuh dengan penilaian yang merendahkan.
"Kenapa kau diam?" desis Afgan, meletakkan gelasnya dengan bantingan pelan ke atas meja kaca. Ia bangkit berdiri. Sepatu kulit mahalnya mengetuk lantai saat ia berjalan mengelilingi Titah, layaknya predator yang sedang mengukur kekuatan mangsanya.
"Apakah kain hitam yang menutupi wajahmu itu juga menutupi pita suaramu? Atau kau sedang menyusun skenario tangisan palsu seperti wanita-wanita lain yang pernah dikirim ayahku?"
Titah menarik napas pelan. Wangi kopi hitam, tembakau mahal, dan bahaya murni menguar kuat dari tubuh pria yang kini berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka hanya tersisa dua langkah; tingginya yang menjulang membuat Titah harus sedikit mendongak untuk menatapnya.
"Nama saya Titah Kesumawardani, Tuan," jawabnya akhirnya. Suaranya halus, mengalun lembut namun berdiri di atas pondasi ketegasan yang tak tergoyahkan. Tak ada getar ketakutan, tak ada isak tangis yang diharapkan Afgan.
"Dan saya tidak dikirim sebagai barang tebusan ataupun pajangan. Saya berada di sini atas kesepakatan pernikahan yang sah—yang Anda sendiri pun ikut menandatanganinya."
Afgan mendengus keras, tawa sinis tanpa sedikit pun humor lolos dari bibirnya. Ia mencondongkan wajah ke depan, berusaha mencari celah ketakutan di mata cokelat yang jernih itu. Namun ia tak menemukannya. Hal itu justru membuat rahangnya semakin mengeras.
"Kesepakatan," ulang Afgan dengan nada penuh cemooh.
"Dengar baik-baik, Nona. Bagiku, kau hanyalah solusi praktis untuk membungkam rengekan ayahku soal 'penerus' dan 'sosok ibu'. Tugasmu di sini hanya satu: mengurus anakku. Buat dia berhenti menghancurkan isi rumah ini. Selebihnya, kau tak punya eksistensi apa pun."
Afgan menunjuk ke arah lantai atas dengan dagunya.
"Jangan pernah mencampuri urusanku. Jangan berani melangkah masuk ke ruang kerjaku. Jangan menyentuh barang-barangku. Dan yang paling penting..." Pria itu merendahkan suaranya menjadi bisikan yang mematikan.
"Jangan pernah berharap aku akan menyentuhmu, apalagi mencintaimu. Wanita di mataku hanyalah makhluk parasit pengkhianat yang pandai bersandiwara."
Sejenak, bayangan masa lalu yang kelam berkelebat di mata Afgan. Pengkhianatan mantan istrinya—wanita yang meninggalkannya dan putra mereka demi pria lain saat ia berada di titik terendah—telah membunuh separuh jiwanya. Sejak saat itu, hati Afgan tertutup rapat oleh dinding baja.
Namun alih-alih hancur mendengar kata-kata kasar itu, mata Titah justru memancarkan ketenangan yang membuat Afgan merasa aneh.
"Itu kesepakatan yang sangat mudah dan masuk akal, Tuan Afgansyah Reza," sahut Titah cepat, memutus rantai intimidasi pria itu.
"Saya sama sekali tidak mengharapkan cinta Anda, apalagi sentuhan Anda. Saya akan menjalankan kewajiban saya sebagai pengasuh dan ibu sambung bagi putra Anda dengan sebaik-baiknya. Selebihnya, saya harap Anda juga menghargai ruang pribadi dan batasan saya."
Alis tebal Afgan bertaut tajam. Seumur hidupnya, tak ada yang berani menatap matanya selama ini saat ia sedang murka—apalagi membalas ucapannya dengan logika sedingin itu. Para wanita biasanya akan berlutut menangis atau merengek mencari perhatiannya. Tapi wanita di hadapannya ini... ia seolah sedang berbicara dengan rekan bisnis yang setara.
Tiba-tiba, rasa penasaran yang gelap menguasai Afgan. Tangan besarnya terulur dengan gerakan kilat, berniat menarik kain hitam yang sejak tadi mengganggu pandangannya.
"Kalau begitu, mari kita mulai dari kejujuran mutlak. Buka kain ini. Aku benci rahasia di rumahku sendiri. Aku berhak melihat wajah wanita yang kini memakai nama belakangku."
Namun sebelum jari-jari Afgan sempat menyentuh kain itu, Titah memundurkan tubuhnya dengan refleks luar biasa dan menepis punggung tangan pria itu. Sentuhan yang hanya berlangsung satu detik, namun cukup untuk membuat seluruh pengawal di ruangan itu menahan napas ngeri. Berani sekali wanita itu menepis tangan Sang Penguasa!
"Jangan. Sentuh. Cadar saya," tekan Titah. Kali ini nada suaranya berubah berat, penuh peringatan tegas.
"Ini bukan rahasia. Ini bentuk ketaatan saya kepada Tuhan saya. Anda memang suami saya, tapi hak Anda memiliki batas mutlak jika itu bertentangan dengan keyakinan dan prinsip saya. Di luar rumah, atau saat ada orang lain selain Anda di ruangan ini, cadar ini tak akan pernah terlepas."
Afgan membeku. Tangannya yang ditepis menggantung di udara beberapa detik sebelum ditarik kembali. Matanya menyipit, memancarkan aura membunuh yang biasanya membuat lawan bisnisnya menyerahkan seluruh aset mereka malam itu juga.
"Kau berani mengaturku, di istanaku sendiri?" geramnya rendah.
"Saya tidak mengatur Anda. Saya sedang menjaga kehormatan saya," jawab Titah lugas tanpa ragu.
"Jika Anda pria sejati dengan akal sehat, Anda akan menghargai prinsip wanita yang kini berada di bawah tanggung jawab Anda—bukan memaksanya layaknya preman jalanan."
Keheningan yang mematikan menyelimuti ruangan raksasa itu. Para pelayan menunduk semakin dalam, merapalkan doa keselamatan dalam hati.
Afgan menatap mata cokelat itu lekat-lekat. Ada dinding baja yang melapisi tatapan wanita itu. Egonya tertampar keras, namun di sudut hatinya yang paling gelap, sesuatu yang bernama ketertarikan mulai berdenyut perlahan.