Istri Kontrak Sang Raja Mafia

Titah Kesumawardani
Chapter #3

Bab 3 - Sumpah Sang Pelindung yang Tak Diharapkan

"Jika agama dan Tuhanmu mengajarkan bahwa seorang istri harus menatap suaminya saat berbicara, lalu mengapa setiap kali aku melangkah maju, kau justru membuang muka seolah aku ini wabah penyakit, Titah?"

Suara bariton serak yang sarat frustrasi menggema di lorong lantai dua mansion. Pagi baru saja menyapa, namun ketegangan di antara dua manusia itu sudah sepanas terik matahari siang.

Titah menghentikan langkahnya. Tangannya yang sedang merapikan lipatan ujung khimar yang menjuntai hingga ke perut terhenti. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang, lalu berbalik perlahan. Dan matanya langsung dihadapkan pada pemandangan yang seharusnya membuat jantung wanita mana pun berhenti berdetak.

Afgan bersandar santai di kusen pintu kamarnya. Pria itu baru saja selesai mandi; rambut hitam pekatnya masih basah, meneteskan air yang mengalir turun melewati rahang tegasnya, menyusuri leher, hingga ke dada bidangnya yang terekspos sempurna. Ia tak mengenakan atasan sama sekali, hanya celana training hitam yang menggantung rendah di pinggul. Otot perutnya yang terbentuk sempurna bak pahatan dewa Yunani terpampang nyata, memancarkan aura maskulinitas yang liar dan memikat.

Namun alih-alih tersipu atau terpukau seperti yang ia harapkan, Afgan justru melihat istrinya segera menundukkan pandangan. Mata coklat Titah terpaku pada lantai marmer di bawah sepatu suaminya.

"Saya membuang muka bukan karena Anda wabah penyakit, Tuan Afgansyah Reza," jawab Titah tenang, suaranya sedingin es di kutub utara. "Saya hanya menjaga pandangan saya. Anda mungkin lupa, meski kita terikat pernikahan, Andalah yang menegaskan hubungan ini hanya sebatas kesepakatan di atas kertas. Saya tak akan menikmati pemandangan yang tidak disodorkan dengan keikhlasan hati."

Afgan mendecak kesal. Ia melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka. Aroma sabun peppermint bercampur feromon maskulinnya seketika menyelimuti ruang di sekitar Titah.

"Aku tak butuh dalih religiusmu pagi ini," desisnya. Ia sengaja mencondongkan tubuh, berusaha masuk ke garis pandang Titah yang menunduk. "Tatapanmu semalam saat menantangku di bawah tangga begitu berani. Ke mana perginya singa betina itu sekarang? Kenapa kau bersembunyi di balik kainmu?"

"Saya tidak bersembunyi. Saya sedang bersabar," balas Titah, lalu mundur selangkah, tetap tak mengangkat wajahnya. "Dan jika Anda memiliki sedikit rasa hormat pada diri sendiri, Tuan, Anda akan memakai pakaian sebelum berbicara dengan saya. Saya permisi, Arga sudah menunggu untuk sarapan."

Tanpa menunggu balasan, Titah berbalik cepat dan melangkah pergi dengan keanggunan yang tak tertembus. Ujung gamis hitamnya berdesir menyapu lantai, meninggalkan Afgan yang mematung dengan rahang mengeras.

Afgan mengusap wajahnya kasar. "Sialan," umpatnya pelan. Wanita itu benar-benar menguji batas kewarasannya. Seumur hidupnya, ia selalu ditatap dengan pujaan, ketakutan, atau gairah. Namun Titah? Wanita itu menolaknya seolah tubuh atletis seorang mafia yang bernilai triliunan dolar ini tak lebih dari onggokan kayu tak berguna.

Rasa penasaran yang gila semakin menggerogoti akal sehatnya. Ia ingin meruntuhkan benteng kesopanan itu. Ia ingin melihat mata coklat itu memancarkan keputusasaan, memohon padanya. Afgan menyeringai tipis—rencana licik mulai terbentuk di kepalanya. Jika Titah menolak menatapnya, maka dialah yang akan membuat wanita itu tak punya pilihan lain.

 

Di ruang makan, Arga duduk manis di kursinya. Wajah bocah yang biasanya murung kini tampak cerah. Di hadapannya, Titah sedang memotongkan pancake menjadi potongan kecil.

"Tetah, hari ini kan Minggu. Guru les Arga libur," ucap Arga dengan mulut penuh sirup mapel. "Arga mau jalan-jalan. Boleh?"

