"Kau pikir dengan membuat putraku berhenti menangis semalam, kau sudah berhasil menaklukkan neraka ini, Titah? Jangan terlalu cepat berpuas diri. Ingat satu hal: iblis sebenarnya di rumah ini baru saja terbangun."
Suara Afgan yang dingin dan rendah menyambut langkah pertama Titah di ruang makan utama pagi itu.
Ruangan raksasa bergaya Victorian klasik itu didominasi nuansa marmer hitam dan aksen emas berkilau. Di ujung meja makan panjang kayu eboni solid, Afgan duduk tegak layaknya seorang kaisar yang sedang menghakimi tawanannya. Pria itu telah mengenakan setelan jas three-piece berwarna abu-abu gelap buatan penjahit ternama Italia—tampil tanpa cela, mematikan, sekaligus luar biasa tampan.
Titah menghentikan langkahnya sejenak. Mata coklatnya yang tenang dari balik cadar menatap lurus ke arah pria arogan di ujung meja. Tak ada raut terkejut. Tak ada getar ketakutan sedikit pun.
"Selamat pagi, Titah," ucap Afgan dengan nada sedingin es.
"Selamat pagi juga untuk Anda, Tuan Afgan," balas Titah datar namun tetap berkebangsawanan, sepenuhnya mengabaikan ancaman tersirat pria itu.
"Saya tidak pernah berpikir untuk menaklukkan neraka. Saya hanya berusaha memastikan putra Anda tidak terbakar di dalamnya."
Rahang Afgan mengeras seketika. Gelas kopi yang baru hendak diangkatnya kembali diletakkan dengan bantingan pelan di atas meja.
Sialan, umpatnya dalam hati. Wanita ini selalu punya jawaban tajam untuk setiap serangannya.
Dan yang paling membuatnya gila adalah nada suara Titah—begitu tenang, begitu anggun, seolah Afgan hanyalah anak kecil yang sedang merajuk, bukan bos mafia yang ditakuti di seluruh daratan Eropa dan Asia.
Titah melangkah mendekat. Alih-alih duduk di kursi sebelah kanan Afgan—tempat yang secara tradisi dikhususkan bagi nyonya rumah—wanita bergamis marun gelap itu justru melintas di samping suaminya, lalu menarik kursi di bagian tengah, tepat di sebelah kursi kecil milik Arga.
"Apa yang kau lakukan?" tegur Afgan tajam, matanya menyipit berbahaya. "Tempatmu ada di sebelahku."
"Saya rasa kesepakatan kita semalam sangat jelas: Anda membenci kehadiran saya, dan saya menghargai ruang pribadi Anda," jawab Titah seraya duduk dengan punggung tegak sempurna. "Lagipula, Arga membutuhkan saya lebih dari Anda."
Tepat saat nama itu disebut, pintu ruang makan terbuka. Arga melangkah masuk, didampingi dua pelayan yang berjalan menunduk di belakangnya. Bocah itu masih tampak murung, namun saat mata hitam kelamnya menangkap sosok berbaju tertutup di meja, wajahnya seketika berubah cerah.
"Tetah!" seru Arga.
Panggilan "Tante Titah" yang terlalu sulit diucapkan lidah kecilnya berubah menjadi sapaan sayang yang mendadak membuat suasana ruangan menjadi asing.
Arga setengah berlari, mengabaikan panggilan ayahnya, lalu langsung memanjat kursi di sebelah Titah. Tanpa ragu—anak yang biasanya akan berteriak histeris jika disentuh siapa pun—ia kini menyandarkan kepalanya lembut di lengan Titah.
Titah tersenyum di balik cadarnya. Matanya menyipit membentuk lengkungan bulan sabit yang menenangkan, sementara tangannya terulur mengusap puncak kepala Arga dengan penuh kasih sayang.
"Selamat pagi, Jagoan. Tidurnya nyenyak?"
Arga mengangguk pelan.
"Nyenyak. Tetah semalam wanginya enak, Arga suka."