"Tentu saja boleh, Sayang," jawab Titah lembut, matanya menyipit tersenyum di balik cadar. "Mau ke mana? Taman? Atau beli buku cerita baru?"

"Mau ke mal! Arga mau beli lego robot yang besar banget!" serunya antusias.

"Baiklah. Setelah sarapan kita bersiap, ya."

Tepat saat kalimat itu usai, suara langkah sepatu kulit berat terdengar memasuki ruangan. Afgan muncul, kali ini dengan penampilan jauh lebih rapi: kemeja warna navy digulung hingga siku dan celana jeans hitam. Penampilan kasual itu justru membuat ketampanannya terlihat semakin mengintimidasi.

"Siapa yang bilang kalian boleh pergi berdua saja?" potongnya tiba-tiba. Ia menarik kursi di sebelah Arga dan duduk dengan gaya arogan khasnya, menatap tajam ke arah Titah. "Dunia di luar sana terlalu berbahaya untuk pewaris Afgansyah Reza berkeliaran hanya didampingi seorang pengasuh."

"Saya bukan sekadar pengasuh. Saya ibunya sekarang. Dan saya cukup mampu menjaga Arga," balas Titah tenang, menuangkan air putih untuk anak itu tanpa membalas tatapan Afgan. "Lagipula, pengawal Anda sudah menyebar menyamar. Tak perlu berlebihan."

"Aku ikut," putus Afgan final.

Titah dan Arga menoleh bersamaan. Arga tampak terkejut setengah takut, sementara Titah berkerut di balik cadarnya.

"Papa mau ikut ke mal?" cicit Arga pelan.

Seumur hidupnya, ayahnya tak pernah sekalipun menginjakkan kaki di tempat umum seperti pusat perbelanjaan. Jika ia menginginkan sesuatu, asisten ayahnya akan memborong seluruh toko dan membawanya ke rumah.

"Kenapa? Kau tak suka papamu ikut?" tanya Afgan datar.

Arga buru-buru menunduk, takut salah bicara. "S-suka, Pa."

Titah menghela napas pelan, menyadari kecanggungan anak itu. Ia menatap lurus ke mata Afgan.

"Jika Anda ikut, saya punya satu syarat mutlak."

Alis Afgan terangkat, terhibur dengan keberanian wanita ini. "Kau memberiku syarat di wilayah kekuasaanku sendiri?"

"Jika tak setuju, silakan diam di rumah," tantang Titah tak ragu.

"Syaratnya: bersikaplah seperti ayah biasa. Tak ada iring-iringan mobil anti-peluru. Tak ada pengawal berjas hitam yang mengerumuni kita seperti lalat. Dan yang terpenting, jangan pernah berpikir mengosongkan mal hanya karena Anda tak suka keramaian."

Rahang Afgan mengetat kaku.

"Kau memintaku—bos dari seluruh jaringan bawah tanah kota ini—berjalan di tengah kerumunan tanpa pengaman? Kau gila?"

"Saya sangat waras," balas Titah tajam. "Arga butuh bersosialisasi. Dia butuh dunia nyata, bukan dunia buatan yang Anda isolasi untuknya. Anda selalu menanamkan ketakutan bahwa semua orang ingin menyakitinya. Jika Anda memang sekuat yang Anda klaim, Anda pasti bisa melindungi putra Anda di tengah orang banyak tanpa harus merampas kegembiraan anak-anak lain."

Afgan mengepalkan tangan di bawah meja. Wanita ini tahu persis cara memukul harga dirinya di titik paling mematikan. Menuduhnya lemah secara halus? Sialan.

"Baik," desisnya akhirnya, mata berkilat berbahaya. "Hanya kita bertiga. Dika dan anak buah memantau dari jauh. Tapi jika sesuatu terjadi pada Arga, aku pastikan kau menyesal pernah dilahirkan, Titah."

"Saya berani bertaruh nyawa untuk Arga," jawab Titah mantap. Ia beralih menatap anak itu dengan nada selembut kapas. "Ayo habiskan susunya, Jagoan. Kita berangkat."

Afgan menatap punggung berbalut kain hitam itu dengan dada bergemuruh. Persetan dengan kesepakatan. Wanita ini tak sekadar masuk ke rumahnya, tapi perlahan mulai mengambil alih hati putranya. Dan ironisnya, ia tak membenci hal itu.

 

Lihat selengkapnya