Di ujung meja, Afgan membeku. Tangannya yang mencengkeram gagang garpu perak hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol jelas. Ia menatap pemandangan di hadapannya dengan perasaan campur aduk—sebuah rasa cemburu yang tak masuk akal menyusup perlahan ke dadanya. Putranya, darah dagingnya sendiri yang selalu menatapnya dengan ketakutan atau kemarahan, kini bersikap begitu manja pada wanita asing yang wajahnya pun belum pernah ia lihat?
"Arga, duduk yang benar. Ini meja makan, bukan tempat tidur," tegur Afgan dengan suara bariton yang tegas dan kaku.
Arga seketika tersentak. Ia buru-buru menegakkan tubuhnya, menunduk dalam, dan bayang ketakutan kembali menutupi wajahnya. Titah melirik Afgan sekilas—tatapan tajam yang tak terbantahkan, seolah berkata: Haruskah Anda selalu merusak suasana seperti ini?
"Tidak apa-apa, Arga. Ayo kita sarapan. Arga mau makan apa? Tante ambilkan," tawar Titah lembut, sengaja mengalihkan perhatian bocah itu dari bayang-bayang ayahnya.
Pelayan mulai menyajikan hidangan mewah. Namun saat sepiring brokoli rebus diletakkan di depan Arga, bocah itu langsung menutup mulutnya rapat-rapat.
"Buang! Arga nggak mau sayur hijau! Pahit!" tolaknya keras kepala.
Afgan menghela napas kasar, bersiap melontarkan bentakan yang biasanya berakhir dengan tangisan Arga. Namun sebelum mulutnya terbuka, Titah sudah lebih dulu bertindak.
"Oh? Arga tidak mau?" Titah berpura-pura terkejut, lalu mendekatkan piring itu ke arahnya. "Padahal Tante baru mau bercerita soal rahasia pohon ajaib ini."
Arga yang sudah bersiap menangis tiba-tiba terhenti. Matanya mengintip dari sela-sela jari.
"Pohon ajaib?"
"Iya." Titah memotong sepotong kecil brokoli. "Ini bukan sayur. Ini miniatur pohon dari hutan raksasa. Kalau Arga memakannya, kekuatan raksasa di dalamnya akan pindah ke tubuh Arga. Itulah sebabnya orang dewasa badannya besar dan kuat—karena mereka rajin makan pohon ajaib."
Afgan mendengus sinis dari ujung meja. Omong kosong apa ini? batinnya meremehkan. Arga bukan anak bodoh yang bisa ditipu dongeng murahan begitu.
Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat rahang Afgan nyaris jatuh ke meja.
Arga menatap brokoli itu dengan mata berbinar penuh penasaran.
"Kalau Arga makan, Arga bisa sekuat Papa? Bisa mengalahkan monster?"
"Bahkan jauh lebih kuat dari Papa," jawab Titah meyakinkan, sempat melirik sekilas ke arah Afgan dengan kilatan mata yang jahil namun tenang.
Arga ragu sejenak, lalu perlahan membuka mulutnya. Titah menyuapkan potongan itu. Arga mengunyahnya dengan wajah sedikit meringis, namun ia tetap menelannya.
"Wah! Tante lihat deh, otot kekuatan Arga mulai tumbuh!" seru Titah antusias. Arga pun tertawa kecil—suara tawa jernih yang pertama kali terdengar di rumah itu setelah sekian lama.
Afgan terpaku diam. Ia sang penguasa dunia bawah yang bisa menundukkan ratusan pasukan bersenjata hanya dengan satu kalimat ancaman, ternyata dikalahkan begitu saja oleh seorang wanita bercadar dan dongeng tentang pohon ajaib.
"Pintar sekali kau bersandiwara menjadi ibu peri pagi ini, Nona," cibir Afgan saat Arga sibuk meminum susunya. Sarkasme tajam menyelimuti suaranya, berusaha menutupi harga dirinya yang terkoyak.
Titah meletakkan garpunya dengan anggun. Ia menatap lurus ke arah Afgan.
"Saya tidak bersandiwara, Tuan Afgan. Saya hanya menggunakan hati saat menghadapi anak kecil—sesuatu yang tampaknya sudah lama mati di ruangan ini, karena terlalu sering dipakai hanya untuk menghitung keuntungan dan menindas musuh."